Sunday, 1 November 2015

IJWHY



The number you’re calling is not active or out of coverage area, please try again in a few minutes.
.
My tears fall as I hear that.
It was like I want scream to her (that operator’s voice): “I’VE TRIED IN A MORE THAN FEW MINUTES! EVEN I’VE TRIED IN EVERY TEN MINUTES! YOU LIAR!” then I burst into tears.
And I wonder if she could answer my scream she perhaps would say “Did I say that if you try again in a few minutes, someone out there will automatically activate the phone? Please, be smart.”
“THEN TELL ME WHERE IS THE OUT OF COVERAGE AREA YOU MEAN!!!!?”
“NOW TELL ME WHERE HE IS!!” :(
/Tulalit.. Tulalit/
I don’t want to debate with cell phone operator anyway.                                                     

I just want to hear your voice.
I just want to see you. I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
I just want to hug you.
Kakak.
I just want to hug you.

Sekotak Pizza Untuk Ayah dan Ibu



Aku pernah menulis beberapa mimpiku di blog ini. setelah aku cari-cari sampai buka postingan satu-satu, akhirnya aku menemukannya. #fyuh
Kata orang, kalau kamu punya mimpi, tulislah mimpi itu. So I wrote it. Meskipun yang aku tulis itu baru sebagian dari sekian banyak mimpi yang aku punya.

Kemarin, aku dan adikku berusaha membuat mimpi itu jadi kenyataan. Mimpi nomor lima. Sebenarnya dari dulu aku ingin sekali bisa traktir Mami, Papi, dan Ihsan makan di Pizza Hut. Mimpi sederhana yang bagi sebagian orang itu mudah untuk mewujudkannya. Karena Mami sama Papi belum bisa ke Bandung, jadi biar aku bawain aja pizza-nya. Hehe. Yang penting bisa makan pizza bareng-bareng :)
Ini bukan pertama kali aku bawain pizza buat keluarga di rumah. Dulu aku pernah bawain dua kotak pizza. Waktu itu adik aku lagi sakit, jadi aku pikir dia akan sembuh kalau aku beliin pizza(?) Hehe.
Sekarang?
Sekarang aku bawain pizza dalam rangka ‘surprise’ ulang tahun mami yang sebenarnya bukan kemarin atau hari ini. Nggak apa-apa lah kecepetan juga. Sedih sih, karena aku belum bisa ngasih sesuatu yang berarti. Padahal di kepala ini banyak banget hal yang seandainya aku bisa, aku pasti bakal kasih buat mami. Mungkin belum. Maafin Sasa ya, Mi..
Pulang kerja, aku dan adik aku mampir dulu beli pizza. Pas udah beli, aku bingung bawanya gimana. Haha. Tahu, kan? Kotak pizza itu bentuknya segi lima. Sedangkan aku sama adik aku naik motor. Akhirnya aku pegangin kotak itu di sebelah kiri, terus kalau pegal ke kanan, kalau lagi macet dan rame banget aku ke atasin kaya yang jualan gorengan. #Bomat Pokoknya pindah-pindah biar nggak kesenggol XD kocak deh!
Sepanjang jalan aku mikirnya apa coba?
“San, uni berasa jadi spiderman nih yang anterin pizza.” Tapi omongan aku nggak digubris sama dia. Kalau aku udah mulai ngayal-ngayal gitu dia suka diemin -__- wkwk #kasian
Rasanya kaya delivery pizza special karena delivery ini menempuh jarak lebih dari 45 km. Wiii.
Dari yang awalnya masih hangat sampai akhirnya pas nyampe pizza-nya udah dingin. Tapi, melihat mereka, Mami sama Papi, senang semua perjuangan dan keribetan yang aku lalui selama di jalan itu hilang. Jadi benar ya, selelah apapun, serepot apapun kalau kita melihat orang-orang yang kita sayang bahagia, semua rasa lelah itu bukan apa-apa.

Happy early birthday, Mami. I love you!
Alhamdulillah, mimpi aku jadi kenyataan (lagi).

Friday, 30 October 2015

"So sweet"



Sejujurnya, dari awal aku nggak pernah berharap apalagi sampai membandingkan kisah cinta aku dengan kisah cinta orang-orang. Aku nggak pernah merasa ingin seperti mereka- sama sekali- karena aku bahagia dengan dia, dengan ceritanya, dan dengan hubungan aku sekarang. No matter what, no matter how. Kind of grateful. :)
Kemarin ada teman kampusku, cowo, dia bercerita tentang moment saat dia memberikan surprise anniv ke pacarnya. Awalnya memang aku yang ikut nimbrung ngobrol, aku nanya “Eh, Ramdan, itu kemarin anniv di mana? So sweet bangett.” (jadi malam kemarin aku melihat dp dia sama pacarnya lagi dinner di tempat yang aku nggak tahu dengan caption “happry anniv bla..bla..bla” aku nggak ingat. HAHA. Intinya tempatnya bagus.
“Di mana coba? Bagus, kan?”
“Di Punclut, ya? Haha.” Aku asal sebut.
“Parahlah dikira di Punclut.” Teman-teman yang dengar jawabanku ikut tertawa.
“Di mana atuh? Di sky sky itu, ya? Apa sih namanya tuh.” Aku lupa nama tempatnya. (Setelah aku google, “sky sky” yang aku maksud adalah the 18th Restaurant and lounge), tempatnya seperti ini:

background dp-nya tuh mirip kaya gini

“Bukan. Di Dago.”
“Di Dago emang ada yang kaya gitu?”
“Ada dong. Gatau ya?”
Kemudian tanpa aku minta dia memperlihatkan hasil foto-foto anniv mereka. Ngeliatinnya bukan cuma ke aku aja, di sana kita lagi pada ngumpul gitu sambil ngerjain tugas yang aku nggak mau sebut nama tugasnya.
“Wiih.” aku ikut senang melihat foto-fotonya.
“So sweet ya.”
“Iyaaa.” Jawabku terpesonaa lihat pemandangannya.
“Di sierra.”
“Sierra?” (Aku langsung kepikiran band  Indonesia yang namanya mirip-mirip: Vierra) -__-
Dia google terus ngasih lihat ke aku tempatnya.
"Nih, Sa."
pagarnya bikin mirip ((pagar))
 
“Wah iya. Duh so sweet banget ih Ramdan.”
“Iya dia sampai nangis geura, Pak.” Katanya.
“Terharu itu tehh.” Kata Pak Agus, teman kampus aku yang memang sudah jadi bapak. Hehe.
“Sasa mau juga yaa kaya gini sama Aa-nya?”
“Nggak juga.” Jawabku.
“Hmm… Masa?” Gumam dia nggak percaya. Nada ngecengin gitu. Kemudian dia melanjutkan ceritanya ke kita yang mendengarkan. Aku termasuk yang suka excited gitu kalau dengar cerita-cerita bahagia dari mereka.

Tapi bukan berarti aku mau kaya gitu. Mungkin karena aku berkomentar ”so sweet bangett.”(?) jadi kesannya kaya aku juga pengen kaya gitu.
No. Nggak selalu tanggapan “So sweet” dari seorang perempuan itu berarti “Yaampun gue pengen ih kaya gitu.” Nggak.

Aku bilang “So sweet” itu karena ya emang sweet aja gitu dia ke cewenya. Bukan berarti aku envy sama mereka dan ingin seperti itu. Karena aku pikir itu cerita mereka, itu cara mereka menjalani dan menjaga hubungannya, dan sama sekali nggak ada kolerasinya sama hubungan aku.
Aku memang punya banyak khayalan tentang kita yang intinya bahagia. Misalnya pas lagi dengar lagu apaa, terus kebayang. Hehe #tetep. Aku juga punya banyak mimpi yang “someday kita ke sana, ya.” gitu ada.

Tapi aku nggak pernah dan nggak akan pernah ngode, minta atau bilang “Pengen ih kaya gitu (mereka).”
Juga, meskipun aku dulu suka drama dan ngedrama, aku nggak akan menuntut atau minta pasangan aku buat jadi seseorang seperti yang ada di tokoh film A/B/C/D. Nggak akan.  
Karena aku percaya sama dia kalau dia punya caranya sendiri buat bahagiain aku. Bahkan sebenarnya banyak banget hal-hal yang mungkin menurut dia itu bukan sesuatu yang ‘so sweet’ tapi aku merasa those are the sweetest things he did ever.
What things?
Dari sekian banyak.. aku cerita satu nih, ya.
#Ehem
Waktu kita ngantri buat dapat es krim magnum white almond gratis di konsernya Raisa. Ngantri biasa gitu, terus yang kebagian dapat es krim duluan tuh dia kan karena aku berdiri di belakang dia. (Kalau antri-antri gitu aku emang suka berdiri di belakang dia sih. Meskipun seringnya dia nyuruh aku duluan/di depan) Aku sih asik-asik aja liatin petugasnya meracik es krim. Tapi apa? Unexpectedly, he gave me that ice cream to me and I was like “Jinjaaa!!” (dalam hati) >.<  #mulai -___-
Buat kalian yang belum tahu, jinja itu artinya benarkah. Biasa diucapkan orang Korea ketika dia nggak percaya, bisa nggak percaya karena kaget atau excited, sama apa yang dia lihat atau dia dengar.

Aku nggak pernah nyangka dan kepikiran kalau dia mau ngasih es krim yang udah dia dapat duluan itu ke aku dan dia jadi nunggu es krim yang lagi dibuat (yang asalnya buat aku).
Mungkin bagi sebagian orang, itu hal sepele dan berpikir “so sweet”-nya tuh di mana?
Tapi buat aku itu sesuatu yang bikin aku melting cantik like that ice cream. (Apalagi melting catik -___-)
So, yeah.

Jadi, buat kalian yang masih suka berharap pasangannya bakal melakukan apa yang kalian lihat di film, drama, mulailah berhenti dan lihat kenyataan. Kalau kita berasama orang yang tepat, kalian bakal sadar kalau kenyataan dan cerita kalian itu lebih indah dan seru dibanding drama-drama yang suka kalian tonton.
Buat kalian yang masih suka berharap dan berkhayal punya pasangan  kaya si X di film Z, cobalah untuk ngak terpaku sama film buat melihat sifat dan karakter lawan jenis kamu. #SoBijak
Ngomong-ngomong soal dia…
Aku kangen.

Friday, 23 October 2015

Kamu tahu nggak?

Kamu tahu nggak?
Siapa yang paling sakit ketika dia sakit hati?
Siapa yang paling merasa terpukul melihat dia ‘disakiti’, dikecewakan orang?
Bukan. Bukan dia.
Orang tuanya. 

Rasa sakit yang dia rasakan itu belum seberapa dibanding perasaan mereka melihat dia, anaknya, ‘terluka’.
Meski tidak akan sama, aku yakin kamu pernah sakit hati. Jadi aku pikir, setidaknya kamu tahu bagaimana rasanya(?) Dan aku yakin kamu pun nggak mau sakit hati. Nggak mau disakiti, dikecewakan, dibohongi, apalagi dikhianati.

Lalu kenapa kamu menyakitinya?

Bukankah orang tua dia adalah orang tua kamu juga?
Kamu ingat bagaimana kamu datang ke rumahnya, wanita yang kamu sayang, dengan membawa keluarga besarmu meminta izin pada orangtuanya untuk melamar dan akan menikahi dia yang kamu cinta? Wanita yang kamu pilih untuk menjadi teman hidupmu.
Kamu menikah untuk apa? Untuk hidup bahagia bersamanya, kan? Untuk membahagiakannya, kan? Membangun keluarga bersamanya, kan? JAWAB!

Lalu kenapa kamu menyakitinya?

Apa kamu ingat bagaimana perasaanmu ketika orangtuanya menerima kamu sebagai pendamping hidup putri mereka? Apa kamu ingat apa yang dikatakan mereka padamu untuk menjaga, melindungi, membimbing, menafkahi dan membahagiakan putrinya?
Mereka  merawat, mendidik, membesarkan dia yang kamu sayang sampai dia tumbuh menjadi wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta. Tanpa mereka kamu tidak akan pernah bertemu dengan wanita secantik dan sebaik dia.

You know, you’re not the ONLY man in this world, dude. 
Apa kamu pernah berpikir kenapa, dari dari sekian laki-laki yang ingin menikah dengannya, kamu yang mereka izinkan menjadi pasangan hidup anaknya? Mereka setuju anaknya menikah denganmu itu berarti mereka sudah memberikan kepercayaan penuh padamu untuk menjaga putri mereka.
Mereka percaya padamu.

Mereka percaya.

Dibalik sikapnya yang dingin, seorang ayah menyembunyikan betapa ‘berat’ melihat putri kecilnya ‘diambil’ oleh pria lain. Tapi kamu berhasil meyakinkan secara tersirat bahwa “putri kesayangan Bapak akan hidup bahagia bersama saya”.
Apa kamu sadar betapa beruntungnya kamu diberi kepercayaan itu?

Lalu kenapa kamu menyakitinya?

Mereka yang kamu kecewakan sebenarnya sama sekali tidak ingin jawaban dari pertanyaan “kenapa kamu menyakitinya?” 
They really don’t need your bullshit reason.

Dalam kehidupan pasti ada masalah, bicarakanlah terus terang. Bukan malah kamu menjadikan wanita lain sebagai solusinya. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kamu telah memutuskan untuk menikahinya itu berarti kamu siap menerima semua yang ada pada istri kamu. Semua.

Dia bukan seorang yang sempurna, begitu juga kamu. Kamu pikir kamu sempurna, hah!?

Dia bisa menerima kekuranganmu, menyembunyikan kelemahanmu dari orang lain. Dia tidak pernah mengumbar kekuranganmu pada orang lain, cukup dia yang tahu apa saja kekuranganmu, biar orang lain melihatmu sebagai sosok suami yang ‘sempurna’. Dia benar-benar menjadi ‘pakaian’ untukmu.
Lalu kenapa kamu ….?   
Wanita seperti apa (lagi) yang ingin kamu jadikan pasangan hidup?
Semua tahu akan selalu ada wanita yang (terlihat) lebih cantik, (terkesan) lebih baik, lebih cerdas. Semua juga tahu akan selalu ada pria yang (terlihat) lebih tampan, lebih baik, lebih kaya, lebih segalanya. Daripada kamu.  
Tidak cukupkah rasa bersyukur kamu selama ini? 
Tidak cukup kuatkah iman kamu?
Terkadang aku ingin bertanya pada kalian pria yang merasa sempurna dan tidak bertanggung jawab, kalian itu sebenarnya laki-laki apa bukan?

Then which part of cheating is challenging?
Constantly lying? Hiding your feelings?
What about loyalty? Stick to the commitment you made earlier even though you met better, prettier, nicer, than your partner. Isn’t it more beautiful than anything? Yes, it is. 

Dua Puluh Tahun

Tenang, kali ini kita tidak akan bertemu aku 20 tahun lalu. Haha. Dua puluh tahun adalah alasanku 'menolak' orang yang pertama kali ...