Monday, 8 June 2015

Adik aku



Rasanya baru tahun kemarin aku menulis tentang adik aku yang ulang tahun. See how the time flies!
Ketika aku baca ulang tulisanku tahun lalu, aku sadar kalau doaku terkabul: bisa melanjutkan sekolah di sekolah yang diinginkan.
Aku selalu bilang pada diriku sendiri kalau apa yang aku rasakan yang nggak enaknya itu nggak boleh dirasakan juga oleh adik aku dan anak-anak aku nanti. Karena aku belum menikah dan punya anak (hehe) maka aku fokus ke adik aku. Bagaimanapun adik aku nggak boleh ngerasain apa yang aku rasain. Itu yang selalu aku bilang sama diri aku sendiri.
Setelah akhirnya aku mendapat pekerjaan, aku bertekad untuk mengumpulkan uang untuk biaya kuliah adik aku nanti. Aku rela nggak jajan kaya shopping berbulan-bulan atau apa setelah gajian, sampai sekarang. Haha. Meskipun masih kurang dari cukup, tapi setidaknya uang yang aku kumpulkan bisa membantu adik aku untuk sekolah. Pokoknya adik aku harus sekolah!
Bulan Agustus lalu, doa dan apa yang selama ini aku korbankan alhamdulillah  menjadi kenyataan.
Kalian mungkin tidak percaya atau bahkan tidak peduli bagaimana aku melewati semuanya sampai akhirnya adik aku bisa melanjutkan sekolah. Siang itu, aku sudah seperti anak hilang yang menangis sampai susah bernapas sambil mengendarai motor. Aku baru sadar sebenarnya apa yang aku lakukan (menangis sambil mengendarai) itu sangat membahayakan aku dan orang lain karena kau tahu, kan? Saat menangis pandangan kita menjadi buram terhalang oleh air mata yang siap jatuh kapan saja jika kau tak bisa membendungnya lagi. Selain itu, pikiran kita juga tidak fokus dan itu sangat berbahaya.
Baiklah, aku tahu aku bukan kakak idaman orang-orang bahkan mungkin adikku sendiri berharap kakaknya adalah Pevita Pearce (?) who knows, guys..
Tapi meskipun aku bukan Pevita Pearce atau siapapun itu sosok kakak yang adikku inginkan, dia tidak punya pilihan lain karena aku adalah kakaknya. HAHAHA.  Mau apa lu.wkwk.
                Sudah hampir satu tahun aku tinggal bersama adik aku. Hah, tinggal bersama!? Dari lahir juga bersama, sih. Maksudku karena kebetulan sekolah dia dan tempat kerjaku berada di daerah yang sama, jadi kita tinggalnya sama-sama. Sejak saat itu aku berubah menjadi seorang kakak rumah tangga.
                Dari mencuci pakaian, menyetrika, membuat sarapan/makan malam (kadang beli, kadang masak), beres-beres hingga menyikat kamar mandi aku yang melakukannya. Cape? Iya. Ditengah kesibukanku sebagai seorang karyawan swasta dan mahasiswa, menjadi seorang kakak rumah tangga bukanlah hal yang mudah.  Aku tahu kuliah itu membutuhkan energy yang banyak jadi adik aku harus makan makan makan.
                Jeleknya aku adalah, aku suka tidak peduli pada diri aku sendiri demi adik aku. Sering aku berbohong aku sudah makan malam padahal dari siang Cuma makan mi. Jadi kaya aku beli makan buat adik aku, tapi buat aku nggak dan pas aku sampai aku bilang aku udah makan tadi di kampus atau apa.
Aku jadi punya kebiasaan baru kalau misalnya pulang, aku suka berpikir , “ade gue udah makan belum, ya.” atau kalau aku mendapat jatah makanan dari kantor, terkadang aku suka bawa pulang untuk dimakan berdua adik aku. Nggak jarang juga adik aku tahu kalau aku bohong bilang udah makan karena perut aku yang bunyi terus-terusan dan dia bakal maksa aku makan. “Udah kurus kaya gitu juga.” Yea I know that.
Seringnya aku pulang dengan keadaan rungsing, lalu marah-marah atau ngomel-ngomel nggak jelas kaya
“San, apa susahnya sih buang sampah di tempatnya?”
“San, itu kaos kaki jangan taro situ.”
“San, seprainya benerin dulu atuh ih yang bener kalau mau tidur.”            
“Handuknya jemur jangan taro situ nanti bau ih.”
Dan omelan lain yang aku yakin bukan hanya adik aku tapi orang lain yang mendengar omelanku itu akan menjadi emosi. Hehe. Maaf, ya.
Tapi meskipun begitu, meskipun aku nyebelin, tanpa harus aku ngomong dan ngasih tahu dia pasti tahu kalau aku sayang sama adik aku. Huhuyyy. Dia itu adik yang seringnya lebih pantas jadi kakak. Karena suka ngasih tahu aku dan jadi tempat curhat aku juga. Karena dia laki-laki, aku jadi setidaknya tahu apa yang harus aku lakukan kaya misalnya,
 “San, emangnya cowo kalau main game bisa sampai lama banget, ya?”
“Uni nggak tahu? Ihsan kalau main game bisa kuat sampai pagi?” kemudian aku merenung.
Atau…
“San, uni kan kangen … bla bla bla ..”
“Uni ga boleh gitu, jangan kaya anak kecil coba.”
See? Dia lebih cocok jadi kakak. Haha. Whatever,
                Selamat ulang tahun, brother! Maaf tahun ini aku tidak bisa memberikan kejutan apa-apa bahkan untuk traktir pizza saja aku nggak bisa. Jujur aku sedih banget.  Tapi nanti aku janji kalau ada rejeki lebih aku bakal beli pizza buat dia nggak peduli dia lagi ulang tahun atau nggak.
Dan aku selalu berdoa agar kuliahnya lancar, ya. Seterusnya sampai lulus.. aamiin.
Selamat ulang tahun! Yay! *ala keenan*

Saturday, 6 June 2015

Ice cream

Sejak kecil, Aku suka yang manis-manis. Tapi bukan berarti aku suka sama diri aku sendiri ya nggak gitu juga #diLemparinAqua
Mungkin kalian sudah tahu kalau waktu SD-SMA aku suka ngemil yang namanya keju+gula+susu kental manis. Jadi keju batang aku parut, kemudian aku taburi gula pasir dan susu kental manis. Ntap banget rasanya!
Satu batang keju bisa habis paling cepat tiga hari.
Dan orang-orang yang tahu hobi ngemil aku itu pasti komentarnya gini, "ih uyuhan teu giung." Yang artinya "ih nggak kemanisan apa?" (Btw, bahasa Indonesianya uyuhan apa, sih?) 
Nggak, kok. Menurut aku itu enak. Banget.
Nah, bicara yang manis-manis, seminggu kemarin aku baru saja menemukan makanan yang maaaaanis banget yaitu m*gnum white! 
Es krim paling enak yang pernah aku makan. kayaknya B*skinR*bin aja kalah, deh.
Hari itu ketika kita mau nonton Raisa live in concert, ada stand es krim yang menjadi sponsor konsernya. Guess what? ice cream for free! Oh my .. Senangnyaa banget sih. Haha. Jadi kita tinggal antri, isi nama dan akun sosial media dan tadaaaam !
es krim vanila yang ditaburi dengan kacang almond. Sumpah ga ngerti lagi enaknyaa.
Tapi, sebenarnya ada yang membuat es krim itu jadi lebih enak adalah... Dia. As always :)
Karena aku makan es krim itu sama dia. Duduk di trotoar jalan ditemani angin malam Jakarta yang sama sekali nggak berasa dinginnya.
Dan jarang ada orang yang sadar kebiasaan aku kalau lagi senang kaya gitu suka lihat ke langit sambil berpikir yaampun ini indah banget. Ya, kalau aku senang, aku suka menyapa langit. Mau langit itu sedang mendung, cerah, bagus atau bagaimanapun. Aku suka.
Jadi, kesimpulannya apa? 
Selain tempat atau makanan yang enak, ada hal yang lebih penting dan menjadi faktor utama kenapa kita menyukai tempat itu atau makanan itu: "With whom". Karena sama dia aku senang. Karena sama dia es krim -yang kata dia sendiri itu kemanisan banget- rasanya kaya the most amazing ice cream ever. Coba kalau aku makannya sendiri, mungkin enak tapi nggak akan bikin aku makan eskrim sambil senyum -senyum lihat langit :)

Terima kasih!





Wednesday, 3 June 2015

Haflyness



“Oke saat dia bahagia dia bakal lupa kalo dia manusia”
Sungging senyum saat membaca kalimat itu tidak dapat aku sembunyikan. Juga air mata yang membuat tulisan itu terlihat buram. Aku memejamkan mataku sekitar dua detik untuk membuat pandanganku kembali jelas.
Kau benar, saat aku bahagia, aku lupa kalau aku manusia karena saat itu aku merasa seperti sedang berada di luar angkasa, terbang. Membiarkan diriku melayang tanpa arah  menikmati cahaya kelap-kelip yang indahnya tidak mampu aku tulis.
Saat aku bahagia, aku lupa kalau aku manusia karena saat itu aku merasa seperti sedang berputar-putar memakai baling-baling bambu bersama Doraemon, terbang.
Aku selalu menggambarkan kebahagiaanku dengan terbang meskipun aku belum pernah merasakan rasanya ‘terbang’.  Karena aku ingin sekali bisa ‘terbang’. Sama seperti halnya aku ingin bahagia. Aku pikir rasanya pasti sangat menyenangkan seperti saat aku bersamanya.
Bukan aku tidak tahu kalau sesuatu yang terbang itu memiliki kemungkinan untuk jatuh, hanya saja aku tidak ingin saat aku bahagia, aku memikirkan hal yang sedih. Aku tidak ingin pikiran sedih yang belum tentu terjadi merusak kebahagiaan yang sedang aku rasakan.
Aku pernah bilang sebelumnya, aku itu kalau lagi senang ya tertawa. Kalau lagi sedih ya menangis. Dan satu hal, aku selalu berusaha tidak berlebihan saat aku merasakan bahagia atau sedih, aku bersyukur.
Ada dua hal yang mungkin terjadi saat kita sedang terbang (read: bahagia). Pertama, kita  bisa terus terbang sambil menggenggam tangannya (tangan Doraemon, misalnya).  Kedua, kita bisa tiba-tiba jatuh saat baterai baling-baling bambu itu habis dan Doraemon melepaskan genggaman kita. Ibaratnya seperti itu.
Siapa yang tidak tahu kalau rasanya jatuh itu sakit?
Ketika aku pikir aku sudah menemukan kebahagiaanku, lalu tiba-tiba aku sadar kalau aku tidak lagi sedang terbang. Aku pikir aku mimpi. Tapi kenapa rasanya sakit sekali?

A note from a book

Aku hanya bermaksud ingin menjadi teman disaat kamu kesal, sedih, marah, atau apapun itu hal-hal yang kurang baik yang sedang kamu hadapi. Menjadi buku kosong yang siap menerima goresan tinta ceritamu. Apapun ceritanya, tulislah. Atau jika kamu sedang kesal, coret-coretlah sampai kamu merasa lebih baik. Itu saja.

Apa Kamu lebih suka merusak sesuatu jika sedang emosi? Kalau begitu sobeklah satu lembar dari(ku) buku ini, lakukan apa yang menurutmu bisa membuatmu tenang. Meskipun semua buku tahu bagaimana sakitnya.. disobek dengan rasa kesal, dicoret dengan penuh kemarahan, tapi jika itu akan membuatmu merasa lebih baik maka hal itu sama sekali bukan masalah bagiku karena aku masih punya banyak lembaran kosong yang bisa kamu tulis, gambar, kamu beri warna yang cantik disaat hatimu merasa senang. 

Aku memang tidak (belum) bisa apa-apa. Hanya bisa diam di rak atau meja menunggumu menghampiriku dan mulai bercerita apapun itu. Cukup ceritakan apapun dan aku akan merasa senang, bagaimana harimu? apa yang kamu lihat di jalan pulang? Bagaimana makan siangnya? Apakah hari ini menyenangkan
Aku selalu menunggu itu, setiap hari.
Bahkan ketika aku tahu kamu tidak akan menulisnya, aku masih saja menunggu. Percaya kamu akan membuka lembaranku dan mulai bercerita (satu kata juga tidak masalah) meskipun entah kapan.

Aku lebih sakit melihatmu menulis cerita di buku yang lain, yang jauh lebih canggih daripada aku. Menyapanya dengan keramahan di saat aku masih menunggu tulisanmu .
Itu yang aku lihat, dan aku rasakan. Jika apa yang aku pikir itu salah, beritahu aku.
Aku bukan gadget canggih yang bisa tahu segalanya yang tidak kamu ceritakan. Aku tidak akan tahu apapun jika kamu tidak menulisnya, di sini.
Aku akan dan selalu berusaha melakukan apapun yang aku bisa.

Jika saja bisa aku bicara, aku ingin kamu tahu kalau aku sangat merindukanmu. 
Tapi yang bisa aku lakukan hanya menulis. Jadi aku menulisnya. Entah berapa kali aku menulis kalimat itu di buku ini. 

Berharap suatu hari ketika kamu ingat aku ditengah kesibukanmu, kamu tahu kalau aku merindukanmu. 
Aku ingin membuatmu senang, merasa lebih tenang ketika sedang ada masalah, membuatmu tetap bisa tersenyum saat begitu banyak urusan yang harus diselesaikan, membuatmu ingat kalau ada aku, di sini, yang siap mendengar apapun ceritamu.
Tapi jika itu dan apapun yang aku lakukan dan aku harapkan menjadi sesuatu yang 'mengganggu' kegiatan dan kesibukanmu ... Aku bisa apa (?) 

Semoga harimu menyenangkan!

Monday, 1 June 2015

Before June



Nowadays, Greet the first day in new month with many hopes is become a common thing that happened around us.  I often –even myself made it too, here– read the people’s status either on their social media or personal message in blackberry messenger, like:
“June, please be my month.”
“Welcome, June!”
“Hope it’ll be a better month.”
.
And so on.
We always hope for a better thing, especially on the first date of the month, but have we ever thought what has happened on 30 days before? I mean, it’s like make a little review about a month before, May. May have 31 days and at least we have -more or less- 31 stories in it. I’m sure the stories are mixed with happiness and sadness, that’s normal.
Now I’ll make the review (as far as I remember).
May has give me many stories. Unexpected stories,
In the second week of May, I decided to go home in order to meet him. Some people might think I’m so ‘brave’ since I ride my motorcycle by myself. And to be honest, I don’t prepare anything to go home. My rain coat is broken and I didn’t bring any mask to cover my face during the trip. I even don’t expect myself will go home that week. I just suddenly follow my heart voice that keep whispering me to go home, so I can meet him.
For me, as long as I can meet him, I’ll try to.
I can meet people I love in one place if I go home (meet my parents, meet him, and his family) like that day.
It was raining so I decided to go to his house first. My tired suddenly disappear when I saw him. I don’t know if it just my suggestion or what but that was what I felt.
[#Nowplaying Tulus: Teman Hidup - Di dekatnyaa aku lebih tenang.]
Every day is a mystery. I never expect I will sleep over at his house before but there I was. I couldn’t tell you how I feel that night but I’m so happy, I felt so comfortable with it. It was Saturday night and we’re (his family and I) watching tv, playing paper plane, video games, and talking much about anything until very very late night. I don’t know but I felt like I’m home (too). Thank you for make my Saturday night become awesome as you are ;)
See the view from my rooftop with you is one of my happiness too. I’ll never forget it anyway. The way we saw the kites flying, see the sky and guessing what shape is that,
“Look! An elephant.”
“Really? That is not like an elephant at all.”
Made me tilt my head and wondering how come that cloud is like an elephant. xD
I even still remember how the wind blew. The most beautiful blew wind in May, I think. I feel like I’m the happiest girl, when I’m with you.
Still in May, I got an accident at Cipatat street (the location is in the middle way from Cipanas to Bandung). See? Anything can happen without we expect it before. Luckily, I’m fine, the point is I still alive. I still can stand and walk and yeah, I’m fine. But the night after, I felt like my body is cracked. It hurt anyway.  Actually, I really wish you were here. Hug me, stand by me. But I know it isn’t easy to get here whatever we want. I must keep strong! I wouldn’t make you worried much about me after all. But I miss you.
And what else? Ah, in May, I suddenly felt a jealously too. Random jealously is a mind that whispering bad things to me. I’ve try to ignore all that words but okay I’m jealous- again. Felt so insecure is not that I want. It’s the worst feeling so far but I just can’t see let you (I can’t see you anyway) with other girl
If I become annoying when something like this happen (I never hope it), I’m sorry. Would you like to help me to understand this? If only you could understand me too. I trust you. I  just .. kind of scared.
The last but not least, you just make one of my dream come true in May. Watching a live concert with someone I love, with you. I’m so happy. The best feeling in the world is I can’t keep my eyes of Mikha Angelo! Hehehe. Just kidding! xP
Thank you so much, May, for the priceless lessons in every day.  I miss you, by the way.

Whatever it is, make sure those moments will make us better, stronger and happier in this new month, June! See you!

Saturday, 30 May 2015

Just.. Read!?

Siapa yang pernah galau karena huruf R atau D yang ada di bbm? Hayoo ngaku...
Hehe. Yap, kali ini aku mau bahas sedikit tentang Read me-read di dunia per-chatting-an. 
dulu, waktu awal-awal ada bbm, kakak sepulu aku pernah bilang, "kalau di bbm kita bisa tahu pesan kita sudah dibaca atau belum. Nih, kalau belum dibaca tapi sudah terkirim tandanya D, delivered. Kalau sudah dibaca nanti D ini berubah jadi R, read. Jadi kalau misalnya kita bbm dia terus udah R tapi nggak dibalas, habis itu dia bilang 'maaf baru kebaca' itu ketahuan bohongnya."
"Wah, canggih banget." Gumamku waktu itu.
semakin ke sini ternyata kecanggihan itu nggak cuma ada di bbm, tapi di aplikasi chatting lain pun ada seperti line, whatsap, katalk, ah banyak deh.
Nah, yang sering menjadi masalah adalah ketika dua orang chat dan salah satu diantara mereka cuma 'read' aja. nggak sedikit orang yang secara sadar atau tidak ngedumel kaya "anjrit, di read doang." Atau "kok di read doang, sih jahat banget."
Pernah, nggak, kaya gitu? 

Mungkin kita -aku- pernah di posisi orang yang cuma ng-read' itu. Dan aku juga pernah berada di posisi yang cuma di read. 
Sebenarnya tergantung konteks chatting-nya juga, sih. Kalau sekiranya nggak ada bahasan lagi ya nggak jadi masalah, kan? 
Tapi emang kadang R itu bikin sakit hati, ya. Khususnya buat orang yang mengharap balasan. Sampai nungguin, berapa menit sekali cek hp apa ada balasan atau nggak, tetap aja masih R.
Sabar, ya. 
hal yang bisa kita lakukan kalau sedang ada diposisi orang yang di read doang adalah.. Sabar. Hehe. Tapi kalau kita chat yang isinya butuh balasan dan cuma di read aja, ya. Itu, sih yang paling nyesek. Sampai lamaa (dalam jangka waktu yang nggak wajar) baru balas mending dibalas. Kalau nggak?
pelajaran yang bisa diambil dari read me-read ini adalah ikhlas. Kita nggak bisa menuntut seseorang untuk membalas chat kita. Meskipun kita secara nggak sadar udah otomatis mengharapkan balasan. Itu wajar.  Ohya, Mengharap sama menuntut itu beda, loh. Jujur aja aku pernah mengharap dibalas, menunggu dibalas, tapi aku nggak mau menuntut atau maksa dia buat balas. Karena menurut aku kalau dia memang ingin balas, dia pasti balas. Kalau nggak, ya berarti dia nggak mau. Itu aja, sih,sebenarnya.
Mungkin kalian pernah bertanya-tanya kaya, "kenapa ya, kok cuma di read aja?" Atau "kok belum balas, ya." Bertanya dalam hati. Menebak-nebak sendiri tanpa tahu jawaban pasti. Hazeg. 
Pernah baca tweet-nya Raditya Dika?  "zaman sekarang tuh mustahil banget kalau orang nggak megang hp dalam 3 jam. Jadi kalau kamu nggak dibales juga ya itu sih sengaja diabaikan."  
Tahu, nggak? that is so damn true banget. Kecuali kalau orangnya lagi ikut acara apa yang nggak boleh bawa hp itu beda lagi ceritanya. Tapi kalau kaya kita, kiita? Hehe. Yang kegiatannya bisa ditemani hp, pastilah ada aja waktu buat lihat hp.
lagi, ini masalah pilihan. Kalau chat kamu cuma di read aja dan nggak dibalas, berarti dia memang memilih untuk tidak membalas dan sebagai manusia kita harus tetap bersyukur seperti  "masih mending di read daripada di end chat, jadi D doang." yah.. Hehe. Sedih, ya :'(
tapi yang paling jelas, sih kalau kejadiannya seperti itu adalah... Dia nggak tertarik buat chat sama kamu. Kenyataannya begitu, sob. Mau gimana lagi?
bukan, bukan aku mengajarkan untuk menjadikan sesuatu yang mungkin sepele menjadi masalah. Hanya saja .... 
Bagaimanapun kita harus tetap berusaha berpikir positif kaya "mungkin dia sibuk." Walaupun sesibuk-sibuknya orang, pasti ada waktu untuk lihat hp atau memberi kabar, ya. Kembali aja itu pilihan sih. "Mungkin dia lupa" (tapi kalau sudah ingat, bisa kan balas?)"mungkin ketiduran" (kalau sudah bangun, bisa balas kan?) "mungkin lagi fokus." "Mungkin bla bla bla" pikiran positif kaya gitu yang aku rasa itu lebih ke menghibur diri, sih. Iya.
Karena semua orang tau sibuk itu masalah prioritas. Masalahnya adalah mau atau nggak menyempatkan waktu untuk memberi kabar atau sekedar membalas chat. Itu aja.
Jadi, apapun yg terjadi kita harus siap mental. Expecting itu pasti ada. Tapi kalau kenyataannya kaya gitu? Kita bisa apa? Jangan pernah maksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang dia sendiri nggak lakukan , dalam hal ini membalas chat. 
Karena ini bukan zaman sms di mana kalau ngirim pesan diakhiri tulisan'bls' . Haha. Hayoo siapa yang pernah sms-an diakhiri tulisan 'bls' ? It's normal. Tujuannya apa? Biar dibalas, kan? 
Tapi kalau chat saman sekarang mungkin udah jarang orang yang menyisipkan 'bls' itu. Karena kita sudah bisa tahu pesan kita sudah dibaca atau belum. Tinggal gimana mereka yang mau balas atau tidak, tinggal gimana mereka mau balas chat kita seperti apa.
Ohya, satu lagi. Respon. Ada orang yang dia nggak read aja tapi balas, tapi balasnya 'terkesan' yaudah. Gitu. Gimana sih.. Kadang nggak enak, ya, rasanya ketika kita excited gimana, tapi responnya biasa aja. Atau mungkin 'respon biasa aja' itu cuma pikiran atau perasaan kita aja? Bisa jadi, sih. Aku sendiri pernah di chat sama orang, dan aku balas ya seadanya kaya
X : lagi ngapain?
Aku : kerja
X : apa kabar? 
Aku : baik, alhamdulillah
X : jutek banget jawabnya yaudah deh maaf ganggu
#LAH .. perasaan aku biasa aja sih jawabnya tapi malah dibilang jutek (?) 
Pas aku baca ulang, oh iya aku jawab seadanya banget.. Tapi ya aku biasa aja sih. Orang yg bacanya mungkin menangkapnya beda. Tapi ya memang aku juga nggak begitu tertarik buat chat panjang-panjang sama dia.
Sama aja sih intinya kalau orang respon chat kamu singkat, atau bahkan nggak nanya balik, atau sekedar apalah, dapat disimpulkan kalau dia nggak tertarik chat sama kamu. Udah jangan maksa. Mau kamu paksa buat biar dia balas chat, atau apa, kalau dianya nggak mau ya nggak akan.
Satu-satunya yang bisa kamu lakukan adalah menunggu. Menunggu dibalas. 
Sakit, ya, tapi kenyataannya seperti itu. Habis apa lagi? Kalau chat kamu nggak kunjung dibalas padahal sebenarnya dia bisa balas.. Apalagi kalau bukan karena nggak minat chatting? If there is another better reason, please let me know

Monday, 25 May 2015

Raisa Live in Concert

Ingat atau pernah baca postinganku tentang Konser Gajah Tulus?
Jujur waktu itu aku sempat salah fokus dan malah berkhayal ada seseorang berdiri disamping aku dan kita menikmati konser bareng. Nggak kaya sekarang (waktu itu) yang aku berdiri sendiri gitu aja (secara om sama tante aku berdua, kan)
Aku sempat berpikir mungkin nggak, ya , suatu hari aku bisa nonton konser sama orang yang aku sayang dan sayang sama aku kaya om sama tante aku gitu. dan aku sama sekali nggak kebayang siapa orang yang aku maksud itu karena waktu itu aku masih 'sendiri' (baca: jomblotigataungitu. hehe). dan emang lagi nggak dekat sama siapa-siapa juga.

Khayalan atau mungkin lebih tepatnya gumaman aku waktu itu sekarang jadi kenyataan. Alhamdulillah... Aku benar-benar nggak nyangka malam itu aku nonton live concert bersama orang yang aku sayang dan sayang sama aku. #ehem

Kaya mimpi.
 Apa yang dulu aku bayangkan jadi kenyataan tanpa aku pernah sangka hal itu bakal jadi nyata.

Terima kasih sudah membuatnya jadi kenyataan, membuatku senang, membuatku jadi Raisa (?) #Ngarep :)

Sunday, 17 May 2015

Just Wondering

It's not that I mean, prohibit you with whom you want to make friends.. I never think about that even one second in my life!
It's not that I want, feeling this kind of feeling.
I'm trying. Trying to understand. Trying to being you. Wondering how if I were you.
I know there are many things in her that you can't find in me.
That's actually no matter with anything that you told me, that you want to ..
I trust you.
I just wondering ..














Wednesday, 13 May 2015

SNMPTN



Halo !
Mungkin untuk anak-anak yang baru lulus SMA bulan-bulan ini adalah bulan yang sangat mendebarkan.  Kaya antara hidup dan mati gitu nggak, sih? Aku yakin sebagian dari mereka menganggap kalau SNMPTN adalah segalanya.
Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2015 sudah diumumkan. Masih ingat bagaimana mendebarkannya mengetik nama dan tanggal lahir kita untuk kemudian membaca hasil seleksi. Lalu setelah hasilnya muncul di layar berbagai reaksi dari peserta bermunculan, tergantung hasilnya. Ada beberapa reaksi diantaranya :

  •  Diterima di PTN dan jurusan yang diinginkan

Biasanya menjadi pilihan pertama. Aku tidak tahu bagaimana rasanya mengetahui kita lulus dan diterima di PTN yang kita inginkan, juga jurusan yang kita minati. Tapi membayangkannya saja rasanya pasti senang sekali. Apalagi orang tua kita yang pasti berharap kita diterima. Ntap banget! Rasa senang, bersyukur, bangga menjadi satu.  Apa rasanya, ya


  • Diterima di PTN dan jurusan yang tidak begitu diinginkan

Kenapa aku sebut tidak begitu diinginkan? Karena kita diterima di PTN dan jurusan pilihan kedua. Seperti kita ketahui, pada saat memilih jurusan kita dibolehkan memilih dua (formulir IPA/IPS) atau tiga (formulir IPC) pilihan universitas dan jurusannya. Kasarnya seperti cadangan kalau nggak lulus di pilihan pertama.
Kalau pilihan kedua masih sesuai minat kita ya tidak akan menjadi masalah. Rasanya mungkin hampir sama seperti diterima di PTN dan jurusan yang kita inginkan.
Tapi kalau ternyata kita diterima di pilihan kedua/ketiga dan pilihan itu adalah PTN dan jurusan yang tidak kita inginkan, jadi ya asal aja masukin pilihan kedua yang penting PTN. Eh, ternyata diterima. Mungkin rasanya antara senang dan galau. Senang karena lulus SNMPTN, galau karena PTN/jurusannya sama sekali bukan yang kita inginkan
(cuma iseng milih daripada kosong pilihannya, eh masuk. Gitu).


  • Tidak lulus SNMPTN

Bagi mereka yang sangat berambisi dengan PTN, hal ini adalah mimpi buruk yang sulit untuk diterima. Merasa dunia ini nggak adil lah apa segala macam. Kecewa pasti ada tapi jangan sampai berlebihan. Aku sendiri pernah mengalami gagal SNMPTN dua kali.

Ada tiga tipe anak baru lulus SMA, yang pertama adalah anak yang “keras” dalam artian “gue mau kuliah di PTN A jurusan A (titik).” Kebanyakan dari mereka belum memiliki mental yang kuat jika tidak diterima di pilihannya. Tapi ada juga yang sudah membuat plan B jika tidak diterima. Plan B bagi anak-anak tipe ini adalah ikut SNMPTN tahun depan.
Kedua adalah mereka yang benar-benar ingin kuliah HANYA di jurusan yang mereka inginkan. Aku salut sama anak yang seperti ini karena mereka memiliki prinsip yang kuat dan tidak terpengaruh oleh faktor luar.  Tipe ini adalah anak yang sudah mengetahui benar passion mereka, dan mereka tidak melihat PTN atau PTS.
Ketiga adalah tipe anak yang tidak peduli di mana/ jurusan apa yang penting PTN. Memang, untuk anak SMA yang baru lulus, pikirannya kebanyakan masih sempit. Masih banyak banget yang menganggap PTN adalah segalanya. Kalau nggak kuliah di PTN tuh bikin malu. Kasarnya kaya gitu. Lebih jadi ajang gengsi-gengsian yang sama sekali nggak ada untungnya kalau nanti kita sudah menjalani perkuliahan.
Ya ingat aja waktu dari SMP ke SMA, SMA favorit tuh kaya segalanya, kan? Lalu melihat SMA-SMA lain biasa aja. Kurang lebih kaya gitu.

Aku ucapkan selamat buat degem degem (read: dede gemes)wkwk yang lulus di PTN.
Dan untuk degem2 yang belum diterima, jangan kecil hati. Sedih dan kecewa pasti ada, tapi jangan anggap ini kaya the end of the world. Banyak jalan menuju mimpi kita. Lagian, jalur masuk PTN itu nggak Cuma SNMPTN. Beberapa universitas juga mengadakan ujian mandiri, kan? Memang, sih, biayanya agak mahal bahkan dua kali lipat dari yang lulus SNMPTN. Tapi kalau itu mimpi kalian, kenappa nggak kalian kejar? #hazeg. Karena dunia ini nggak hanya tentang kuliah, PTN, dan lain-lain. By the time kalian bakal ngerti kok. Bahkan bakal bersyukur karena nanti kita akan melihat dunia yang kita belum pernah tahu.
So, tetap semangat! :)

Monday, 4 May 2015

Let May be ...

Welcome, May !
Agak telat beberapa hari, nih, bikin opening untuk bulan Mei. Hmm, apayaaa..
Karena ini bulan Mei, me bisa berubah jadi May !
Hehehe . ngarang abiss.
Jadi, lagu yang pas buat bulan Mei ini aku rasa lagunya Raisa - Let me be (I do)
Kenapa ?
Karena ...
Nyambung ajaa yaa. hehe .
Let me be the one.
Let May be the happiest one..

Dua Puluh Tahun

Tenang, kali ini kita tidak akan bertemu aku 20 tahun lalu. Haha. Dua puluh tahun adalah alasanku 'menolak' orang yang pertama kali ...