Friday, 24 June 2016

Smoker on The Road

Mungkin kalian, khususnya pengendara sepeda motor, pernah mengalami kejadian 'tersemprot' asap rokok saat berkendara di Jalan. Bagaimana ya menjelaskannya?
Jadi kita ada di belakang pengendara motor yang sedang melaju dan dia juga sedang merokok.
Kebayang dong asapnya bakal ke mana? Ya ke belakang kita.
Dan rasanya itu hampir sama kaya kena semprot asap knalpot truk atau bus yang hitam seperti awan hujan badai. Nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Nggak enak.
Terkadang aku pikir mereka sadar nggak sih yang mereka lakukan itu.... JAHAT!
Sebenarnya bukan hanya pengendara motor. Pengendara mobil pun begitu. Mereka dengan 'watados'-nya membuang abu ke jalan melalui jendela. Tanpa disadari abu itu mengenai pengemudi motor yang berada di belakangnya.
AAAAAA!!!!!
Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap smoker on the road ini.
Sedihnya lagi, mereka tidak hanya merugikan orang lain tetapi juga lingkungan. Udah merokok sambil mengendarai, asapnya kena orang lain, buang abu dan puntung rokoknya juga sembarangan.
Malu gak sih?
Nggak.
Kalau malu mereka nggak mungkin seperti itu. Sedih, ya? Banyak banget orang egois.
Sebagai pengendara motor yang tidak merokok ingin rasanya aku mengeluarkan sumpah serapah kepada mereka yang merokok dan buang puntungnya gitu aja.
True, aturan denda, larangan merokok di tempat umum atau apapun di negara ini seakan hanya menjadi hiasan. Sangat sedikit mereka yang peduli. Apa namanya kalau bukan egois?

Wednesday, 22 June 2016

Aku

"Aku harus jadi seseorang. 
Aku nggak mau boleh jadi orang yang biasa-biasa aja."

Bahkan jika setelah aku menikah dan berkeluarga, aku nggak mau hanya jadi orang yang sekedar menjalani hidup apa adanya. Banyak orang khususnya perempuan yang 'berhenti' setelah dia menikah lalu kemudian punya anak. Entah itu berhenti bekerja atau berhenti mengejar cita-citanya dengan alasan 'demi anak'. Lain halnya jika suaminya melarang sang istri untuk bekerja.  
Memang tidak ada yang salah dengan menjalani hidup apa adanya. 
Tapi aku nggak akan menjadikan pernikahan dan berkeluarga menjadi penghalang untuk terus berkembang, meraih cita-cita, dan menjadi seseorang. 

Aku akan jadi seseorang yang sukses. Aku harus jadi orang yang sukses karena aku nggak mau selamanya hidup jadi orang yang biasa aja. Aku nggak mau selamanya jadi karyawan yang dari hari Senin-Jumat bahkan Sabtu harus pergi ke kantor dan bekerja di sana selama 8 jam atau lebih. 
Nggak mau selamanya jadi orang yang bahagia hanya saat weekend datang dan sedih saat tahu besok adalah hari Senin. Nggak mau keuangan aku ditentukan oleh tanggal tua atau muda. Nggak mau waktu aku diatur sama jam kerja. Berharap kalender itu warnanya merah semua(?)

Ya, aku ingin jadi orang kaya. Siapa yang tidak mau?
"Kalau kamu (perempuan) mau jadi kaya ada dua pilihan: nikah sama anak orang kaya atau sama om-om  (kaya)." 
Akui saja, itu quotes yang realistis enough to do(?). 
HAHAHA. 
Banyak yang memilih cara itu dan tidak ada yang salah. Terserah saja. 
Siapa yang nggak mau hidup 'mapan'?

Aku?
Aku mau. Hanya saja dari dulu aku tidak punya prinsip seperti quotes tadi: membuat 'kualifikasi' dari harta yang dimiliki seseorang atau orangtuanya. Nggak. 
Aku lebih suka seseorang yang berusaha. dan aku menemukan itu dalam dirinya. :)
Quotes itu nggak mutlak. 
Aku bisa kaya tanpa harus menikah sama kategori orang yang disebut quotes itu. 
Aku bisa kaya karena usaha aku dan dukungan dari orang-orang yang aku sayang. Aku sadar aku banyak banget maunya. Pergi ke sana, ke situ, beli ini-itu, ajak jalan-jalan keluarga, jajan, makan makanan enak,beliin dia ini-itu, pake aplikasi berbayar jadi premium, banyak banget.

Itu kenapa aku harus jadi 'seseorang'. 

Friday, 18 March 2016

Untitled - Part 1



“ANJ*NG LO!”  Terdengar suara Ayah disusul dengan suara benda yang dibanting. Entah apa yang dia banting, yang aku tahu sumpah serapah itu ditujukan pada Ibu. Aku duduk bersandar dibalik pintu kamar dengan tatapan kosong memeluk kedua lutut.

Tidak ada perempuan yang tidak sedih saat mendengar perkataan kasar keluar dari orang yang dia sayangi. Tidak ada. 

Ini memang bukan pertama kalinya aku mendengar Ayah membentak dan memarahi Ibu seperti itu. Tapi ini kesekian kalinya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku, Ibu.
Masih terdengar suara Ayah dengan nada tinggi mengulang-ulang perkataannya. Perkataan yang tidak sepantasnya dilontarkan begitu saja kepada wanita yang sapai saat ini menjadi teman hidupnya saat susah dan senang.
Ibu tidak sengaja me-reject telepon dari Kakak yang sedang tugas ke luar kota dan aku rasa itu bukan masalah. Kenapa Ayah harus marah-marah? Kalaupun memang ada masalah lain yang aku tidak tahu, dia tidak seharusnya bersikap seperti itu pada Ibu.
Aku malu. Suara Ayah pasti terdengar sampai ke rumah sebelah. Meskipun sebenarnya aku tidak peduli dengan apa yang akan mereka pikir terhadap keluargaku, tapi aku malu. Mereka pasti merasa terganggu dengan ini.
Ayah, Apa Ayah benar-benar mencintai Ibu?
***
“Kenapa Ibu tidak berpisah saja dengan Ayah?” Pertanyaan ini membuat komik yang sedang dibaca Kakak mendarat di kepalaku.
“Aw!”
“Kamu kalau ngomong jangan asal! Ucapan itu doa!”
“Aku nggak lagi berdoa, aku cuma nanya.” Aku melempar balik komik itu.
“Kenapa kamu nanya kaya gitu?”
“Kalau berpisah dengan Ayah bisa membuat mereka bahagia, kenapa nggak?”
Kakak terdiam, melanjutkan membaca komiknya.
Aku tahu sekarang dia tidak sedang benar-benar membaca. Tatapannya kosong.

Selama ini, sekecewa apapun aku, Kakak, dan Ibu, kami tidak pernah mengeluh apa lagi marah-marah pada Ayah. Ibu mengajarkan aku dan Kakak untuk tetap menghargai Ayah sebagai kepala keluarga. Seharusnya Ayah tahu itu. Seharusnya Ayah juga tahu bagaimana menghargai wanita yang sudah bersedia menjadi pasangan hidupnya.

“Kita doakan saja semoga Ayah berubah.” Perkataan yang sering Ibu katakan setiap tahu aku diam, menahan marah pada Ayah. Aku dapat merasakan harapan yang Ibu punya setiap beliau mengatakan itu. Tapi mungkin Ibu tidak tahu di dunia ini ada teori tentang people don’t change.
Atau mungkin Ibu tahu, beliau hanya pura-pura tidak tahu.

Terkadang aku takut suatu hari setelah aku menikah, suamiku nanti akan seperti Ayah yang suka berkata kasar dan marah-marah saat merasa kecewa. Aku tidak mau diperlakukan seperti itu. Aku tidak sekuat Ibu. Aku takut, Bu.

Setidaknya tidak semua laki-laki di dunia ini sama.
Itu yang membuatku masih memiliki harapan dipertemukan dengan laki-laki yang tahu bagaimana seharusnya memperlakukan perempuan sekalipun saat dia merasa kecewa.

***

Monday, 14 March 2016

Matilda

Aku suka membaca.
Setidaknya itu yang aku suka sejak aku masuk sekolah (read: TK).
Saat jam istirahat atau jam pulang sekolah aku masuk ke perpustakaan dan membaca. Jadi, jika Ayah  datang menjemput dan tidak menemukanku di kelas atau taman bermain, itu berarti aku berada di perpustakaan.
Alasan lain kenapa aku suka perpustakaan adalah AC.
Ya enak aja gitu, adem. #mulai
.
.
I'm not that nerd.
Aku juga suka bermain menyusun balok, manjat-manjat, main ayunan bersama teman-teman.
Kakak sepupuku punya banyak buku di rumahnya. Aku senang saat melihat tumpukan atau susunan buku yang rapi di rak dan aku bisa membacanya kapan saja.
Mungkin ini salah satu alasan kenapa aku suka mengkhayal.
Saat aku membaca, aku membayangkan apa yang aku baca. Dan itu menyenangkan.

Matilda adalah salah satu buku yang pernah aku baca dan saat ini aku seperti ingin membacanya kembali. Buku karya Roald Dahl ini memang bagus-bagus.

Suatu hari, kelak ketika aku punya anak, aku akan membuat perpustakaan kecil di rumah. Perpustakaan yang menyenangkan!

Thursday, 3 March 2016

Just Do It

Aku baru saja membaca sebuah buku cerita yang menginspirasi dan ingin membagikannya pada kalian dengan judul yang sama, Just Do It.



Source: 101 Kisah Inspiratif – Assep Purna

Mungkin ada beberapa orang yang pernah membaca cerita ini. Pada saat kembali dari pelayarannya mencari India, Columbus dijamu dalam sebuah pesta besar. Ditengah-tenga pesta, Columbus bercerita pada orang yang mengelilinginya. Mulai dari awal persiapan hingga berbagai hal menarik yang ia temui saat berlayar. Orang-orang kagum mendengar ceritanya.

Di kejauhan, beberapa orang yang iri mulai berkomentar, “Ah, apa yang istimewa darinya? Semua orang juga  bisa berlayar dan menemukan benua baru. Itu biasa.”
Komentar ini lalu disampaikan oleh seorang sahabat Colombus.
Hal itu membuat Colombus tersenyum dan tertarik untuk mematahkan pendapat orang-orang iri itu. Ia meminta sebuah meja dan  telur rebus yang masih utuh kulitnya. Lalu menantang, “Siapapun yang bisa membuat telur ini berdiri tegak pada ujungnya di atas meja, akan mendapatkan semua gelar yang kumiliki dan seluruh harta kekayaanku.”

Orang-orang yang iri tadi mengambil tantangan tersebut. Mereka berusaha menegakkan telur itu di atas meja. Tentu saja tidak ada yang berhasil karena setiap telur di dunia berbentuk elips yang tidak mungkin bisa tegak.

Colombus akhirnya maju setelah semuanya menyerah. Ia lalu meretakkan bagian ujung telur tersebut dengan menekannya keras-keras ke atas meja. Telur itu sekarang berdiri tegak karena ujungnya sudah tidak bulat lagi.
Namun, reaksi orang-orang yang iri tersebut, “Kalau begitu caranya kami juga bisa.”
“Lalu mengapa tidak kalian lakukan?” Jawab Colombus.


Kadang yang membedakan pecundang dan pemenang hanyalah soal apa yang sudah mereka lakukan, bukan apa yang sedang mereka pikirkan.

Tuesday, 1 March 2016

Welcomaret!

It's never too late to say share sorry story. 
Cause I'm missing more than just your body ~ #Lah #Nyambung

Haloo!
Meskipun sekarang bulan Juni, tapi tulisan ini adalah cerita tentang bulan Maret.
Aku lupa apa aku pernah tulis salah satu keinginan yang ini apa belum: Resign (dari kantor lama).
Kayaknya belum, sih. 
Aku memang nggak begitu banyak cerita tentang keinginanku yang satu ini. Hanya orang-orang terdekat aku aja yang tahu betapa inginnya aku keluar dari sana. Salah satu alasannya adalah jenuh. Aku merasa aku tidak akan maju dan berkembang kalau tetap berada di sana. Kehidupanku akan gitu-gitu aja dan aku nggak mau. Aku nggak mau 'gitu-gitu aja'.
Entah kenapa aku yakin banget aku akan bisa menjadi lebih maju dan lebih baik kalau aku keluar dari sana. Aku bahkan masih ingat saat Ramadan tahun lalu, aku bilang sama diri aku sendiri "Ini adalah puasa terakhir aku di sini." 

Sebenarnya simple, kalau mau resign ya resign aja. Ribet amat lu, Sa. 
Iya, kan?
Tapi kenyataan tidak se-simple itu. Khususnya bagi orang-orang seperti aku kalau aku resign begitu saja. 
Mungkin kalian tahu kalau ada rumus:
RESIGN* = BUNUH DIRI  
*belum dapat pekerjaan baru.

dan rumus mengerikan itu berlaku untukku. 
Ini adalah kenyataan tersesak yang pernah aku rasakan. Aku harus punya pekerjaan baru sebelum aku mengajukan resign. 
Aku harus tetap bekerja sampai aku dapat pekerjaan baru. 
Saat itu aku menjalani hari dengan agak terpakasa karena aku tidak punya pilihan lain selain bertahan, setidaknya untuk sementara.
Tidak perlu dibayangkan bagaimana rasanya menjadi aku saat itu.
Seperti robot, setiap hari aku harus memaksa diriku untuk pergi ke tempat yang aku tidak ingin. Setiap hari aku harus melakukan pekerjaan yang aku sudah tidak ingin mengerjakannya. Demi bertahan hidup. Demi uang.  

Aku sering mengeluh sampai Ayah dan Ibu mengingatkanku untuk ikhlas. "Bekerja itu ibadah. Jangan berhenti berdoa dan berusaha." 
Setiap hari, di sela-sela jam kerja, aku mencari informasi lowongan kerja, mengirim lamaran kerja melalui email, dan membuat akun di berbagai platform lowongan kerja kemudian mengirim lamarannya. 
Satu minggu, dua minggu, tidak ada tanda kalau aku diterima atau diundang untuk interview. 
Aku sempat berpikir kalau situs pencari lowongan pekerjaan itu bohong, php. Padahal, mungkin memang kualifikasi yang aku punya tidak cocok dengan mereka. Aku tidak menyerah. Kakak pernah bilang "Dari ratusan lamaran yang kamu kirim, pasti ada satu yang masuk." dan aku percaya.

Suatu hari ada panggilan interview pertama di perusahaan cctv. Aku senaaaang sekali. 
Namun, aku tidak mengambil kesempatan itu karena lokasinya yang sangat jauh. 

Setelah itu aku tidak mendapat panggilan interview dari manapun selama beberapa bulan. Padahal, aku terus mengirim lamaran pekerjaan.  
Pernah dengar orang bilang "Mendapatkan pekerjaan itu susah." ?
Ya, itu benar. Bahkan untuk orang yang sudah sarjana sekalipun karena kenyataannya memang begitu. Di satu sisi, aku bersyukur aku bisa bekerja di saat ratusan bahkan ribuan orang belum mendapat pekerjaan. Tapi di sisi lain, aku tidak ingin selamanya seperti ini. 

Sekitar bulan apa (#lupa) di 2015, satu lamaran kerja aku diterima dan aku diundang untuk mengikuti psikotest di salah satu super market di Bandung. Bisa dibilang, itu pertama kalinya aku mengikuti psikotest kerja. Ada sekitar 20 orang yang mengikuti psikotest dan hanya akan ada satu orang yang diterima.  Aku sempat berpikir "Apa mereka semua ini 'saingan'ku?" Dari situ aja kita sudah bisa dilihat banyak banget orang yang mencari pekerjaan. Saat interview, aku sudah feeling nggak akan diterima. Tapi tidak jadi masalah juga karena aku tidak begitu 'sreg' sama sistemnya. 
Lagi, aku harus bersabar. :)

Di saat aku mulai hopeless, ada telepon dari tempat les bahasa Inggris yang aku lamar. Rasanya? Aku suka bahasa Inggris. Aku senang banget! Mereka memintaku datang untuk interview. Eh, ternyata ada test lagi! Test excel yang aku nggak ngerti harus pakai rumus apa, tapi aku kerjakan sebisanya. Saat interview, aku merasa kurang nyaman dan feeling lagi nggak keterima. 
Benar saja, setelah hari itu aku tidak dihubungi lagi yang berarti tidak diterima. Jujur cara "tidak dihubungi lagi" ini adalah cara tergajelas dalam dunia kerja. Aku pernah menulis tentang itu di sini
Padahal, aku sudah membayangkan betapa asiknya bisa bekerja di tempat les bahasa Inggris. :')
"Mungkin ini yang terbaik untuk aku." Aku bilang itu ke diri aku sendiri berulang-ulang buat menghibur diri. 

Kalau diingat lagi, ada satu hari setelah gajian aku menangis sampai sengguk-senggukan. Aku menangis di kantor. Kebetulan tempatku bekerja di bawah tangga dan tidak ada orang lain lagi selain aku.  Aku menelepon Mami sambil menahan tangis, "Mi, Sasa pengen resign." setelah itu tangisanku pecah karena aku tahu aku tidak bisa resign begitu saja. Aku tidak mau menambah beban orangtua. Tetapi aku tetap menangis. Mengulang kata "Sasa pengen keluar aja." meskipun itu tidak akan mengubah apa-apa. Aku tahu apa yang aku lakukan hanya kana membuat orangtuaku sedih. Tapi aku nggak bisa menyembunyikan perasaan aku saat itu. Maafin Sasa ya, Mi, Pi.

2016 datang. Awal tahun aku biasa menulis mimpi-mimpiku dan resign masih menjadi salah satunya.
Siang itu, aku mendapat email dari perusahaan yang menyebutkan aku diundang untuk wawancara. 
Tidak lama setelah itu, ada panggilan masuk dari perusahaan yang sama. Dia bertanya, "Sekarang posisinya masih bekerja apa sudah resign?" 
pertanyaan yang bikin dilema. Mau bilang udah resign, aku masih kerja. Kalau bilang masih kerja, takut nggak diterima. :(
Akhirnya aku bilang "Aku masih kerja. Tapi aku udah mau resign." 
"Hmm, yaudah kalau gitu besok datang dulu aja buat interview." 

Interview kali itu, membawaku keluar dari kantor yang lama. Aku sangat bersyukur. :")
1 Maret 2016, keinginanku untuk resign terkabul. Berkat doa orang tua dan dukungan orang-orang terdekat. Aku resign dan memulai cerita yang lebih bahagia. 
Alhamdulillah.
Begitulah awal Maretku.

Bingo Box


Thursday, 25 February 2016

Until It’s Gone


“You don’t know what you have until it’s gone.”

Kutipan ini cocok banget buat orang-orang yang jarang bersyukur dengan apa yang mereka miliki sekarang. ‘What you have’ yang aku maksud adalah orang-orang yang ada di kehidupanmu. (Bisa keluarga, pacar, teman, asisten rumah tangga, atau karyawan).

“Truth is, you knew what you had, you just NEVER thought you’d lost it.”

Jangan sampai kamu tahu apa yang kamu punya, tapi kamu nggak pernah kepikiran kalau mereka bisa pergi kapan aja. Biasanya, orang yang seperti itu adalah tipical orang sombong yang menganggap atau memandang remeh orang lain. Merasa dia bisa berdiri dan menjalani hidup sendiri tanpa harus menghargai orang-orang yang ada disekitarnya. Cukup ingat satu hal, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

Itulah kenapa sekecil apapun, kita harus bersyukur. Meskipun kita sering merasa kurang (bagaimanapun manusia tidak akan pernah merasa cukup). Bersyukurlah!
Bersyukur di sini bukan berarti kita pasrah menerima keadaan begitu saja loh, ya! Bukan berarti kamu menjalani hari-hari kamu dengan ‘yaudahlah’.

Pernah dengar istilah ‘rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau?’ Itu benar dan apa yang ada di sana akan selalu terlihat LEBIH dari yang kita punya. Dengan catatan jika kita tidak bersyukur.

“Rumput tetangga lebih bagus dan ada bunganya. Rumput rumah gue kering dan banyak hama. Yaudahlah bersyukur aja.”
No. Bukan gitu!
Kalau kamu merasa rumput tetangga lebih hijau, buatlah rumput halaman kamu lebih hijau seperti yang kamu inginkan. Jangan ikut-ikut tetangga. Kalau kamu suka rumput warna-warni, kenapa nggak? #iniApa

Maksudku, ketika kamu melihat apa yang dimiliki orang lain LEBIH BAIK dari yang kamu miliki dan berpikir kamu akan menjadi lebih baik jika kamu punya yang mereka punya, jangan langsung beranggapan yang kamu punya sekarang itu nggak baik.
Aku rasa hal yang paling benar adalah coba bicara pada mereka (orang yg kamu bandingkan) apa yang kamu inginkan, ajak mereka untuk menjadi lebih baik.  

Istilahnya, kebanyakan orang ‘tergoda’ karena melihat ‘rumput tetangga’ dan memutuskan untuk mencari, mendapatkan rumput yang lebih hijau. Dan baru merasa kehilangan setelah pergi. Baru sadar kalau yang selama ini mereka punya adalah yang terbaik.   
 Bersyukur Pasrah

Bersyukur juga nggak cuma bilang “gue bersyukur punya karyawan yang loyal,” misalnya.
Hargailah mereka. 
For instance, don’t take them for granted because she is just servant in their house.
Ingat, kamu nggak bisa melakukan semuanya sendiri tanpa mereka.
Menghargai mereka adalah salah satu cara kamu bersyukur dengan apa yang kamu punya.
Ada banyak cara menghargai orang-orang yang ada disekitar kita. Setidaknya, jangan melukai perasaan mereka dengan ucapanmu, jangan membuat mereka sedih karena sikapmu. Jangan lupa belajar berempati. Itu penting kalau kata aku.

Perlakukan orang-orang yang ada di sekitarmu dengan baik sebagaimana kamu juga ingin diperlakukan. Meskipun yang satu ini nggak menjamin orang lain akan balik berbuat baik sama kamu, sih. But, so what?
Setidaknya kita sudah berbuat baik. Jika suatu hari nanti mereka pergi dan kamu kehilangan mereka, ada kenangan baik yang ditinggalkan.
Pokoknya, jangan sampai kamu menyesal dan berharap waktu berputar kembali saat orang disekitarmu pergi.

Know what you have. They will not be there for you forever.

Friday, 19 February 2016

Cerita Bibi

“Kok tega bener gitu ya, Teh. Saya pulang cuma tujuh hari, gaji saya dipotong. Padahal selama enam bulan saya kerja sendirian. Ongkos pulang kampung juga nggak dikasih.” Mata Bibi berkaca-kaca sambil menunjukkan slip gajinya.  Tertulis gaji pokok dikurang tujuh hari tidak masuk, sehingga Bibi itu hanya mendapatkan sekitar 70% dari gaji yang seharusnya. Aku miris melihat jumlah angka yang dibayarkan sambil mengelus pundak Bibi yang ingin menangis.
“Bibi udah coba tanyain?”
“Sudah. Saya tanya kenapa kok perhitungan sekali. Saya selama ini kerja sendiri dan izin pulang tujuh hari. Kenapa gaji saya harus dipotong?”
“Terus apa katanya?”
“Jangan bahas yang dulu-dulu. Yang sudah ya sudah aja,” Bibi memperagakan gaya bicara majikannya.
“……”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Rasa marah ini tidak bisa aku ungkapkan.
“Sabar ya, Bi.” Perkataan yang tidak akan mengubah apapun, tapi setidaknya bisa membuat tenang walau sedikit.
“Iya, Teh. Sebenarnya saya udah nggak kuat kerja di sini. Tapi saya mau nunggu sampai lebaran aja, nunggu THR.” Sangat jelas terlihat kesedihan yang sedang Bibi rasakan sampai aku pun merasakannya. Aku hanya bisa berdoa semoga Bibi diberi kesabaran dan kekuatan untuk bertahan. Semoga Bibi mendapat pekerjaan yang jaaaauh lebih baik setelah keluar dari sini.
Bibi adalah salah satu dari sekian banyak asisten rumah tangga yang (menurutku) diperlakukan seenaknya. Aku heran, kenapa ada orang yang tidak menghargai apa yang sudah dilakukan pegawainya? Padahal, tanpa pegawai mereka tidak akan bisa menjadi seperti sekarang.
Maksudku,  lihat rumah besar ini! Rapi, bersih, hampir tidak ada debu sedikitpun. Anda belum tentu bisa membuat rumah Anda sebersih ini SENDIRIAN. Setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi, mereka selalu ada dan siap melakukan pekerjaan. Setiap hari, sepanjang waktu. Jam kerja mereka lebih banyak dibanding karyawan lain yang datang jam 9 pagi kemudian pulang jam 5 sore. Tidak ada lembur, tidak ada libur. DAN ANDA MASIH TEGA MEMOTONG GAJI MEREKA SAAT MEREKA IZIN PULANG KAMPUNG SELAMA TUJUH HARI!?
---------------------------------

Aku harap, kalian bukan termasuk orang yang ‘kejam’ seperti majikan Bibi pada cerita di atas. Jika suatu hari nanti kalian memiliki pegawai, jangan pernah lupa untuk berterima kasih. Bagaimanapun, usaha kamu bisa maju itu karena ada pegawai yang membantu. Ya, aku tahu mereka dibayar. Tapi bukan berarti mereka bisa diperlakukan seenaknya.
Setidaknya, jangan lupa mengucapkan terima kasih.
Khususnya kepada pegawai yang berada di rumahmu selama 24/7. Mereka rela tinggal jauh dari keluarga mereka untuk bekerja. Mereka mengorbankan waktunya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumahmu. Hargailah.
Buat mereka merasa nyaman dan merasa sedang berada ‘di rumah’. Aku tahu, rasa rindu pada keluarga di kampung tidak akan bisa digantikan oleh apapun kecuali bertemu. Jika kamu membuat mereka nyaman bahkan sampai menganggap kamu adalah keluarganya akan membuat rasa rindu itu sedikit terobati.
Kamu tidak tahu berapa kali mereka menangis menahan rindu ingin bertemu suami/istri dan anak. Jangan egois! Berikan waktu untuk mereka pulang berkumpul bersama keluarga.
Kamu menggaji mereka bukan berarti kamu membeli semua waktunya.
Coba belajar untuk menghargai dan berempati.
Sesekali ajak mereka jalan-jalan, makan di restaurant. Ajak mereka ‘melihat dunia’. Misalya ikut belanja bulanan ke supermarket, jalan-jalan ke mall.
Aku yakin mereka pasti senang. Kau tahu? Pekerjaan yang dilakukan dengan hati senang itu hasilnya terlihat berbeda dari pekerjaan yang dikerjakan hanya karena memang sudah tugasnya. Sesederhana itu.

Wednesday, 17 February 2016

I am Looking Forward to Your Reply

“Thank you for your kind attention, and I am looking forward to your reply,” Is the closing sentence that usually used in application letter. And I ‘m sure the applicants are (hopefully) waiting for the reply. Yeah, they are waiting.

Actually, what they are waiting for is just confirmation whether they’re accepted (to face the next step: interview) or not. That’s all.
I’ve been sent many application letters for many companies with the same closing sentence and MOST of them didn’t reply my email at all.
Everyone knows it was kind of rejection.

Sometimes I think the way they ‘reject’ the applicants is quite mean and makes me wonder why they let the applicants waiting, hoping, and guessing all day long(?)
Did my email sent? Or…. received as spam?
Did they read the email?
Did they know that many applicants ‘refresh’ their inbox page twice an hour waiting for a reply?

I guess they did but they ignore it for many reasons that we will never know why.
And after that, the applicants have two choices: keep wondering why or moving on and act like we never send the application letter to them.
Whether we accepted or not, they should tell us just to make sure.
I’m not asking the companies to reply ALL the applicants email if they won’t. It’s up to them, anyway.

Also, maybe you ever heard the interviewer said, “Thank you for your time. We will contact you later.”
(( Later ))
(( Later ))
(( Later ))
Don’t know how long the later is until (if you’re not accepted) it changes become never.
What the uncertainty :”)
They said they will contact you but they never did.
That is another kind of rejection.
In brief, maybe you’re not a person they’re looking for.

And if those things happen to you, don’t you ever give up!  Just DON’T!
Don’t stop there!
Keep send your application letter until you get the best. Go tell it to yourself. There’s nothing useless in struggling, even when you’ve rejected many times.
Keep learn, improve your skills, enrich your knowledge.
Don’t you ever give up!  

And hey, don’t forget to smile :)

Tuesday, 16 February 2016

Macet

Macet adalah sesuatu yang tidak disukai, tidak diharapkan, dan tidak diinginkan oleh hampir semua pengguna jalan.
Kenapa aku bilang hampir semua?
Karena pada saat dan keadaan tertentu justru macet bisa jadi sesuatu yang menyenangkan. Misalnya, kamu lagi mau pergi sama gebetan, pacar atau siapalah itu, terus di jalan itu macet banget. Kamu bakal kesal apa senang? Kayaknya kalau kamu lagi fall in love banget, kamu nggak akan mempermasalahkan macetnya karena otomatis waktu kamu bareng dia jadi lebih lama. Sambil nunggu macet kamu bisa ngobrol, bercanda atau foto bareng di tengah kemacetan(?) Jadi enjoy aja gitu. Iya, nggak?
HAHA.
HA.
#yeu

Kalau diadakan polling tentang perasaan para pengguna jalan ketika bertemu dengan kemacetan, mungkin hasilnya akan seperti ini:

Berdasarkan ke-sok tahu-anku, sebagian besar dari mereka merasa stress. Macet yang membuat kesal berkepanjangan akan membuat seseorang merasa stress dan menyerap energi-energi negatif lainnya. Sebagian lagi merasa marah, lebih tepatnya marah-marah. Entah marah pada siapa yang jelas aku sering melihat pengguna jalan yang berubah jadi ‘monster’ karena macet. 
Sisanya merasa senang atau biasa saja.
Begitulah.

Sebenarnya apa, sih, yang menyebabkan terjadinya macet?
Kendaraan
Jadi ingat salah satu motion waktu latihan buat lomba debat: “THBT The Number of motorcycle should be limited”. Cukup mudah bagi proposition team mencari alasan dan fakta yang kuat untuk meyakinkan jumlah motor memang harus dibatasi. Ini bisa jadi salah satu solusi mengatasi kemacetan.
TAPI, pernah berpikir nggak kalau jumlah motor (kendaraan) dibatasi, otomatis produksinya pun dibatasi, akan banyak perusahaan otomotif yang mengalami penurunan penjualan dan berdampak pada pengurangan karyawan?
Hm.
Serba salah, kan?
#JadiDebatSendiri  XD
Intinya, semakin banyak kendaraan di jalan, semakin besar potensi macetnya.

Jalan
“Ini jalannya cuma muat satu mobil, sih.”
“Jalannya kurang besar, nih. Makanya jadi macet.”
Ada nggak sih yang pernah nyalahin lebar jalan yang kurang besar atau berpikir kalau jalan itu diperluas, jadi nggak akan macet?
ADA.
Dan ada nggak sih jalan yang udah diperlebar sedemikian rupa, tapi tetap macet?
BANYAK.
So?
Kayaknya, ujung-ujungnya kembali lagi ke jumlah kendaraan, ya.

Pengendara
Ada dua hal yang membuat pengendara atau pengemudi menjadi penyebab kemacetan:


1.       Keegoisan
Aku baru sadar kalau ternyata macet itu disebabkan oleh keegoisan si pengendara itu sendiri. Kalau kalian perhatikan, banyak banget pengendara yang egois.  Mereka berkendara seakan mereka adalah pemilik jalan. Bersikap seolah kendaraan lain adalah butiran debu. #yaelah
Perlu contoh keegoisan pengendara?
-          Pengemudi angkutan umum yang berhenti seenaknya tanpa memberi tanda.
-          Pengendara yang ‘maksa’ putar balik kendaraannya ditengah kemacetan.
-          Pengendara yang melawan arah dengan watados-nya.

Suatu hari, aku pernah terjebak macet yang seeeemacet-macetnya jalan. Pokoknya sama sekali nggak jalan ada kali dua puluh menit. Aku pikir ini kenapa macet banget apa ada kecelakaan? Eh, taunya macet itu karena ada truk yang mau belok (motong jalan) tapi nggak bisa-bisa karena jalan sebelahnya pun macet. Dan truknya DIAM GITU AJA di tengah jalan. T^T
Supir truk tersebut mungkin mengeluh, “Macet banget sih gue jadi susah mau lewat!” tanpa sadar dia sendiri juga bikin macet.
Sampai akhirnya ada polisi yang nyuruh truk itu jalan terus, muternya di depan. Baru deh truk itu maju. Demi apapun itu kejadian paling egois yang pernah aku lihat.
Jalan itu kan transportasi publik. P-U-B-L-I-K, artinya milik bersama. Jadi tolong jangan egois-egois bangetlah kalau lagi di jalan.

2.       Kurangnya Pengetahuan tentang Lalu Lintas
Apa yang dikatakan oleh Pak polisi ketika aku akan membuat SIM itu benar, “Masih banyak orang
yang tidak tahu peraturan rambu-rambu lalu lintas.”
Nggak percaya? Ketika kamu lagi di perjalanan, coba lihat saja sekitarmu. Pasti ada aja yang melanggar rambu-rambu lalu lintas.

Hal yang paaaaaling sederhana misalnya marka jalan.
Itu loh garis putih yang biasa jadi pemisah mobil sesuai dengan arahnya. Selain menjadi ‘pemisah’ ternyata garis putih itu punya artinya. Perhatikan, kalau garisnya putus-putus itu berarti kita boleh melewati, memotong, dan menyalip batas itu (selama aman). Kalau garisnya garis terus yang panjang (biasanya di tikungan), berarti kita  sebaiknya tidak melewati garis.
Jangankan marka jalan. Tanda dilarang putar balik gitu aja sering dilanggar. Aku nggak kebayang apa rasanya jadi tanda itu: nggak dianggap. Sedih banget pasti  #yah #baper

Apa susahnya, sih, cari jalan yang memang aman untuk mutar balik? Nggak mau rugi banget harus jalan lebih jauh buat mutar?
Pernah ada orang yang marah-marah ke aku karena menurut dia aku menghalangi jalan dia. PADAHAL jelas-jelas dia jalan bukan dijalurnya dan melawan arah pula. Dia yang salah, dia yang marah-marah. Heran.
Orang-orang yang seperti itulah yang menyababkam jalanan macet dan semerawut. Udah macet, penuh kendaraan, semerawut pula. Sungguh paket lengkap menuju stress banget. #sabar
Mereka mungkin belum sadar aja. :)   

Yuk, kita sadarkan! /siram air/ 

Dua Puluh Tahun

Tenang, kali ini kita tidak akan bertemu aku 20 tahun lalu. Haha. Dua puluh tahun adalah alasanku 'menolak' orang yang pertama kali ...