Thursday, 20 March 2014

SP


Pernah dengar kalimat seperti ini, belum ?  "teknologi menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh"
Kalau ga salah istilah itu ada di iklan televisi. Iklan sebuah produk tehh yang intinya (menurutku) beli lah produk tersebut! Hehe. Ya apalagi coba?  Kali ini aku nggak akan membahas iklan. Hanya saja, menurutku banyak pesan yang juga tersirat dalam cerita itu. Disadari atau tidak memang seperti itulah (sebagian) kenyataan hidup zaman sekarang. Ya hidupnya tuh nggak jauh-jauh dari gadget (re: smartphone (SP) ,handphone (HP) ,tablet (TAB) ,dan laptop). 
Aku masih ingat, waktu SD apa SMP gitu, ada pelajaran IPS tentang kebutuhan manusia yang terbagi menjadi tiga :
1. Primer
Adalah kebutuhan pokok yang pasti dibutuhkan setiap manusia : sandang, pangan, papan. 
2. Sekunder
Kebutuhan yang berguna untuk melengkapi kebutuhan primer seperti televisi, telepon, misalnya.
3. Tersier
Pokoknya barang yang mewah seperti kendaraan, dan handphone.
Guruku pernah bilang "tidak menutup kemungkinan suatu hari, entah beberapa tahun lagi mungkin barang yang termasuk kebutuhan sekunder, akan berubah menjadi kebutuhan primer."
'Beberapa tahun kemudian' yang beliau katakan waktu itu ternyata terjadi. Handphone yg dulu masih menjadi kebutuhan tersier, berubah menjadi kebutuhan primer. See?
Apalagi sekarang teknologi semakin canggih. Aku nggak akan membandingkan masa kecilku dengan masa kecil anak sekarang karena sudah jelas-jelas berbeda. Bukan berarti aku iri sama anak kecil zaman sekarang, hanya saja aku pikir memang tidak akan ada yang sama. Bisa saja kecanggihan yang sudah disentuh oleh anak kecil zaman sekarang akan menjadi sebuah ke-kuno-an ketika mereka sudah dewasa. Ya sama aja kaya kita sekarang yang anggap telepon umum atau wartel itu zadul (bacanya jadul) (zaman dulu). Ya kurang lebih seperti itu.
Cuma aku belum bisa membayangkan benda apa yang akan membuat tablet, smartphone, dan gadget canggih berubah menjadi barang zadul.
Smartphone. yg pertama kali terbesit saat mendengar benda itu adalah : bbm, whatsap, line, dan apalah itu. Aplikasi-aplikasi yang hanya bisa diakses menggunakan SP.

Waktu itu (re: sebelum aku punya sp) teman-temanku sudah jauh lebih dulu menyentuh berbagai macam aplikasi itu. Sebut saja salah satunya whatsap. Yang aku dengar dari orang-orang, whatsap itu kaya bbm lagi. Itu saja. Aku tidak tahu bentuk dan rupanya seperti apa. "Kaya bbm lagi" bbm aja aku nggak tau da belum punya bb-nya. At least aku tahu, aplikasi itu bisa kirim gambar, voice atau tulisan. Intinya lebih dari sekedar SMS.
Banyak teman yang pakai whatsap. Dan aku (re: siapapun yg gapunya sp) nggak ngerti itu karena kita nggak punya. Sering banget obrolan jadi nggak nyambung karena tibatiba mereka bilang "ih iya di whatsap kan dia bla bla bla" atau "kocak banget deh whatsapan sama sii ABCDEF" , "yaudah nanti aku WA ya"  DLL -
Menedngar omongan seperti itu jujur saja membuat kita merasa 'tersisihkan'. Jadi kaya kita lagi asik ikut pembicaraan, tibatiba sebagian orang membicarakan hal yang hanya dimengerti oleh mereka yang menggunakan whatsap atau bbm dll. Jadi aku (kita) juga bingung mau nyambung kaya gimana dan akhirnya memilih untuk jadi silent reader. Miris? Iya.
Aku pernah bilang ke temanku (kita samasama gapunya sp dan aplikasi chat) kalau antara kita dengan mereka yang punya aplikasi chat itu kaya dibatasi oleh sebuah dinding yang tak terlihat. Kita sama mereka itu kaya ada di beda dunia. Banyak hal yang kita nggak tahu cuma karena HP kita nggak punya aplikasi itu.  Sekarang, banyak teman yang beralasan ga bales sms karena gapunya pulsa soalnya dipaket buat segala macem. Tau ga sih, kadang alasan itu menyebalkan bagi kita pengguna handphone biasa. Belum lagi kalau sudah menyangkut jarkoman. Sering banget terjadi kesalahpahaman garagara itu. Misal, A sudah broadcast ke seluruh kontak bbm (mungkin) dengan harapan yg lain akan menyebarkan infonya pada teman yang gapunya bb. Ya Mending kalau akhirnya jarkoman nyampe semua. Kalau nggak? Mau nyalahin ke temen yang ga punya SP? "Ya elu sih gaada bb, jadi susah" mau bilang gitu?
Lalu apa? Smartphone, aplikasi chat itu sekarang sudah menjadi kebutuhan primer? Barang wajib yang semua orang harus punya?
Cepat atau lambat sepertinya memang akan begitu. Ini menyeramkan. Aku sendiri punya SP ketika awal september 2013. Tergolong baru sih.hehe. Aku mengumpulkan uang hasil kerjaku, dan akhirnya aku bisa membeli blackberry. Sekarang mungkin blackberry itu bukan barang mewah lagi. Apalagi android dan OS lain sudah bisa menyediakan fitur bbm meski hp-nya bukan bb. Canggih emang.  Design hp sekarang juga kebanyakan touchscreen. Aku nggak begitu tertarik dengan touchscreen. Awal punya sp rasanya senang. Akhirnya aku bisa menyentuh 'dunia' yang tidak bisa kusentuh sebelum aku punya handphone canggih ini. Akhirnya aku bisa tahu rasanya punya line, 4sq, atau kakaotalk. Akhirnya aku bisa merasakan nge-twit via blackberry. Lol.
Ya, tapi aku juga hati-hati. Kadang SP membuat kita sadar atau tidak menjadi otomatis show up dengan update status atau foto. Membuat orang-orang tidak perlu lagi bertanya keadaan kita karena kita akan dengan sendirinya memberitahu hal itu. Jadi, gunakanlah sp sewajarnya. Karena aku tahu rasanya. Kalau bisa, jangan terlalu membuat 'dunia' sp sendiri. Kau tahu? Rasanya tersisihkan ketika mulai membicarakan hal-hal yang hanya diketahui pengguna sp sedangkan kita tidak tahu apa-apa?  Rasanya seperti dianggap tak ada. Jadi, menyesuaikanlah! You use smartphone , so please, be smart!

Thursday, 20 February 2014

Suatu Waktu


akan ada suatu waktu ketika kau merasa lelah dengan dirimu sendiri. akan ada suatu waktu ketika kau merasa tidak bisa mengerti perasaanmu sendiri. sendiri .. sendiri .. sendiri .. yaiyalah masa berdua. emang diri kamu ada berapa!? -ignore-
jadi, aku sedang berada pada 'suatu waktu' itu. Ya, aku rasa begitu. orang lain mungkin sudah tidak mengerti dengan jalan perasaanku sejak awal. Maksudku, sejak aku menyadari dan mengakui kalau aku menyukainya. Menyukai dia yang aku sendiri (sendiri lagi) tidak tahu keberadaannya. ya dia ada, sih. hanya saja dia itu seperti nggak ada di hariku. ya memang nggak ada juga, sih, ya, mau di apain. Heup!
Sudah kubilang, aku ini bagaikan seorang fans yang menyukai seorang artis. di mana biasanya hubungan antara artis dengan fans-nya itu semacam rasa bertepuk sebelah tangan. seorang fans sudah pasti menyukai idolanya, tapi sang idola belum tentu menyukai kita. respect mungkin iya, berterima kasih karena telah menyukai, mendukung, dan lain sebagainya. tapi untuk memiliki rasa yang sama seperti fans itu mungkin tidak.
Orang-orang bisa melihat betapa awkward aku menyukainya. Untuk memulai ercakapan saja aku tidak berani. aku hanya menunggu hari-hari penting saja, seperti hari ulang tahun, misalnya. Agar aku bisa -setidaknya- 'menyapa'mu.

"Apa yang kau suka darinya?"
"Kenapa kau menyukainya?"
"Bagaimana bisa kau menyukainya?"
sebenarnya aku benci dengan pertanyaan itu. Memangnya kenapa? apa urusanmu dengan perasaanku? aku menyukainya. lalu apa masalahmu?
Begitulah kesewotanku terus mengalir sampai 'suatu waktu' itu datang.
Ya, aku lelah. mungkin lelah mengaguminya. aku lelah dengan perasaan ini. perasaanku mungkin tidak tulus karena aku -memang- berharap dia juga punya perasaan yang sama. mungkin itu yang membuatku lelah. ah, kebanyakan mungkin.
'suatu waktu' ini membuatku berhenti untuk menunggu hari ulang tahunnya, meskipun aku masih mengingatnya.

Tuesday, 18 February 2014

what a life


kalau orang menyebut ini cinta lama yang bersemi kembali, aku tidak setuju. Tidak akan aku iya-kan orang yang menyebut ini suatu kejadian cinta lama bersemi kembali apalagi cinta lama belum kelar. secara dulu memang nggak ada istilah cinta di antara kita. Azegg. Maaf ya kalau geli bacanya. Jadi kita hanya sebatas teman yang saling mengenal dan... ya udah itu aja. What a lif(e) !

Lucky in My Dream

Eunji masih berusaha mencari kunci sepedanya. Ia memasukan satu per satu kunci yang menggantung di gantungan kunci pokemonnya itu. Ada sekitar lima kunci dan Eunji selalu tidak bisa membedakan mana kunci sepeda, kamar, rumah, dyari, dan loker.
Sekelompok anak yang tidak lain adalah temannya lewat sambil tertawa.
"Wah nanti belajar matematikanya sama kak Ryan lagi, kan? asiiik!" Kata salah satu dari mereka.
"Iya, kalau sama kakak itu jadi mudah mengerti, ya! Seru lagi!" Sahut teman yang satu lagi.
"Eh, nanti pulangnya bareng lagi, ya, kaya kemarin!"
"Eunji! Kita duluan, ya!" Kata Radit yang melihat Eunji. Eunji tersenyum dan melambaikan tangan.
"Eunji, kamu tidak mau ikut les tambahan? Asik, loh! Ayo ikut les sama-sama!"  Kata Riani -mungkin-basa-basi.
"Dia sudah pintar, tidak perlu les," cletuk Dika.
Eunji nyengir tanpa arti.
"Kita duluan, ya! Dadaaah!"
Lama kelamaan pembicaraan mereka tidak lagi terdengar jelas.
"Berisik sekali," gumam Eunji.
Eunji melihat teman-temannya yang berjalan menjauh sambil membawa map transparan yang isinya buku dan kertas-kertas.  Buku yang katanya rangkuman dari apa yang telah dipelajari sejak kelas X sampai kelas XII sekarang. Ya, buku pegangan yang biasa dimiliki mereka yang mengikuti les tambahan untuk persiapan ujian nasional dan masuk perguruan tinggi negeri.
Setelah beberapa lama terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri, Eunji  menghela nafas dan mulai mengayuh sepedanya, pulang.
Aku.. aku juga ingin ikut les tambahan seperti mereka. Bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama-sama, belajar bersama. Sepertinya les membuat mereka lebih akrab. Setiap hari ada saja topik pembicaraan menyenangkan dan aku selalu tidak tahu apa-apa tentang itu.  Gumam Eunji. Keadaan ekonomi keluarga Eunji tidak memungkinkan untuk ikut les yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Eunji dapat mengerti hal itu, tapi tetap saja terkadang ia ingin merasakan rasanya belajar di tempat les seperti teman-temannya. Eunji memang bukanlah satu-satunya siswa yang tidak mengikuti les tambahan. Les tambahan membutuhkan uang yang tidak sedikit. Sebenarnya bisa saja Eunji minta izin  ikut les tambahan pada orang tuanya, tapi   Eunji tahu hal itu hanya akan memberatkan orang tuanya saja. Apalagi Jun Su, adiknya Eunji, tahun ini  juga akan lulus SMP dan masuk SMA.

Diam-diam Eunji suka meminjam buku les milik Na Eun, sahabatnya, dan membacanya waktu istirahat. Pada dasarnya semua yang diajarkan di tempat les sama dengan yang diajarkan sekolah. Di sekolah, Eunji termasuk anak yang kemampuan akademiknya biasa-biasa saja.
"Sebenarnya tidak perlu ikut les tambahan dan menghapal rumus-rumus cepat, kita hanya perlu belajar SEDIKIT lebih giat dari teman-teman yang lain. Sering-sering latihan soal, membaca, dan berdoa."  Kata wali kelas Eunji suatu hari.
"Ikut les tambahan bukan berarti kita akan 100% berhasil. Itu hanya salah satu penunjang belajar, percaya pada ibu, asal kau belajar giat, kau pasti bisa."
Kata-kata itu menjadi penyemangat Eunji untuk terus belajar dan tidak merasa minder meskipun dia tidak  ikut les. Bagaimanapun, semua  tergantung usaha  dan kerja keras masing-masing.

Ujian Nasional yang -tidak begitu- dinanti oleh murid kelas dua belas akhirnya tiba. Dengan usaha, hasil kerja keras dan 'kerja sama' menyatukan kekuatan, akhirnya mereka lulus 100%. Senang sekali akhirnya bisa melewati UJIAN NASIONAL itu.
Tinggal satu ujian lagi : UJIAN MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI.
Ujian yang sepertinya adalah  RAJA dari semua raja ujian karena ujian ini diikuti oleh hampir semua siswa kelas XII bahkan tahun-tahun sebelumnya. Mereka semua berlomba-lomba memperebutkan bangku di universitas yang mereka impikan. Termasuk Eunji.

Eunji sangat berharap dan ingin masuk perguruan tinggi negeri karena Pamannya yang tinggal di kota pernah menjanjikan Eunji seperti ini, "Eunji, kalau kau bisa masuk ke perguruan tinggi manapun, paman akan belikan laptop atau blackberry. Nanti kau pilih saja mau laptop apa blackberry. Belajarlah yang giat!"
"Baik!" seru Eunji kegirangan. Itulah motivasi terbesar Eunji untuk masuk ke PTN. Setiap malam saat belajar,  Eunji membayangkan dirinya memiliki laptop sendiri. Belum terpikir oleh Eunji tentang masa depan apalagi prospek kerja. Eunji hanya ingin bisa masuk perguruan tinggi negeri agar bisa dapat laptop atau blackberry yang dijanjikan oleh pamannya. Singkatnya, Eunji ingin memiliki laptop dan masuk PTN adalah jalan untuk mendapatkan benda yang ia inginkan tanpa harus meminta pada ayah dan ibu.

Eunji  suka bahasa Inggris. Dia ingin menjadi guru bahasa dan penerjemah. Menurutnya itu akan menyenangkan karena sejak kecil Eunji senang belajar bahasa. Eunji pikir jika ia menguasai bahasa ia bisa pergi keliling dunia! Setidaknya ke beberapa negara.
"Ibu! aku ingin masuk perguruan tinggi negeri di Bandung. Boleh kan?" Tanya Eunji suatu hari.
Ibu hanya mengangguk tanpa berkata apapun.
"Asiiiik!" Eunji berlalri ke kamar dan mulai belajar. Semangat!

-bersambung- dan tidak tahu kapan akan disambung lagi.












Wednesday, 12 February 2014

Another Day

"Lie to me. Say that you need me. That's what I wanna hear" -Lene Marlin : Another Day

Dulu, aku nggak habis pikir sama lirik lagu itu. Kenapa dia sampai minta orang untuk berbohong? Kenapa dia ingin mendengar kebohongan?
Karena .. (oke, ini emang nanya sendiri jawab sendiri)
karena kebohongan itu kadang bisa membuat orang bahagia meskipun hanya sesaat. Ingat, ya! HANYA sesaat. Kalau menurut aku, nggak ada kebohongan yang bisa bikin bahagia selamanya. NGGAK ADA!
Dan saat ini aku sedang ingin dibohongi. Kedengaran bodoh tapi memang ini memang bodoh. Sederhana saja, seperti lirik lagu yang kutulis di awal tulisan ini. Aku ingin mendengar atau setidaknya membaca dua, tiga kata yang biasa terucap ketika seseorang sedang jatuh cinta atau mengagumi orang lain.
Aku ingin mendengar "aku cinta kamu" keluar dari mulutmu. Ah tidak. Jika kamu memang tidak cinta, bagimana kalau "aku suka kamu" saja?
Jika kamu memang tidak suka, aku tidak akan memaksamu untuk menyukaiku. Aku hanya memintamu untuk mengatakannya, itu saja. Tidak perlu gunakan perasaanmu jika kau memang tidak suka. Aku hanya ingin mendengar kata itu terucap dari bibirmu. Hanya itu.
Sekarang, di sini, aku berdiri di hadapanmu. Menunggumu mengatakannya. Menunggumu berbohong untukku, untuk kebahagiaan sesaatku. Akanku pejamkan mataku saat kau akan mengatakannya karena aku hanya ingin mendengarnya. Jika aku hanya mendengarnya, kata-kata itu akan terdengar nyata. Biarkan aku mendengar suaramu sambil kupejamkan mataku. Kalaupun aku membuka mataku, matamu tidak akan bertemu dengan mataku. Katakanlah, berbohonglah padaku. Katakan kau menyukaiku.
Aku tidak akan melihat matamu, agar ketika aku membuka mataku, aku sadar kata yang kudengar darimu itu hanya sebuah mimpi.


Tuesday, 21 January 2014

There's nothing impossible

Jakarta. Bukan kota kelahiranku tapi ada kenangan manis dan pahit yang tidak bisa aku tinggalkan. Beberapa minggu lagi mungkin adalah hari tepat satu tahun aku mengucap selamat tinggal pada Jakarta. Aku sempat berpikir, ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Jakarta, sama saja aku mengucap selamat tinggal kepada mimpiku. Bukan karena Jakarta adalah mimpiku. Aku tidak pernah bermimpi bersekolah di Jakarta. Aku tidak pernah bermimpi akan bekerja atau tinggal di sana. Tapi pada kenyataannya aku -pernah- kuliah di sana. Aku ingin berbagi cerita di sini. hanya saja aku belum menemukan waktu dan kata-kata yang tepat untuk bercerita. 

tau dah ah pokoknya aku kangen FDNR. wkwk gaje

Monday, 13 January 2014

Rangkaian Kata



Beberapa waktu lalu, kala sore mulai menua. Dilahirkannya aneka warna manis di ujung langit. Menebar hangat yang sesekali membuat kedua bola mataku menyempit.
Di sini, di tempat yang begitu jauh dari jangkauanmu. Aku hanya tersenyum dan kembali membaca sederet kata yang kaucipta, berulang-ulang. Membuatku mengangguk, tersipu, dan terenyuh. Seolah-olah saja hati kecilku pun merasakan yang kaurasa. Seakan-akan itu adalah sesuatu yang kauucapkan untukku, padahal mungkin saja, tidak. Berlebihan barangkali, namun nyatanya memang begitu.
Aku mau mencintaimu. Aku mau dicintaimu.
Bagaimana?
Seandainya aku bukan sosok yang kau harapkan. Tak apa. Aku tak akan terluka ataupun tersinggung. Sebab cinta bukan hanya mengajarkan aku kebahagiaan, namun juga kekuatan bertahan.
Aku bukan pengecut yang senang memperhatikanmu dari kejauhan. Aku hanya tak bisa mengungkapkan perasaan kepada kau yang sedang mengharapkan hati lain. Tak lucu, bukan, aku jatuh cinta dan patah hati dalam waktu yang sama. 

- baris aksara

Sunday, 12 January 2014

memangnya ada?

Memangnya ada? istilah menyukai orang yang salah?

Aku termasuk orang yang mudah jatuh cinta dan mudah terpesona. Hal-hal kecil yang menurut orang mungkin biasa saja, di mataku bisa menjadi sesuatu yang sangat indah, bahkan bisa membuatku tersenyum seharian. tapi kadang, hal yang menurut orang-orang adalah sesuatu yang "whoaahaha" menurutku malah bisa jadi biasa saja.

Aku bukan termasuk orang yang berani memberitahu perasaanku pada orang yang kusuka.  Bukan juga termasuk orang yang percaya diri dengan perasaanku sendiri. Jika aku menyukai seseorang, ya aku hanya menyukainya. Jika orang itu juga menyukaiku, mungkin aku hanya sedang beruntung.

Aku pernah menyukai seseorang yang tidak ingin aku sebut namanya, tapi dia bukan voldemort karena aku tidak mungkin menyukai voldemort. Lagi pula voldemort bukan orang.
Seperti yang sudah kukatakan, aku menyukainya karena hal kecil. sekecil butiran-butiran hujan yang turun setiap sore.
Aku menyimpan rasa ini sendiri. biar aku saja yang tahu perasaanku. memperhatikannya dari kejauhan atau dari kedekatan secara diam-diam tanpa ada orang yang tahu kalau aku menyukainya ternyata lebih membuatku nyaman. aku takut .. kalau dia tahu, dia akan berubah atau menghindar atau membenciku mungkin.

memangnya ada? istilah menyukai orang yg salah?
ketika rasa kita tak terbalas atau tiba-tiba dia menghilang.. apa karena menyukai orang yang salah? sebenarnya kalau seperti itu salah siapa? apa harus menyalahkan dalam perasaan? entahlah ..

Wednesday, 8 January 2014

seharusnya

aku ingin kembali ke masa itu. Seharusnya aku tidak bertemu denganmu. Seharusnya aku tidak menemuimu. seharusnya aku tidak menyukaimu. banyak sekali yang aku sesalkan tentangku akanmu. seharusnya ... apa seharusnya aku tidak mengenalmu?

Suatu hari aku dapat kesempatan yang mustahil itu. Aku hanya diizinkan berada di masa lalu selama 120 detik. Waktu yang cukup untuk mengubah segalanya.
Di sini aku, tempat yang sama, waktu yang sama. Seingatku sebentar lagi aku akan bertemu dengan teman dari teman-temanku. Dia. Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Jika aku pergi dari tempat ini, aku tidak akan bertemu dengannya. aku yakin itu.
Kulangkahkan kakiku menjauh dari tempat itu. Tak peduli ke mana aku melangkah, tak peduli temanku memanggil. aku hanya ingin mengubah ini. ini saja. Meskipun kami sudah saling kenal lewat media sosial, setidaknya kalau begini kita tidak akan bertemu. jika hari dimana seharusnya kami bertemu aku ubah menjadi seperti ini, pasti tidak akan ada hari lain di mana aku akan bertemu dengannya. tidak akan ada. aku tidak akan bertemu denganmu. ya, setidaknya itu cukup.
Dari kejauhan aku bisa melihat sosoknya bersama teman-teman datang menemui temanku yang seharusnya sedang bersamaku.
Aku memejamkan mata, tersenyum puas. Dan saat aku membuka mataku lagi, aku sudah tidak melihatnya. aku sudah kembali ke masa sekarang. tidak ada perubahan yang aku rasakan setelah aku mengubah waktu itu. atau mungkin belum. hanya saja aku masih mengingatnya, mengingat namanya. tapi aku tidak ingat saat-saat bersamanya. mungkin aku memang tidak pernah bersamanya setelah aku mengubah masa lalu itu. baguslah.

Dua minggu berlalu, aku sudah tidak mengingat kejadian itu. kehidupanku berjalan seperti biasa tanpa mengingtanya. Sore ini aku berniat untuk window shopping sendirian. aku suka jalan-jalan sendiri seperti ini. tidak ada pilihan lain,tidak ada orang yang bisa ku ajak atau aku minta temani. teman-temanku jauh, dan aku tahu mereka punya kesibukan masing-masing.
aku masuk kedalam lift lalu menekan tombol nomor tiga. hanya ada aku dan seorang laki-laki memakai jaket biru berdiri di sampingku. aku melihatnya sepintas lalu kemudian melihatnya lagi.dan.. dia juga melihatku. Dia... Dia! Kenapa dia?
bukankah seharusnya aku tidak akan pernah bertemu dengannya?

Sekarang aku tahu. Tak peduli seberapa mungkin, seberapa ingin seseorang berusaha kembali ke masa lalu berusah mengubah yang terjadi di masa itu. Jika memang sudah seharusnya terjadi.. tidak ada yang bisa mengubahnya. Begitu juga denganku.
Seberapa keras aku mengubah masa lalu. Jika memang sudah seharusnya aku bertemu dengannya, aku pasti akan bertemu dengannya. Seberapa keras aku menolak, aku .. memang sudah seharusnya bertemu dengannya. Aku ... memang sudah seharusnya menyukainya. Dan..pada akhirnya  aku.. memang sudah seharusnya dilupakan dan melupakannya. Semuanya .. sudah seharusnya.

 #Azegg #Naon

Monday, 6 January 2014

kamu kah?

pertanyaan anonim yang diajukan kepadaku di sala satu situs pertanyaan-pertanyaan bernama ask.fm sekitar tiga bulan lalu, mungkin oktober. Oktober. pada saat itu itu aku mulai semacam merindukanmu. nggak rindu-rindu amat sih. hanya saja.. rasanya seperti mimpi karena tiba-tiba kamu hilang. hilang dari duniaku. halahhh apaan sih geli gue -___-

pertanyaan itu.. kamu kah?
Entahlah. pertama kali orang yang terbayang saat aku baca pertanyaan itu... kamu. Aku tidak berharap kamu. hanya saja firasatku mengatakan itu kamu.
kamu kah?

Dua Puluh Tahun

Tenang, kali ini kita tidak akan bertemu aku 20 tahun lalu. Haha. Dua puluh tahun adalah alasanku 'menolak' orang yang pertama kali ...