Saturday, 24 September 2016

My O-cooking-tober List

Hulaaa!
Siapa nih yang diam-diam masih suka mengunjungi blog aku?
Kangen sama tulisan aku, yaaa? Hehe.
Ada banyak draft yang belum aku publish karena emang tulisannya ga belum ada yang beres. Huft.
Dan malah tulisan ini yang di post karena tadi kepikiran ini gitu aja.

Waktu aku lagi iris-iris bawang buat masak sarden, tiba-tiba aku sadar selama jadi anak kost aku bisa dibilang nggak rajin-rajin banget masak. Nggak rajin-rajin banget = Malas.
Lihat aku. Kemampuan masak aku masih jauh diatas standard istri idaman.
Padahal di tempat aku itu ada dapur, kulkas, dan semuanya.
Kenapa nggak aku manfaatkan fasilitas ini buat KONSISTEN masak?

Kalau mau cari alasan, aku pasti bakal bilang "Boro-boro masak. Pulang kerja aku harus kuliah. Pulang kuliah itu malem aku udah cape banget." :( #Payah
Tapi asli emang cape, sih.
'Cape' sering kali banget menjadi excuse aku buat nggak masak.
Terus aku pikir, gimana nanti kalau suatu saat aku jadi ibu rumah tangga?
Masih mau pake alasan 'cape'?

Kebayang nggak, sih, misalnya pas suami kamu pulang kerja terus nanya:
"Sayang, aku lapar, nih. Hari ini kamu masak apa?"
"Hmm.. Maaf, hari ini aku nggak masak soalnya aku cape."
Your husband must be like, "What The Hehh!!!?"
Nggak. Nggak. Nggak. Aku  nggak boleh kaya gitu. Aku harus jadi istri yang profesional. #Hazeg #intermezo

So, kalau biasanya aku cuma masak telur dadar, mi kornet, omelet mi, sarden, goreng ayam, nasi goreng, dan menu sederhana lainnya. Sekarang aku harus bisa bikin sayur dan menu makanan yang levelnya lebih tinggi. Selain hemat, skill masak aku jelas akan terasah.

Aku suka nonton tutorial masak, video-video resep gitu tapi nonton doang, udah. Jarang banget ada yang langsung aku coba bikin. Nah, nanti sepertinya aku akan update masakan apa aja yang udah aku buat lengkap dengan review dan resepnya. Biar aku rajin dan jadi pinter masak terus masuk kriteria calon istri goals deh. wkwkwk. #ApaanLagi

Minggu depan aku mau coba olah buncis. Cukup menantang karena kan harus potong miring-miring gitu kan. Masih bingung nih antara bikin sayur buncis yang pake kuah apa ditumis yaaa?

Stay Tune! 

Monday, 19 September 2016

My Qualovety Time: Train to Busan

It was raining on saturday night and it has been a very loooong time no hang out in saturday night with him. Yeah, as I remember.
I don't mind.
We don't have to do window shopping -even true shopping-, watching movies in theater, have a fancy dinner like EVERY saturday night. Since (for me) the most important thing is being with him. Sounds cheesy but that's it.
After had dinner at warteg, actually the place is not like warteg at all so let's say that is mini restaurant, he offered me to hang out but I refuse it.

"Do you want to watch this?" He showed me his Macbook, Train to Busan movie poster.
"Busan? It is Korean movies, isn't it?"
Kinda don't believe it since he doesn't like both Korean movies and drama. I was like 'What's happen with you? Wowowoo, seems like 8th miracle in the world is happen tonight!!' 
"Don't get me wrong, it's horror." He said.
"........"
((It's horror))
Okay.
Forget about 8th miracle in the world. It's not gonna happen anyway. wkwk.


So, what's the first thing that pop up on your head when you hear Busan?
Bussan with double S
Some people might imagine it.
Hey, where's the train? Why there are only motorcycles??
#Intermezo

Okay back to our topic.
You know what? I don't really like horror and action movies.
Caution! I have unexpected scream whenever I watch it. And just like what I always said, I can watch it as long as I'm with him. And my FDNR friends. Only. So, let's watch ittt!!
Btw, I watched it with him and his sister. It was very fun. XDb

Anyeong Haseyoo ^^, 

Train to Busan Auto Finance

Don't worry, I will not write any spoiler here but if only I didn't know it is horror maybe I would not close my eyes from the very first time and hide behind his back for almost 2 hours. :P
The opening is quite scary for me. I mean, this movies is TOTALLY scary from the beginning. wkwkwk. Cool.
There are many things we can learn from this movie.
But I was so tired watching this kind of movie. It feels like you've had -never ending- run. I even couldn't take my breath and I cried for some scenes. 
Actually, I don't want him to see me cry just because the movie but I couldn't hold my tears down. T^T  #ngeDramaDetected

Trust me, Cooling Down is Needed
 
Just like ride a roller coaster, I need a cooling down after watch this movie. I really need it.
So I asked him to watch anything in order to make me relax. *Take a deep breath*
"How about We Bare Bears baby?" that's my favorite one. x)
"Have you watch it?"
"Ya."
"Hmm, let's find film that neither of us never watch before." He kept scrolling.
"Hagemaru! Let's watch Hagemaruuu!"

Hagemaruuu. Haaaai!

We watched it on youtube and it made me laugh after all and I feel much better. :)
That was my qualovety time with him last saturday night.
Busan Gwangandaegyo Bridge
and If someday I visit South Korea with you, I dare us to go to Busan - by train!

Wednesday, 3 August 2016

Campus Life

Campus Life. 
Judulnya kaya cover buku tulis ukuran Big Boss gitu nggak sih? Hmm..
Hmm.. 
Kalau ada yang nanya, "Sasa, sekarang semester berapa?"
dan aku jawab, "Semester tujuh enam."
Pasti tanggapan selanjutnya adalah, "Wah, nggak kerasa, ya, sebentar lagi."
.
(( Nggak kerasa ))
Nggak kerasa katanya!? Yaiya orang yang ngerasain aku. wkwk. 
Nggak tahu sih tapi buat aku perkuliahan ini terasa banget lamanya. Kata orang, kalau kamu merasa waktu berjalan lambat, itu berarti kamu nggak enjoy sama apa yang kamu jalani. Benarkah begitu?
Bertanyalah aku pada diriku sendiri, "Emang kamu kuliah nggak enjoy, Sa?"
Aku pun menjawab, "Enjoy, kok. Malah aku senang dan bersyukur masih bisa kuliah. Meskipun iya, kadang aku suka malas dan merasa lelah. Habis kerja tuh rasanya ingin langsung pulang aja."
Trust me, being an employee and student in the same time is sooo tired.
Buat kalian yang punya kesempatan untuk fokus kuliah dan menjadi mahasiswa seutuhnya, bersyukurlah. :D
Sibuk karena banyak tugas, ini itu dan bla bla bla? Semangat!
Betapa beruntungnya kalian yang punya waktu khusus dan fokus buat kuliah aja. Waktu belajar -dan bermain- kalian lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang kuliah sambil kerja. Terkadang itu yang aku iri-kan. ((iri-kan)). Ya intinya kadang aku iri sama mereka.
So, let's get shit  this done!

Percaya atau tidak, ini adalah foto lengkap pertama setelah sekian tahun kita bersama.
Cool!
Kalimatnya berirama sekali. ma-ma-ma.
Dari semester satu sampai sekarang, 8 orang memutuskan untuk resign dengan alasannya masing-masing. Ada yang menikah, ingin fokus dengan usahanya, pindah kampus, mendapat pekerjaan yang lebih baik, dan lain-lain.
Banyak yang berpikir bahwa kerja sambil kuliah itu adalah sesuatu yang keren dan enak(?). Enak ya masih kuliah tapi udah kerja. Keren karena udah kerja tapi masih kuliah.
Iya.

"Kamu udah kerja, ngapain kuliah lagi?"

Apa lagi sih yang dicari? Toh kamu udah punya penghasilan sendiri.
When you already have 'steady job'  it doesn't mean  everything is done.
Awal aku masuk kuliah, aku salut sama mereka yang udah punya anak tapi masih semangat buat kuliah. Tujuan
Aku iseng nanya ke beberapa temanku, "Kamu kuliah buat apa, sih?"
dan mereka yang kebanyakan laki-laki itu menjawab, "Buat masa depan, lah. Kalau aku nggak kuliah, nanti anak istri aku gimana?"
Great.
Kalau hanya sekedar setelah lulus langsung kerja, semua orang juga bisa. Pada kenyataannya, beberapa perusahaan membedakan salary pegawai dilihat dari education background. Gaji seorang lulusan SMA akan berbeda dengan orang yang lulusan D3 atau S1. Tentu saja mereka yang lulusan D3 atau S1 akan mendapat gaji yang lebih besar walaupun misalnya yang lulusan SMA itu kerjaannya lebih banyak.
Sebenarnya itu tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan, sih. Ada perusahaan yang melihat kualitas karyawannya dari education background-nya, ada juga perusahaan yang tidak mempermasalahkan gelar tetapi lebih mementingkan skill yang dimiliki pegawainya.

Aku pernah bekerja di perusahaan yang tidak mementingkan gelar. Aku (lulusan SMA) mendapat gaji yang sama dengan mereka yang lulusan S1. Enak banget #siSasa. Jadi di kantor, aku sering dapat sindiran sinis dari mereka yang merasa superior hanya karena mereka 'bergelar'. Disindir-sindir itu nggak enak, guys. Sekuat apapun kamu mengabaikannya, tetap aja kedengaran. Kaya kata-kata "Lo yang cuma lulusan SMA tuh nggak pantes dapet gaji sekian." terngiang-ngiang terus gitu. Ganggu banget.
Dari situ aku janji sama diri aku kalau nanti aku bisa kuliah lagi dan aku punya gelar, aku nggak akan kaya gitu. Nggak akan. Ini mungkin bisa jadi pelajaran juga, kalau sekiranya kamu merasa kebijakan perusahaan soal salary itu nggak adil, bicarakanlah sama manajer atau si pembuat kebijakan. Bukan malah menyalahkan orang lain atas ketidakadilan yang kamu rasakan.

Aku juga pernah bekerja di perusahaan yang mempertimbangkan salary berdasarkan education background pegawainya. Jadi, waktu ditanya soal salary, aku sebutin nominal yang aku mau kan, terus dijawabnya, "Karena kamu lulusan SMA, jadi salary-nya sekian."
and I was like, "......."
((Karena kamu lulusan SMA))
Aku sedih banget kaya sertifikat dan pengalaman kerja aku yang sebelumnya ternyata nggak bisa jadi bahan pertimbangan. Kasarnya mau selama apapun pengalaman kerja kamu, kalau kamu lulusan SMA, then you deserve what High School graduate deserve. Aku nggak bisa protes apa-apa karena meskipun sekarang aku lagi kuliah, tetap aja aku itu lulusan SMA.

Lagi, pesan buat kalian yang setelah lulus SMA punya kesempatan buat melanjutkan pendidikannya, take it! :)



"Ngapain kuliah lagi? ujung-ujungnya juga kerja." 
Pertanyaan ini lucu, ya?
Seakan ada yang salah kalau pada akhirnya lulusan sarjana itu kerja. Meskipun aku sendiri nggak mau selamanya kerja sama orang. Tapi nggak ada yang salah kok kalau udah lulus terus kerja. Apalagi dapat kerjaan yang sesuai dengan passion kita terus salary-nya juga sesuai. Why not?
Seperti yang dosen aku pernah bilang, ada dua tipe orang:
Pertama, orang yang nggak bisa kerja sama orang lain. Dia pasti pengen punya usaha sendiri.
Kedua, orang yang bisanya kerja di perusahaan. Jadi dia emang suka kerja sama orang. Gitu.

Aku?
Ngapain kuliah lagi?
Karena aku pengen mengubah hidup aku juga keluarga aku.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri  mereka." QS 13:11
Aku nggak bisa terus-terusan kerja, nungguin tanggal gajian, bayar keperluan bulanan, ngirit buat 'bertahan hidup' (read: makan), kehabisan uang di akhir bulan, dan kembali nunggu tanggal gajian.  Gitu aja terus.
Aku juga pengen beli ini, beli itu. Makan yang enak dan lucu-lucu, jalan-jalan ke sana, ke sini. Beliin keluarga aku itu, ini. Ingin ini ingin itu banyak sekali kaya Nobita.
So, yeah. Ada banyak cara buat bikin itu jadi kenyataan salah satunya dengan kuliah.
Kita nggak menampik selain menuntut ilmu, tujuan kita kuliah lagi ya untuk dapat gelar sarjana, wisuda. Dengan begitu kita bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dengan salary yang lebih tinggi.
Gelar aja nggak cukup buat mengubah hidup. Kita butuh skill apapun itu yang sekarang semuanya bisa kita pelajari kapan aja, di mana aja.
Aku dan teman-teman lagi berjuang buat mencapai itu semua. Di foto ini, jarak umur kita beda-beda, tapi kita bisa kompak dan jadi satu. Ada yang udah punya anak, lagi hamil, dan masih jomblo(?).wkwk. Pokoknya semua bersatu. saling ngasih support,

Semangat!

Monday, 25 July 2016

Bingobox itu Apa, Sih?

 “Bingobox itu apa, sih?”
Semenjak Bingobox launching sekitar 3 bulan lalu, pertanyaan itu mulai menjadi makanan sehari-hari aku. Kenyang? Nggak.
Di satu sisi, aku senang kalau ada yang bertanya tentang Bingobox. Itu berarti aku berhasil membuat mereka penasaran. Tapi di sisi lain, aku merasa gagal. Ketika kita memperkenalkan sesuatu dan 8 dari 10 orang menanggapinya dengan bertanya “Itu apa, sih?”, “Maksudnya apaan?” saat itu aku yakin ada yang salah.

Kalian yang lagi baca ini juga mungkin bertanya-tanya Bingobox itu apa(?)
.
Iya kaaaan? Hehe.
Dan jawaban pertamaku selalu sama: Bingobox adalah kotak langganan atau lebih dikenal dengan  subscription box. Subscription box memang masih jadi sesuatu yang asing di sini. So, yeah. Butuh kekuatan ekstra untuk membuat Bingobox ini dikenal dan dimengerti oleh orang-orang. Ngertiin dia aja kamu mau, masa ngertiin Bingobox nggak? :( #Lah #Baper

Beberapa orang bilang setelah lihat website-nya, mereka masih nggak ngerti dan sama sekali nggak kebayang Bingobox itu apa? Ini cara dapetnya gimana? Kotaknya isinya apa aja?
Kadang rasanya aku pengen nanya balik kaya, “Kamu scroll dan baca keterangan yang ada di web-nya, nggak?” atau “Kamu udah coba klik pilihan kotaknya, belum?”
Sebenarnya ini juga jadi evaluasi buat aku. Apa keterangan yang aku tulis di sana se-nggak jelas itu kah? Karena aku nggak mungkin jawab pertanyaan mereka dengan, “Google aja.”  #YaKali  

Sambil baca ini, boleh dong buka satu tab lagi buat buka Bingobox. /smirk/
.
Udah?
Okay, kotak langganan. Itu berarti kamu langganan kotak. Nggak cuma koran, majalah, dan tabloid aja yang bisa datang secara berkala, (dua minggu sekali atau satu bulan sekali). Bingobox juga datang secara berkala satu bulan sekali.  
Sekarang coba deh kamu klik button Memulai Bingobox.  –LOADING– Taraaaaa!  Di halaman Pilih Kotak ini, ada 3 kotak dengan nama yang berbeda: Traditional, Craft, dan Import.
·        >  Traditional: cemilan-cemilan zaman dulu di era 90-an.

·  > Craft: Berbagai macam bentuk kerajinan Kokoru warna-warni yang terbuat dari bahan ramah lingkungan.

·     >    Impor: cemilan-cemilan impor yang nggak dijual di toko-toko terdekat.

Ketiga kotak inilah yang aku maksud dengan tema isi kotak.
“Terus isinya apa aja?”
Pertanyaan ini juga sudah menjadi cemilan aku sehari-hari. xD
Kalau kamu baca halaman pertama di web Bingobox, di sana tertulis ‘Kotak Misteri’ dan ‘Kami Mengirimkan Kejutan’. Ya, isi kotak Bingobox itu rahasia surprise dan akan berbeda-beda setiap bulannya. Bingobox berusaha memberikan kejutan yang berbeda buat kamu. Tidak hanya isinya, tapi juga waktu kedatangan Bingobox yang unpredictable. Tapi tetap ada sneak peek-nya kok kaya untuk bulan ini isinya ada apa, yaaa. Biasanya sneak peek itu ada di twitter atau di instagram.  

“Yah, kalau gitu kaya beli kucing dalam karung, dong?”
Hm.. Kamu bisa kok search dan cek subscription box lain di luar sana. Dan yang namanya subscription box, items-nya memang dipilihkan sesuai dengan tema yang kamu mau. Itulah seni dari langganan kotak. For noted, subscription box is not online shop.
Kembali ke kotak! Misalnya kamu klik salah satu dari tiga pilihan tema tadi. Coba klik deh. Muncul pilihan lagi. Ya, begitulah.. Hidup ini memang penuh dengan pilihan. #ApasihSaa
Berapa lama Anda ingin berlangganan? Kamu bisa langganan untuk 1 bulan, 3 bulan sampai 6 bulan. Kebayang dong setiap bulan dapat kiriman Bingobox? Pokoknya semakin lama kamu berlangganan, semakin hemat biayanya.  :Db

Aku suka promosi dan mengenalkan Bingobox di semua sosial media yang aku punya. Nggak jarang aku langsung mengirim pesan secara personal untuk mengenalkan Bingobox ini. Respon orang-orang terhadap Bingobox pun bermacam-macam. Ada yang tertarik, ngasih support, komentar, ada juga yang biasa aja, bahkan cuek sama sekali. Nggak jarang aku baper karena tanggapan-tanggapan mereka. Yeah, girls will be girls. But I have to handle it.
Dan ini baru awal.  Aku masih dan akan terus belajar buat bikin Bingobox jadi lebih baik lagi. Aku ingin mewujudkan mimpi lewat Bingobox...

....To be Continued x)

Friday, 24 June 2016

Smoker on The Road

Mungkin kalian, khususnya pengendara sepeda motor, pernah mengalami kejadian 'tersemprot' asap rokok saat berkendara di Jalan. Bagaimana ya menjelaskannya?
Jadi kita ada di belakang pengendara motor yang sedang melaju dan dia juga sedang merokok.
Kebayang dong asapnya bakal ke mana? Ya ke belakang kita.
Dan rasanya itu hampir sama kaya kena semprot asap knalpot truk atau bus yang hitam seperti awan hujan badai. Nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Nggak enak.
Terkadang aku pikir mereka sadar nggak sih yang mereka lakukan itu.... JAHAT!
Sebenarnya bukan hanya pengendara motor. Pengendara mobil pun begitu. Mereka dengan 'watados'-nya membuang abu ke jalan melalui jendela. Tanpa disadari abu itu mengenai pengemudi motor yang berada di belakangnya.
AAAAAA!!!!!
Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap smoker on the road ini.
Sedihnya lagi, mereka tidak hanya merugikan orang lain tetapi juga lingkungan. Udah merokok sambil mengendarai, asapnya kena orang lain, buang abu dan puntung rokoknya juga sembarangan.
Malu gak sih?
Nggak.
Kalau malu mereka nggak mungkin seperti itu. Sedih, ya? Banyak banget orang egois.
Sebagai pengendara motor yang tidak merokok ingin rasanya aku mengeluarkan sumpah serapah kepada mereka yang merokok dan buang puntungnya gitu aja.
True, aturan denda, larangan merokok di tempat umum atau apapun di negara ini seakan hanya menjadi hiasan. Sangat sedikit mereka yang peduli. Apa namanya kalau bukan egois?

Wednesday, 22 June 2016

Aku

"Aku harus jadi seseorang. 
Aku nggak mau boleh jadi orang yang biasa-biasa aja."

Bahkan jika setelah aku menikah dan berkeluarga, aku nggak mau hanya jadi orang yang sekedar menjalani hidup apa adanya. Banyak orang khususnya perempuan yang 'berhenti' setelah dia menikah lalu kemudian punya anak. Entah itu berhenti bekerja atau berhenti mengejar cita-citanya dengan alasan 'demi anak'. Lain halnya jika suaminya melarang sang istri untuk bekerja.  
Memang tidak ada yang salah dengan menjalani hidup apa adanya. 
Tapi aku nggak akan menjadikan pernikahan dan berkeluarga menjadi penghalang untuk terus berkembang, meraih cita-cita, dan menjadi seseorang. 

Aku akan jadi seseorang yang sukses. Aku harus jadi orang yang sukses karena aku nggak mau selamanya hidup jadi orang yang biasa aja. Aku nggak mau selamanya jadi karyawan yang dari hari Senin-Jumat bahkan Sabtu harus pergi ke kantor dan bekerja di sana selama 8 jam atau lebih. 
Nggak mau selamanya jadi orang yang bahagia hanya saat weekend datang dan sedih saat tahu besok adalah hari Senin. Nggak mau keuangan aku ditentukan oleh tanggal tua atau muda. Nggak mau waktu aku diatur sama jam kerja. Berharap kalender itu warnanya merah semua(?)

Ya, aku ingin jadi orang kaya. Siapa yang tidak mau?
"Kalau kamu (perempuan) mau jadi kaya ada dua pilihan: nikah sama anak orang kaya atau sama om-om  (kaya)." 
Akui saja, itu quotes yang realistis enough to do(?). 
HAHAHA. 
Banyak yang memilih cara itu dan tidak ada yang salah. Terserah saja. 
Siapa yang nggak mau hidup 'mapan'?

Aku?
Aku mau. Hanya saja dari dulu aku tidak punya prinsip seperti quotes tadi: membuat 'kualifikasi' dari harta yang dimiliki seseorang atau orangtuanya. Nggak. 
Aku lebih suka seseorang yang berusaha. dan aku menemukan itu dalam dirinya. :)
Quotes itu nggak mutlak. 
Aku bisa kaya tanpa harus menikah sama kategori orang yang disebut quotes itu. 
Aku bisa kaya karena usaha aku dan dukungan dari orang-orang yang aku sayang. Aku sadar aku banyak banget maunya. Pergi ke sana, ke situ, beli ini-itu, ajak jalan-jalan keluarga, jajan, makan makanan enak,beliin dia ini-itu, pake aplikasi berbayar jadi premium, banyak banget.

Itu kenapa aku harus jadi 'seseorang'. 

Friday, 18 March 2016

Untitled - Part 1



“ANJ*NG LO!”  Terdengar suara Ayah disusul dengan suara benda yang dibanting. Entah apa yang dia banting, yang aku tahu sumpah serapah itu ditujukan pada Ibu. Aku duduk bersandar dibalik pintu kamar dengan tatapan kosong memeluk kedua lutut.

Tidak ada perempuan yang tidak sedih saat mendengar perkataan kasar keluar dari orang yang dia sayangi. Tidak ada. 

Ini memang bukan pertama kalinya aku mendengar Ayah membentak dan memarahi Ibu seperti itu. Tapi ini kesekian kalinya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku, Ibu.
Masih terdengar suara Ayah dengan nada tinggi mengulang-ulang perkataannya. Perkataan yang tidak sepantasnya dilontarkan begitu saja kepada wanita yang sapai saat ini menjadi teman hidupnya saat susah dan senang.
Ibu tidak sengaja me-reject telepon dari Kakak yang sedang tugas ke luar kota dan aku rasa itu bukan masalah. Kenapa Ayah harus marah-marah? Kalaupun memang ada masalah lain yang aku tidak tahu, dia tidak seharusnya bersikap seperti itu pada Ibu.
Aku malu. Suara Ayah pasti terdengar sampai ke rumah sebelah. Meskipun sebenarnya aku tidak peduli dengan apa yang akan mereka pikir terhadap keluargaku, tapi aku malu. Mereka pasti merasa terganggu dengan ini.
Ayah, Apa Ayah benar-benar mencintai Ibu?
***
“Kenapa Ibu tidak berpisah saja dengan Ayah?” Pertanyaan ini membuat komik yang sedang dibaca Kakak mendarat di kepalaku.
“Aw!”
“Kamu kalau ngomong jangan asal! Ucapan itu doa!”
“Aku nggak lagi berdoa, aku cuma nanya.” Aku melempar balik komik itu.
“Kenapa kamu nanya kaya gitu?”
“Kalau berpisah dengan Ayah bisa membuat mereka bahagia, kenapa nggak?”
Kakak terdiam, melanjutkan membaca komiknya.
Aku tahu sekarang dia tidak sedang benar-benar membaca. Tatapannya kosong.

Selama ini, sekecewa apapun aku, Kakak, dan Ibu, kami tidak pernah mengeluh apa lagi marah-marah pada Ayah. Ibu mengajarkan aku dan Kakak untuk tetap menghargai Ayah sebagai kepala keluarga. Seharusnya Ayah tahu itu. Seharusnya Ayah juga tahu bagaimana menghargai wanita yang sudah bersedia menjadi pasangan hidupnya.

“Kita doakan saja semoga Ayah berubah.” Perkataan yang sering Ibu katakan setiap tahu aku diam, menahan marah pada Ayah. Aku dapat merasakan harapan yang Ibu punya setiap beliau mengatakan itu. Tapi mungkin Ibu tidak tahu di dunia ini ada teori tentang people don’t change.
Atau mungkin Ibu tahu, beliau hanya pura-pura tidak tahu.

Terkadang aku takut suatu hari setelah aku menikah, suamiku nanti akan seperti Ayah yang suka berkata kasar dan marah-marah saat merasa kecewa. Aku tidak mau diperlakukan seperti itu. Aku tidak sekuat Ibu. Aku takut, Bu.

Setidaknya tidak semua laki-laki di dunia ini sama.
Itu yang membuatku masih memiliki harapan dipertemukan dengan laki-laki yang tahu bagaimana seharusnya memperlakukan perempuan sekalipun saat dia merasa kecewa.

***

Monday, 14 March 2016

Matilda

Aku suka membaca.
Setidaknya itu yang aku suka sejak aku masuk sekolah (read: TK).
Saat jam istirahat atau jam pulang sekolah aku masuk ke perpustakaan dan membaca. Jadi, jika Ayah  datang menjemput dan tidak menemukanku di kelas atau taman bermain, itu berarti aku berada di perpustakaan.
Alasan lain kenapa aku suka perpustakaan adalah AC.
Ya enak aja gitu, adem. #mulai
.
.
I'm not that nerd.
Aku juga suka bermain menyusun balok, manjat-manjat, main ayunan bersama teman-teman.
Kakak sepupuku punya banyak buku di rumahnya. Aku senang saat melihat tumpukan atau susunan buku yang rapi di rak dan aku bisa membacanya kapan saja.
Mungkin ini salah satu alasan kenapa aku suka mengkhayal.
Saat aku membaca, aku membayangkan apa yang aku baca. Dan itu menyenangkan.

Matilda adalah salah satu buku yang pernah aku baca dan saat ini aku seperti ingin membacanya kembali. Buku karya Roald Dahl ini memang bagus-bagus.

Suatu hari, kelak ketika aku punya anak, aku akan membuat perpustakaan kecil di rumah. Perpustakaan yang menyenangkan!

Thursday, 3 March 2016

Just Do It

Aku baru saja membaca sebuah buku cerita yang menginspirasi dan ingin membagikannya pada kalian dengan judul yang sama, Just Do It.



Source: 101 Kisah Inspiratif – Assep Purna

Mungkin ada beberapa orang yang pernah membaca cerita ini. Pada saat kembali dari pelayarannya mencari India, Columbus dijamu dalam sebuah pesta besar. Ditengah-tenga pesta, Columbus bercerita pada orang yang mengelilinginya. Mulai dari awal persiapan hingga berbagai hal menarik yang ia temui saat berlayar. Orang-orang kagum mendengar ceritanya.

Di kejauhan, beberapa orang yang iri mulai berkomentar, “Ah, apa yang istimewa darinya? Semua orang juga  bisa berlayar dan menemukan benua baru. Itu biasa.”
Komentar ini lalu disampaikan oleh seorang sahabat Colombus.
Hal itu membuat Colombus tersenyum dan tertarik untuk mematahkan pendapat orang-orang iri itu. Ia meminta sebuah meja dan  telur rebus yang masih utuh kulitnya. Lalu menantang, “Siapapun yang bisa membuat telur ini berdiri tegak pada ujungnya di atas meja, akan mendapatkan semua gelar yang kumiliki dan seluruh harta kekayaanku.”

Orang-orang yang iri tadi mengambil tantangan tersebut. Mereka berusaha menegakkan telur itu di atas meja. Tentu saja tidak ada yang berhasil karena setiap telur di dunia berbentuk elips yang tidak mungkin bisa tegak.

Colombus akhirnya maju setelah semuanya menyerah. Ia lalu meretakkan bagian ujung telur tersebut dengan menekannya keras-keras ke atas meja. Telur itu sekarang berdiri tegak karena ujungnya sudah tidak bulat lagi.
Namun, reaksi orang-orang yang iri tersebut, “Kalau begitu caranya kami juga bisa.”
“Lalu mengapa tidak kalian lakukan?” Jawab Colombus.


Kadang yang membedakan pecundang dan pemenang hanyalah soal apa yang sudah mereka lakukan, bukan apa yang sedang mereka pikirkan.

Tuesday, 1 March 2016

Welcomaret!

It's never too late to say share sorry story. 
Cause I'm missing more than just your body ~ #Lah #Nyambung

Haloo!
Meskipun sekarang bulan Juni, tapi tulisan ini adalah cerita tentang bulan Maret.
Aku lupa apa aku pernah tulis salah satu keinginan yang ini apa belum: Resign (dari kantor lama).
Kayaknya belum, sih. 
Aku memang nggak begitu banyak cerita tentang keinginanku yang satu ini. Hanya orang-orang terdekat aku aja yang tahu betapa inginnya aku keluar dari sana. Salah satu alasannya adalah jenuh. Aku merasa aku tidak akan maju dan berkembang kalau tetap berada di sana. Kehidupanku akan gitu-gitu aja dan aku nggak mau. Aku nggak mau 'gitu-gitu aja'.
Entah kenapa aku yakin banget aku akan bisa menjadi lebih maju dan lebih baik kalau aku keluar dari sana. Aku bahkan masih ingat saat Ramadan tahun lalu, aku bilang sama diri aku sendiri "Ini adalah puasa terakhir aku di sini." 

Sebenarnya simple, kalau mau resign ya resign aja. Ribet amat lu, Sa. 
Iya, kan?
Tapi kenyataan tidak se-simple itu. Khususnya bagi orang-orang seperti aku kalau aku resign begitu saja. 
Mungkin kalian tahu kalau ada rumus:
RESIGN* = BUNUH DIRI  
*belum dapat pekerjaan baru.

dan rumus mengerikan itu berlaku untukku. 
Ini adalah kenyataan tersesak yang pernah aku rasakan. Aku harus punya pekerjaan baru sebelum aku mengajukan resign. 
Aku harus tetap bekerja sampai aku dapat pekerjaan baru. 
Saat itu aku menjalani hari dengan agak terpakasa karena aku tidak punya pilihan lain selain bertahan, setidaknya untuk sementara.
Tidak perlu dibayangkan bagaimana rasanya menjadi aku saat itu.
Seperti robot, setiap hari aku harus memaksa diriku untuk pergi ke tempat yang aku tidak ingin. Setiap hari aku harus melakukan pekerjaan yang aku sudah tidak ingin mengerjakannya. Demi bertahan hidup. Demi uang.  

Aku sering mengeluh sampai Ayah dan Ibu mengingatkanku untuk ikhlas. "Bekerja itu ibadah. Jangan berhenti berdoa dan berusaha." 
Setiap hari, di sela-sela jam kerja, aku mencari informasi lowongan kerja, mengirim lamaran kerja melalui email, dan membuat akun di berbagai platform lowongan kerja kemudian mengirim lamarannya. 
Satu minggu, dua minggu, tidak ada tanda kalau aku diterima atau diundang untuk interview. 
Aku sempat berpikir kalau situs pencari lowongan pekerjaan itu bohong, php. Padahal, mungkin memang kualifikasi yang aku punya tidak cocok dengan mereka. Aku tidak menyerah. Kakak pernah bilang "Dari ratusan lamaran yang kamu kirim, pasti ada satu yang masuk." dan aku percaya.

Suatu hari ada panggilan interview pertama di perusahaan cctv. Aku senaaaang sekali. 
Namun, aku tidak mengambil kesempatan itu karena lokasinya yang sangat jauh. 

Setelah itu aku tidak mendapat panggilan interview dari manapun selama beberapa bulan. Padahal, aku terus mengirim lamaran pekerjaan.  
Pernah dengar orang bilang "Mendapatkan pekerjaan itu susah." ?
Ya, itu benar. Bahkan untuk orang yang sudah sarjana sekalipun karena kenyataannya memang begitu. Di satu sisi, aku bersyukur aku bisa bekerja di saat ratusan bahkan ribuan orang belum mendapat pekerjaan. Tapi di sisi lain, aku tidak ingin selamanya seperti ini. 

Sekitar bulan apa (#lupa) di 2015, satu lamaran kerja aku diterima dan aku diundang untuk mengikuti psikotest di salah satu super market di Bandung. Bisa dibilang, itu pertama kalinya aku mengikuti psikotest kerja. Ada sekitar 20 orang yang mengikuti psikotest dan hanya akan ada satu orang yang diterima.  Aku sempat berpikir "Apa mereka semua ini 'saingan'ku?" Dari situ aja kita sudah bisa dilihat banyak banget orang yang mencari pekerjaan. Saat interview, aku sudah feeling nggak akan diterima. Tapi tidak jadi masalah juga karena aku tidak begitu 'sreg' sama sistemnya. 
Lagi, aku harus bersabar. :)

Di saat aku mulai hopeless, ada telepon dari tempat les bahasa Inggris yang aku lamar. Rasanya? Aku suka bahasa Inggris. Aku senang banget! Mereka memintaku datang untuk interview. Eh, ternyata ada test lagi! Test excel yang aku nggak ngerti harus pakai rumus apa, tapi aku kerjakan sebisanya. Saat interview, aku merasa kurang nyaman dan feeling lagi nggak keterima. 
Benar saja, setelah hari itu aku tidak dihubungi lagi yang berarti tidak diterima. Jujur cara "tidak dihubungi lagi" ini adalah cara tergajelas dalam dunia kerja. Aku pernah menulis tentang itu di sini
Padahal, aku sudah membayangkan betapa asiknya bisa bekerja di tempat les bahasa Inggris. :')
"Mungkin ini yang terbaik untuk aku." Aku bilang itu ke diri aku sendiri berulang-ulang buat menghibur diri. 

Kalau diingat lagi, ada satu hari setelah gajian aku menangis sampai sengguk-senggukan. Aku menangis di kantor. Kebetulan tempatku bekerja di bawah tangga dan tidak ada orang lain lagi selain aku.  Aku menelepon Mami sambil menahan tangis, "Mi, Sasa pengen resign." setelah itu tangisanku pecah karena aku tahu aku tidak bisa resign begitu saja. Aku tidak mau menambah beban orangtua. Tetapi aku tetap menangis. Mengulang kata "Sasa pengen keluar aja." meskipun itu tidak akan mengubah apa-apa. Aku tahu apa yang aku lakukan hanya kana membuat orangtuaku sedih. Tapi aku nggak bisa menyembunyikan perasaan aku saat itu. Maafin Sasa ya, Mi, Pi.

2016 datang. Awal tahun aku biasa menulis mimpi-mimpiku dan resign masih menjadi salah satunya.
Siang itu, aku mendapat email dari perusahaan yang menyebutkan aku diundang untuk wawancara. 
Tidak lama setelah itu, ada panggilan masuk dari perusahaan yang sama. Dia bertanya, "Sekarang posisinya masih bekerja apa sudah resign?" 
pertanyaan yang bikin dilema. Mau bilang udah resign, aku masih kerja. Kalau bilang masih kerja, takut nggak diterima. :(
Akhirnya aku bilang "Aku masih kerja. Tapi aku udah mau resign." 
"Hmm, yaudah kalau gitu besok datang dulu aja buat interview." 

Interview kali itu, membawaku keluar dari kantor yang lama. Aku sangat bersyukur. :")
1 Maret 2016, keinginanku untuk resign terkabul. Berkat doa orang tua dan dukungan orang-orang terdekat. Aku resign dan memulai cerita yang lebih bahagia. 
Alhamdulillah.
Begitulah awal Maretku.

Bingo Box


Dua Puluh Tahun

Tenang, kali ini kita tidak akan bertemu aku 20 tahun lalu. Haha. Dua puluh tahun adalah alasanku 'menolak' orang yang pertama kali ...