Monday, 6 January 2014

kamu kah?

pertanyaan anonim yang diajukan kepadaku di sala satu situs pertanyaan-pertanyaan bernama ask.fm sekitar tiga bulan lalu, mungkin oktober. Oktober. pada saat itu itu aku mulai semacam merindukanmu. nggak rindu-rindu amat sih. hanya saja.. rasanya seperti mimpi karena tiba-tiba kamu hilang. hilang dari duniaku. halahhh apaan sih geli gue -___-

pertanyaan itu.. kamu kah?
Entahlah. pertama kali orang yang terbayang saat aku baca pertanyaan itu... kamu. Aku tidak berharap kamu. hanya saja firasatku mengatakan itu kamu.
kamu kah?

Tuesday, 24 December 2013

Rumah Mewah




Kalau jalan sama teman-teman, pasti adaa aja sesuatu yang bikin kita ketawa-ketawa. Tingkah laku teman-teman yang kadang suka tidak masuk akal kerap kali membuat kita tertawa dan melupakan masAlah masing-masing –meskipun- untuk sesaat.
Pernah nggak? Kamu lagi jalan kaki sama teman-teman, terus tiba-tiba melewati rumah yang mewah banget. Pokoknya, waktu melihat rumah itu dalam hati kita bakal bilang “Whoaa! Rumahnya bagus banget!” atau “Waah, apa ya rasanya tinggal di rumah sebagus itu?” atau “…..” –nggak komentar karena terlalu sibuk ketawa-ketiwi jadi nggak ‘ngeh’ kalau kamu lagi lewatin  rumah yang segede gunung.
Sampai akhirnya ada salah satu dari teman kita yang ….
Yap! Pura-pura jadi ‘tuan rumah’ dengan cara berjalan mendekati gerbang rumah –yang gatau punya siapa- terus berlagak kaya mau masuk rumah itu sambil bilang “Eh, mau mampir dulu nggak?” atau “Masuk dulu, yuk! Mau main dulu nggak?” atau apalah itu. Yah, namanya juga menganggap seperti rumah sendiri. Lagaknya tuh udah kaya tuan rumah beneran deh!
Sebagian besar teman-teman menanggapinya dengan ketawa-ketawa atau sorak “huuu” atau kalau teman itu sama gila-nya, dia bakal ikut-ikutan berlagak mau masuk rumah mewah –yang gatau punya siapa- sambil ngomong, “aku mau minum dulu, ah.” Lalu teman yang pertama ngaku-ngaku  menjawab, “ayo masuk dulu, yuk!” –zzz.
Mungkin kalau sekarang kita melihat anak-anak yang bertingkah kaya gitu kita bakal komentar dalam hati, “apa banget sihh.” Tapi dulu, waktu kita ada diposisi mereka, yang masih suka ketawa ketiwi ga jelas sambil jalan atau ngemil bareng temen-temen pasti rasanya seru. Ga peduli apa pandangan orang yang melihat tingkah kita.
Ya aku juga dulu pernah tuh  suatu hari ketika pulang berenang bareng teman-teman SMP, kebetulan tempat renangnya itu di sebuah perumahan gitu. Pulangnya kita jalan kaki bareng-bareng. Biasalah ngeliat rumah mewah sedikit pasti adaaa aja yang belaga “eh mampir dulu yuk!” sambil mau buka pagar –rumah orang-
Kita sih ya ketawa-ketawa aja. Ehhh, taunya ada suara dogii dari dalam rumah itu. Sontak dong kita langsung lari. Whoahaha.. Untung aja anjingnya nggak ngejar. fyuhh
Tapii kejadian itu nggak membuat kita kapok buat “ngaku-ngakuin rumah newah”.
Suatu hari, kita belaga lagi tuh ngajak-ngajak temen yang lain buat mampir ke rumah –orang- haha. Dan kali ini kita belaga lebih nekat dari biasanya. Yap! Ngajak mampir sampai buka pager rumahnya. (Ga usah ditiru-tiru ya!) dan ternyata .. si pemilik rumah keluar dong, terus bilang “mau ke siapa, de?” –siiiiiiing- kita semua kalau jadi film kartun udah membeku kali tuh waktu itu. Haha. Malu abiss. 

Monday, 16 December 2013

Winter to Summer


Kalau saya harus menyebutkan sebuah tempat yang paliing saya benci di dunia, tempat itu bernama bandara, temat di mana banyak perjalanan dimuai, yang juga merupakan tempat di mana ribuan perjalanan berakhir – Winter to Summer

Kalau aku harus menyebutkan tempat yang paling aku benci di dunia, tempat itu bernama terminal. Soalnya aku belum pernah pergi ke tempat yang mengharuskan aku ke Bandara alias naik pesawat. Hahaha. *gubrak* Kapan ya? XD
Tapi iya, sih. Bandara, terminal, stasiun, pelabuhan, tempat-tempat seperti itu memang tempat di mana banyak orang meneteskan air mata. Entah itu air mata bahagia atau air mata sedih.  That’s life.  


Monday, 2 December 2013

Hujan



Aku tidak membenci hujan, juga tidak menyukai hujan. Ya, biasa saja. Kata banyak orang, hujan bisa mengingatkan kita pada kenangan  masa lalu. Apalagi kalau sambil mendengarkan musik yang sesuai dengan suasana hati. Entah kenangan seperti apa yang mereka maksud.  Aku sendiri tidak bisa membayangkan kenangan apapun ketika hujan turun. Tidak ada yang istimewa, hingga suatu hari …
Sore itu, sudah sekitar tiga puluh menit aku berdiri di depan cermin. Aku belum pernah selama itu  berdiri hanya untuk melihat diriku sendiri. Aku menyisir rambutku  sampai rapi lalu mengikatnya jadi satu, mengurainya lagi, mengikatnya lagi, begitu saja sampai  akhirnya kuputuskan untuk membiarkan rambutku terurai dengan hiasan bando kesukaanku.
Hari ini seorang teman yang tak ingin aku sebut namanya mengajakku makan malam.  Memang bukan makan malam seperti yang ada di film-film. Tidak ada lilin juga tidak ada live music. Bisa dibilang semuanya biasa aja.  Tapi ini pertama kalinya aku makan malam –berdua- dengan seorang laki-laki.  Tempat makan ini berada di lantai dua, dari sini kita bisa langsung melihat pemandangan di luar sekaligus merasakan angin malam. Kami berbincang-bincang seputar kesibukan masing-masing.  Gelak tawa sesekali muncul ketika dia mengatakan hal-hal yang menurutku  itu lucu. Aku suka suasana seperti ini. Rasa lelahku setelah seharian beraktivitas hilang begitu saja.  
Saat aku menyantap puding coklat sebagai desert, gemericik air mulai terdengar.  Hujan. Hujan membuat udara kota kembang ini menjadi lebih dingin dari biasanya.  Aku  melihat beberapa orang terlihat gelisah sambil melihat ke luar. Dia tersenyum padaku setelah aku memandang hujan cukup lama.
 “Hayoo loh, nggak bisa pulang.” Katanya.
Aku tertawa dan kembali menghabiskan pudingku.  Hujannya deras, biasanya kalau hujan deras seperti ini akan cepat berhenti dibandingkan dengan hujan yang kecil, gerimis misalnya.  Sudah hampir dua puluh menit kami duduk sambil memandang air yang turun dari langit malam. Butiran-butiran airnya terlihat warna-warni saat terkena sinar lampu penerang jalan.  Tidak ada lagi yang kami bicarakan. Hanya menunggu hujan.  
Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dan berharap hujan sudah reda. Tapi ternyata hujan masih deras. Mungkin tidak ada salahnya menunggu sebentar lagi, berharap hujan berhenti.  Aku berdiri sekitar  lima puluh sentimeter di sampingnya. Sesekali aku mengusap lenganku untuk membuat rasa hangat. Aku termasuk orang yang senang memakai jaket kalaupun tidak dipakai, aku pasti bawa di tas.  Entah kenapa hari ini aku tidak membawa jaket dan hari ini hujan.
Dingin. Malam ini dingin sekali. Dia masih berdiri di sampingku, sedang asik dengan handphone touchscreen miliknya.  Mungkin dia sedang update status atau mengirim pesan atau bermain gamem atau .. ah sudahlah.  Pikirku.  Entah kenapa aku senang sekali. Berdiri di sampingnya dengan ditemani hujan seperti ini … romantis. Aku masih terdiam, lebih tepatnya menunggu dia membuka pembicaraan.  Aku ingin mengobrol ditengah hujan seperti ini tapi aku tidak tahu harus bicara apa untuk memulainya. Lagi pula dia masih sibuk dengan gadget-nya.
Aku memilih memerhatikan rintik-rintik hujan yang mulai reda.  Hujan di malam hari ini indah juga. Aku belum pernah memperhatikan hujan saat malam hari seperti ini.  Kubiarkan pikiranku larut dalam setiap rintik hujan. Suara gemericik hujan malam ini membuatku tenang dan dingin. Rasanya aku ingin terus hujan saja agar aku bisa berada terus di sampingnya seperti ini.
Aku merasakan sesuatu membalut punggungku. Dia memakaikan jaketnya untukku? Aku menoleh kaget dan melihatnya tersenyum. Rasanya tubuhku seketika membeku, lidahku kelu.  Jaket hijau lumut berbahan jeans miliknya membuatku hangat. Apalagi ditambah dengan senyum yang ia berikan untukku.  Rasanya seperti berada dalam drama yang sering aku lihat di televisi dan aku menjadi pemeran utamanya.  Rasanya seperti mimpi!
“Hei.” Seseorang menepuk pundakku. Dia. Aku menoleh dan kulihat dia berdiri disampingku dan ia masih memakai jaketnya.  Tidak ada jaket yang menyelimuti punggungku.  Hujan sudah reda. Udara sejuk pun mulai terasa. “Pulang yuk!” katanya.
Aku mengangguk, masih setengah sadar.  Ah! Aku berkhayal. Ini pasti karena aku terlalu banyak menonton drama. Bodoh! Mana mungkin dia mau meminjamkan jaketnya untukku. Dia juga pasti merasa kedinginan, kan? Aku pikir itu memang hanya ada di dalam drama saja.
Udara  setelah ujan terasa semakin menusuk tulang ketika motornya melaju.  Meskipun terkesan biasa saja, tapi hujan kali ini membawa kebahagiaan tersendiri untukku.  Hujan bukan hanya sekadar air yang jatuh dari langit. Hujan telah menjadi saksi dari sekian banyak cerita yg orang-orang miliki, termasuk ceritaku.
Satu hal yang aku tahu, hujan membuat  segalanya menjadi romantis dengan caranya sendiri. 

Thursday, 28 November 2013

yeeiyeiyeyy

"Nggak ada satu hari pun, aku nggak mikirin kamu, Riani.."
"Tapi.. Bukan kamu, ta. Bukan kamu yg ada di hati Riani."
-jreng-
andai matamu, melihat aku.. Terungkap semua isi hatikuu. Alam sadarku alam mimpiku. Semua milikmu andai kau tahu. Andai kau tahu.. Rahasia hatiku

Siapa sih, yang nggak tau film 5cm? Nah, di film itu aku paling suka adegan itu. Waktu Genta nyatain perasaannya ke Riani. Waktu Riani bilang bukan Genta yang ada di hatinya tapi Zafran.
Mungkin, kalau aku jadi Genta, aku juga bakal digituin sama orang itu (saha?) yang jelas bukan Riani. Haha -_-

"Nggak ada satu hari pun, aku nggak ngetik nama kamu di kolom 'search' twitter." [ngomongnya ala Genta di 5cm] [terus tiba-tiba di jawab] "tapi.. Bukan kamu, Sa. Bukan kamu yg ada di hati .... *saha*"
Mulai deh aku nge-drama XD
Lagi pula aku nggak akan bertindak kaya Genta. Kenapa? Jawabannya satu: karena aku bukan Genta.
Banyak orang yg bilang, kalau sekarang perempuan ngungkapin perasaan duluan itu nggak aneh. Tapi aku.. ingin ungkapkan perasaan padanya, tetapi aku tak percaya diri. Karena reaksinya terbayang di benakku *teroterotet* yeeiyeiyeyy ~
Skip!

Hah? Aku? Jangankan mengungkapkan perasaan, buat mulai percakapan atau hanya sekadar menyapanya saja.. Aku nggak berani. kkk.
 Lagian.. waalaupun diri ini menyukaimu, kaamu seperti tak tertarik kepadaku. Siiap pata hati kesekian kalinya *yeeiyeiyey* hahaha. Saha atuh -_- hahaha. Udah udah.

Ohya, boleh aku bertanya? *boleh dong*
Aku ingin tahu, siapa orang yg kamu suka saat ini?

Siapa? Kok diem? Hehe.
 Ah, simpan saja jawabannya. Tujuanku bukan untuk mengetahui orang yg kalian sukai, kok :v

Aku tanya sekali lagi, ya?
kamu.. menyukainya, kan?

Saat membaca pertanyaanku, apa tibatiba nama -dia yg kau suka- terngiang ditelingamu? Setelah membaca pertanyaanku, apa kamu sedang membayangkan dia yg km suka?
Atau dia yg kau suka itu melintas begitu saja kaya org yg lagi nyebrang?
Saat ini dipikiranmu sedang ada dia, kan?
Heyyaaah. benar nggaaak?

Hm.. Aku pernah bilang, aku lagi nggak suka sama siapa-siapa. Aku pernah bilang, aku nggak tau lagi suka sama siapa. Karena ..aku emang nggak tau. Tapi, kalau ada yang nanya kaya tadi aku nanya ke kalian: "kamu lagi suka sama siapa?" Yaaa, sama, sih.. Ada seseorang yang melintas di belakangku. *jurig* kkk
Maksudnya, ada lah yang terbayang di benakku *yeeiyeiyeyy* ... siapaa gitu.

Tapi..aku sadar, dia yang kebayang sama aku itu.. Cuma bayangan. Iya, nggak nyata. Aku pikir aku mengenalnya sampai suatu hari aku sadar kalau aku tidak tahu apa-apa tentangnya.
Aku pikir, orang pertama yg kita bayangkan kalau ditanya seperti itu adalah org yg kita suka. Kenyataannya nggak selamanya teoriku itu benar.
Karena saat bayangan dia muncul, aku sadar kalau itu cuma bayangan.
Makanya aku pikir aku memang sedang tidak menyukai siapa pun. Serius.
Dulu aku memang suka padanya, bahkan sempat berharap dia juga merasakan apa yg aku rasakan. Siapa sih, orang yg kalau suka sama seseorang nggak berharap org yg dia sukai juga suka sama dia [sedikit saja] ?

Mungkin karena dia org yg terakhir aku suka (sampai saat ini) makanya masih suka kebayang sekalipun aku udah biasa saja.. ngga biasa aja sih ya gimanaya. Laah kok jadi gue yg curhat -_-

Saat ini..aku memang tidak menyukai siapa-siapa. Siapa?

*play: rahasia hati-Nidji*
Andai kau tahu. Andai kau tahu. Rahasia cintaku ... 

Tuesday, 26 November 2013

Teori "Nggak apa-apa"

"Aku nggak apa-apa."
Kalimat ini bisa punya banyak arti. Katanya, kalau orang (terutama perempuan) ditanya terus jawabnya "nggak apa-apa" berarti sebenarnya dia itu kenapa-kenapa.
Teori yang entah darimana datangnya itu memang ada benarnya, sih.
Pernah suatu hari ada yg bertanya, "sa, kamu kenapa?"
Lalu tanpa berpikir panjang aku jawab,"nggak apa-apa, kok."
Ya, tanpa berpikir.
Karena aku harap, dengan aku jawab seperti itu, dia tidak akan bertanya lagi.
Ya, jawaban itu kadang hanya sebagai alasan untuk membuat orang2 diam dan tidak bertanya lagi. Kadang, kata 'nggak apa-apa' itu juga bisa sebagai kekuatan kita untuk memberitahu kepada diri sendiri dan orang lain kalau diri kita baik-baik saja, atau berharap semua akan baik-baik saja.

Aku sendiri kadang menganggap "nggak apa-apa" sebagai harapan kalau memang semuanya akan baik-baik saja. Ya, harapan. Aku pikir "nggak apa-apa" akan membuat hal yg kita pikirkan akan baik-baik saja dengan sendirinya. aku tahu, itu teori bodoh yang aku punya. Setidaknya, kata 'nggak apa-apa' bisa membuat hatiku tenang sedikit. Ya, sedikit.

Pernah ada yg bertanya seperti ini,
X : kamu kenapa?
Aku : gppa, kok.
X : yakin nggak apa-apa?
A : ...

Ketika seseorang bertanya apakah aku baik2 saja untuk kedua kalinya untuk meyakinkan kalau aku memang baik-baik saja. Aku suka terharu. Haha. Kedengarannya 'lebay' tapi memang itu yg aku rasakan.

Beda lagi kalau seperti ini
X : kamu kenapa?
Aku : gppa, kok.
X : yakin nggak apa-apa?
A : iya, gppa kok.
X : beneran nih? Bener gppa?
A : iyaa.
X : bener gppa, ya?
Nah, kalau buat aku, bertanya lebih dari dua kali itu agak menyebalkan. Secara nggak langsung dia tuh meminta atau mungkin memaksa kita untuk bercerita.

X : kamu kenapa?
Aku : gppa, kok.
X : yakin nggak apa-apa?
(Nah, waktu dia bertanya untuk kedua kalinya ini adalah sebuah pilihan. Menceritakan masalah kita atau tetap memendamnya sendiri. Jadi, pikirkan baik2)
A : ... iya, gppa.
X : yasudah kalau nggak apa-apa.
A : iya.

"yasudah kalau nggak apa-apa" juga punya banyak arti, loh. Ini dugaanku, arti dari "yasudah nggak apa-apa" adalah :
1. "baiklah, kalau memang km tidak atau belum mau cerita."
2. "Aku harap kamu memang tidak knapa2"
3. "Kenapa kamu nggak terus terang saja km knapa?" (Kesal karna gak cerita)
4. "Yasudah. Itu urusanmu."
5. "Baiklah."
Mungkin ada yg mau menambahkan? Hehe

Bonus:
Kalau orang pacaran, biasanya percakapannya kaya gini :
X : kamu kenapa ?
Y : gpp
X : marah ya?
Y : g
X : maaf ya?
Y : y
*tamat*
Akakak.. Nyebelin emang XD artiin aja sendiri kalau itu. Haha.

Yap, Begitulah teori "nggak apa-apa" versi aku. Yeii! Hehe. Namanya juga versi aku, jadi emang cuma berdasarkan pemikiranku saja:)u

Wednesday, 20 November 2013

Happy meeting happy birthday

15 November 2013

hari itu adalah hari Jumat. Kalau menurutku hari Jumat itu hari yang berjalan sangat cepat. entah mungkin perasaan aku aja atau gimana. Siang itu, kebetulan aku nggak bawa bekal dan tiba-tiba aja Pak Dian datang terus senyum-senyum. Hahaha yaa biasa juga suka seperti itu, sih. Tapi ada yang beda hari itu. Senyumnya senyum bahagia dan ternyata benar saja itu senyum ulang tahun. wkwk.
Hari itu, Pak Dian ulang tahun dan kita ditraktir makan pizza. wasiiiik :D haha.
Alhamdulillah Rejeki mah ya ada aja. aku juga kangen makan pizza. hihi.
Singkat kata singkat cerita, kebetulan hari ini ada meeting. Apa yang kalian bayangkan kalau dengar kata meeting? Seluruh staff berkumpul di sebuah ruangan dengan meja panjang dan satu orang berbicara di meja paling ujung?


Meeting ditempatku memang sedikit unik. Kita makan-makan dan berkumpul di ruang tengah. Suasananya tidak formal seperti di film-film. Tapi yang dibicarakan tetap serius.
Meeting selalu dimulai setelah jam kerja berakhir. Biasanya setelah magrib atau kadang setelah isya. Malam banget ya. Kadang aku suka ngantuk karena sudah seharian bekerja, malamnya meeting. Hmm. Ganbatte !
Malam itu, ada yang kasak-kusuk diruangan teh wulan. Karena aku orangnya suak nggak pedulian, jadi aku diam saja. haha. tiba-tiba ada kue dengan lilin yang sudah menyala keluar dari ruangan itu dibawa teh wulan menuju meja tengah. hihi lucu yaa. aku pikir kejutan2 seperti itu hanya ada ketika kita sekolah. Tapi ternyata di lingkungan kerja juga ada. Kita juga menyanyi lagu happy biithday sampbil tepuk tangan. lucu, ya! Aku jadi iikut senang. apalagi aku kebagian kuenya enak. hehe
Pak Dian, Pak Andri, Teh Wulan, Pak Acong (tapi kepotong) ^^
happy happy birthday! Aku yang fotoin :Db
 In Brief, Happy birthday ! and Happy Meeting !

Monday, 18 November 2013

jreng jreng

Sejak saat itu. Aku.. lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Kalian boleh tidak percaya. Tapi aku memang tidak ingat bagaimana itu cinta, bagaimana rasanya jatuh cinta. Entahlah:)

Sunday, 17 November 2013

Tas Dorong


Aku kembali memejamkan mataku. Membiarkan otakku memutar ingatan. Kali ini, aku mendapati diriku sedang duduk di paling belakang, mengenakan seragam putih biru, seragam TK. Teman-teman yang belum aku kenal sebagian sudah mengenakan seragam putih hijau. Tapi aku tidak egitu peduli karena masih ada juga yang mengenakan seragam TK. Ada ibu guru yang sedang berbicara di depan. Entah apa yang sedang beliau katakan. Aku tidak bisa mendengarnya karena aku tidak ingat. Ada 44 anak di dalam kelas itu. Aku belum mengenal mereka semua karena ini adalah hari pertama aku masuk SD. Hanya itu yang aku ingat.
Pada saat istirahat, aku menghampiri ibu yang sedang duduk bersama ibu-ibu yang lain, menungu anak-anaknya.  Aku berlari menghampiri ibu. Dengan senang aku berbisik padanya, “Sasa sudah punya teman. Namanya Nurani.” Lalu ibu tersenyum. “Kenalan lagi sama yang lain.”
“Iya!” jawabku bersemangat. Setelah itu ibu menyuruhku salim pada ibu-ibu yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibu dari teman-temanku. Aku juga berkenalan dengan anak-anak dari ibu-ibu itu. Tapi aku tidak ingat siapa.  –flash-
Sekarang aku mendapati diriku sedang tertidur pulas dengan bantal dan guling yang sudah tidak beraturan posisinya. Di samping ada adik dan ibu yang juga sedang tertidur. “Teng!” Suara batu dilempar mengenai pagar besi lantai dua rumahku. Ibu, aku, dan adik sepertinya tidak menyadari suara itu. Mereka tertidur pulas. Aku lucu juga, ya, kalau sedang tidur! Hehe.
‘Tak!’ kali ini suara batu dilempar mengenai pintu.
“Iyaa!” Kata ibu yang langsung beranjak dari tempat tidur. Turun ke bawah membuka pintu.
“Assalamualaikum.” Itu suara ayah. Nada ucapan salam yang khas milik ayah.
Kalau Ayah pulang, beliau memang selalu pulang larut malam. Saat kami semua sudah tertidur. Tanda ayah pulang adalah ada suara lemparan batu.
 Karena kami semua tidur di lantai dua. Kalau hanya mengetuk pintu depan, tidak akan terdengar. Dan hanya ibu yang terbangun mendengar suara itu. Aku dan adikku tidak menyadari kalau ayah sudah pulang.
“Anak-anak udah tidur?” Tanya ayah.
“Udah. Jam delapan juga udah pada tidur. Ayah bawa apa itu?”  Kantong besar yang baru disimpan ayah menjadi perhatian ibu. 
“Bangunin sasa, gih.”
Aku masih berada di alam mimpi yang indah sampai akhirnya aku dengar suara ibu memanggil namaku sambil menggoyangkan badanku. Mau tidak mau aku meninggalkan alam mimpiku dan terbangun. Ibu menaruh benda besar yang masih dibungkus plastik di atas kasur.
Sambil setengah sadar aku membuka plastiknya, dibantu ibu. Sebuah tas! Tas dorong berwarna biru. Ditengahnya ada lambang orang sedang berkuda. Gagangnya berwarna kuning dan sletingnya berwarna emas. Bagus! Ayah membelikan tas dorong ini untukku. “Besok mau pake!” Aku bersemangat.
“Ini buat ihsan.” Sebuah kotak yang berisi  robot-robotan berwarna biru. Robotnya bagus, tapi adikku masih tertidur. Kalau dibangunkan, dia akan menangis. Maklum, masih kecil. Mungkin dia akan
“Ya, tidur lagilah.” Ayah mengelus kepalaku.  
Keesokan harinya, aku memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas baru. Tas yang bisa didorong dan bisa digendong. Tas dari ayah. Rasanya senang sekali punya tas baru.
Tas ini cukup besar kalau di simpan di bangku. Aku jadi tidak bisa bersandar karena tasku yang besar. Tapi tak apa. Aku senang! Banyak teman-teman yang melihat ke arah tasku tapi tidak berkomentar apa-apa.  Sebagian meledekku, entahlah. Mungkin tas dorong seperti ini masih aneh di kalangan anak-anak SD seusiaku.
Pada saat istirahat, aku bermain-main keluar. Main lari-larian, uwi nagok , dan permainan lain yang menyenangkan sampai bel berbunyi. Pada saat aku kembali ke kelas, aku mendapati tasku sudah tergeletak di lantai. Ada banyak bekas injakan sepatu di bagian depan. Tasku diinjak-injak oleh -entah siapa-. Aku kaget dan langsung membersihkan bekas sepatu dengan tanganku. Bagian depannya penyok karena tertekan, tapi bisa kembali seperti semula. Rasanya ingin menangis tapi aku tahan. Aku hanya diam seakan tidak terjadi apa-apa pada tasku. Berusaha tegar, walaupun sebenarnya sedih sekali. Teman-teman yang melihat kejadian itu pun diam. Membuatku semakin tidak tahu siapa teman yang tega melakukan ini pada tasku.  Teman? Apa orang yang sudah menginjak-injak tasku itu masih bisa disebut sebagai teman?
***
Aku membuka mata. Kejadian itu masih kuingat sampai sekarang. Meskipun samar-samar.  Pada hari pertama aku memakai tas dorong warna biru dari ayah, tas itu diinjak-injak entah oleh siapa pelakunya.  Akujadi trauma untuk memakai tas dorong lagi. Aku tidak memakainya setiap hari. Hanya hari tertentu saja. Tapi setelah itu aku ingat, teman-teman yang lain juga memakai tas dorong. Meskipun begiu, tidak ada yang mempunyai tas dorong berwarna biru seperti milikku. Kerena tas ini spesial ayah belikan untukku. Terima kasih, ayah.

Friday, 15 November 2013

Anting


Waktu aku masih SD, aku merasa berbeda dengan anak-anak perempuan lainnya, aku melihat teman-teman perempuan memakai benda kecil di kedua telinganya. Ya, anting.
Suatu hari, Aku bertanya pada ibuku, "Bu, kenapa aku tidak punya anting?"
"Karena kau tidak mempunyai lubang kecil di telinga."
Aku bercermin dan memegang telingaku. Iya, tidak berlubang. Lalu kenapa teman-teman yang lain memiliki lubang?
"Kebanyakan anak perempuan ditindik saat mereka masih bayi, tapi kamu tidak ditindik."
"Ditindik itu apa?" Tanyaku.
"Ditindik itu dilubangi telinganya supaya bisa pasang anting,"
"Jadi, punya lubang di telinga itu bukan tanda kalau dia itu anak perempuan asli ya, Ma?"
"Kamu ini bicara apa? Tentu saja. Lubang di telinga itu ada karena dilubangi. Bukan bawaan dari lahir." Ibu tertawa kecil sambil mengusap kepalaku.
Aku merasa lega karena ternyata aku sama dengan anak perempuan yang lain. Hanya saja aku tidak ditindik. hiii:D
Tapi, lama kelamaan aku merasa teman-temanku yang memakai anting terlihat lebih cantik.  Apalagi ada anting yang bentuknya mickey mouse, donal bebek, dan tokoh-tokoh kartun lucu lainnya. Aku.. juga ingin punya anting. Aku ingin pakai anting.


   ---FLASHBACK---
Satu persatu anak-anak mau ke depan sambil membawa kertas ke depan. Aku masih berkutat dengan gambarku sambil sesekali melihat teman-teman yang sudah keluar kelas.  
“Ayo, yang sudah selesai boleh istirahat.” Kata Bu Ika.
Tanganku semakin cepat mewarnai gambar laut. Krayon biruku sudah pendek. Ini karena aku terlalu sering menggambar laut dan gunung.
“Kenapa tidak di PR-kan saja, sih?” Gumamku.  
Bel istirahat memang belum berbunyi, tapi anak-anak diperbolehkan untuk istirahat lebih dulu kalau gambar mereka sudah selesai. Lumayan ,kan, jadi bisa istirahat lebih lama!
Aku melihat keluar jendela, ke arah ayunan. Dua ayunan itu sudah dinaiki oleh teman-teman. Banyak teman yang lain berdiri didekat tiang ayunan mengantri untuk bermain ayunan. Ayunan itu memang menjadi wahana permainan favorit anak-anak seusiaku.  
“Siapa lagi yang sudah selesai?” Suara Ibu Ika membuatku kembali fokus mewarnai.
“sedikit lagi. Sedikit lagi.” Aku berbicara pada diri sendiri.
Aku merapikan krayon dan menyerahkan gambarku. Tanpa basa-basi aku berlari ke luar kelas menyusul teman-teman yang lain.
Aku sudah berdiri ikut mengantri untuk bermain ayunan. Antriannya cukup panjang tapi aku yakin aku bisa bermain. Tunggu saja.
Akhirnya setelah sekitar 10 menit menunggu, tiba giliranku bermain. Dengan cepat aku duduk di ayunan dan mulai berayun. Semakin lama semakin tinggi. Aku senang sekali! Rasanya seperti terbang! Tapi.. kebahagiaanku tidak bertahan lama karena bel masuk berbunyi. Aku sudah tidak berayun lagi tapi masih duduk di ayunan. Sedih.
“Masuuuk! Masuuk!” Bobby, sang ketua kelas, berteriak.
“Ah, kamu sih, Sa. Mainnya kelamaan! Aku jadi nggak bisa main. Tuh udah bel lagi!” Rudi mengomel karena belum sempat bermain.
“Apaan aku juga baru kok mainnya!”
"Ih, sasa kamu kaya anak laki-laki! telinganya tidak pakai anting!" katanya sambil pergi ke kelas. Dia memang menyebalkan, apa saja dikomentari.  Aku diam. Disebut seperti anak laki-laki, rasanya aku ingin menangis. Aku tidak seperti anak laki-laki!
---Flashback berakhir---
“Bu, kenapa aku tidak pakai anting? Kenapa telingaku tidak dilubangi waktu aku kecil?” Tanyaku.
“Nggak boleh sama Ayah.” jawab ibu.
Nggak boleh? Kenapa ayah tidak mengizinkan aku pakai anting? Padahal kalau aku pakai anting kan aku bisa terlihat lebih cantik kaya teman-teman lain. Ayah jahat!
“Bu! Aku mau pakai anting!”
“Ya boleh saja. Nanti telinga kamu ditusuk pakai jarum. Kamu tahan sakitnya?”
“Itu sakit ya, bu?”
“Yaa.. sedikit. Tapi sekarang kan sudah ada yang tinggal ditembak.”
Aku membayangkan pistol ditembakkan ke telingaku. Lalu telingaku bolong dan aku bisa pakai anting. Tapi.. pakai pistol? Itu pasti sakit sekali!
“Ah, nanti saja, deh, Bu.”
Sejak saat itu, aku agak kesal pada ayah. kenapa telingaku tidak dilubangi waktu aku masih bayi seperti anak perempuan yang lain? Kan kalau waktu masih bayi, aku tidak akan merasakan sakit. Coba kalau sekarang, pasti rasanya sakit! Kenapa ayah tega banget sama aku? *lebay*
Untuk beberapa hari aku sudah lupa tentang masalah anting. Sampai suatu hari aku teringat lagi dan aku kesal lagi sama ayah.
“Ayah, kenapa aku nggak pakai anting waktu bayi?”
“Buat apa?” Tanya ayah.
“Huh!” Aku tidak menjawab pertanyaan ayah. aku kesal! Aku tidak mau dicium ayah. aku tidak mau memeluk ayah. ini semua karena anting.
“Sasa kok cemberu terus? Jadi jelek.” Kata ibu suatu hari.
“Kesal. Kenapa waktu aku bayi aku nggak dikasih anting! Kenapa nggak boleh sama ayah!”
“Soalnya waktu itu ayah nggak mau lihat kamu menangis. Kalau telingamu dilubangi, kamu pasti akan menangis. Saking sayangnya sama kamu, Ayah nggak mau lihat sasa kecil menangis kesakitan, meskipun itu hanya sebentar.”
Cerita ibu seketika langsung menghapus kekesalan nggak jelasku pada ayah. aku membayangkan masa bayiku yang aku sendiri tidak ingat. Ternyata ayah punya alasan lain yangtidak pernah terpikir olehku. Alasan yang membuatku ingin menangis. Bukan karena aku sedih, tapi karena aku terharu mendengar cerita ibu. Aku bahagia memiliki ayah yang sayang padaku dengan caranya sendiri.

-Sasa-

Thursday, 14 November 2013

Miracle in cell no.7


Kemarin aku baca-baca katanya kemarin itu hari ayah nasional. Aku nggak tahu sejak kapan ada hari-hari yang kaya gitu. Hari air sedunia, hari jomblo sedunia, hari buah, hari apa sedunia. Pokokya banyak, deh! Bagus, sih, setiap hari seakan-akan adalah hari penting yang dikhususkan untuk sesuatu di hari itu.  Intinya sih hari apapun itu. Semuanya itu penting. Tanpa harus diberi nama hari ini hari itu atau apalah itu. Tapi dengan adanya nama-nama hari baru jadi terlihat lebih beragam. Hihi. Coba aja kalau setiap hari spesial itu berpengaruh pada kalender. Hari ayah jadi hari libur nasional, hari ibu jadi libur nasional, hari anak jadi libur nasional, hari ulang tahun jadi hari libur nasional juga. Whoaaa! Asik? Nggak. Sesuatu yang berlebihan itu tidak menyenangkan. Termasuk kalau kebanyakan tanggal merah.
Bicara tentang hari ayah, pasti kita langsung teringat ayah kita, kan?
Ayah. Kali ini aku mau cerita tentang ayah. Oh iya, ada yang sudah pernah nonton Miracle in Cell no.7 ? kalau belum, nonton deh. Kalau udah.. yaudah aja, aku cuma nanya. Hehe. Skip it!

Bukan karena kemarin adalah hari ayah nasional, tapi karena aku tiba-tiba teringat ayah saat mengetahui kemarin adalah hari ayah nasional, aku jadi ingin bercerita tentang ayah.  (apa bedanya?)
Aku akan mengajakmu menembus lorong waktu duniaku. Dunia yang masih aku ingat, bersama ayah .. mau ikut?  
Flashback …
~ Waktuku kecil hidupku amatlah senang. Senang dipangku dipangku dipeluknya. Serta dicium-dicium dimanjakan. Namanya kesayangan ~
Sepertinya aku belum sekolah saat itu. Entahlah, aku tidak begitu ingat. Yang aku ingat.. ayah pernah membawaku pergi ke Jakarta dengan menggunakan motor. Motor yang ayah pinjam dari tukang ojeg langganan tante. Sejak awal, aku tidak mau pergi ke Jakarta kalau tanpa ibu. Tapi ayah bilang kita hanya jalan-jalan. Aku pun duduk di depan ayah. Ayah mengikatkan ikat pinggang dan tali di perutku dan tersambung pada perut ayah. ikatannya sangat kuat. “Biar tidak jatuh,” kata ayah. ibu memakaikanku jaket jaketnya berlapis-lapis. “Biar tidak masuk angin,” kata ibu.
Dari awal aku sudah menahan tangis karena ibu tidak ikut bersamaku. Tapi ayahku bilang kita tidak akan pergi ke Jakarta, hanya jalan-jalan. Awalnya aku senang sekali naik motor bersama ayah. duduk di depan lagi! Tapi ketika motor melaju terus sampai puncak, aku sadar kalau ini memang jalan-jalan. Ya, jalan-jalan ke Jakarta.  
Aku mulai menangis. Meminta ayah untuk putar balik. “Pengen pulang! Pengen pulang!” aku berteriak sambil menangis, mencoba memutar stang motor yang tidak bisa kugerakkan. Aku memukul-mukul tangan ayah agar ayah memutar balik motornya pulang. “Iya, sebentar di depan sana kita putar balik.” Kata ayah.  aku percaya dan tidak menangis lagi. Tapi, ayah tak juga memutar balik motornya. Aku kembali menangis sejadi-jadinya sambil berteriak “Puter balik. Balikin motornyaaa.” (motor dibalikin rek kumaha bisa balik geura? Wkwk)
aku menangis sejadi-jadinya sambil memukul, mencubit, bahkan mencakar tangan ayah. menggoyang-goyangkan tangan beliau supaya memutar arah. Tapi sekuat apapun aku menangis, ayah hanya berkata “iya sebentar tuh sebentar lagi di depan.”
Entah di mana ‘depan’ yang ayah maksud sampai  akhirnya aku tertidur dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di Jakarta. Di rumah nenek. Ayah bohong padaku. Katanya kita nggak akan ke Jakarta, tapi kenapa kita ke Jakarta? Entah apa yang membuatku tak ingin pergi ke Jakarta tanpa ibu. Setelah itu, aku tidak ingat lagi.  Mungkin saat itu  aku tidak bisa apa-apa dan akhirnya aku asik bermain di rumah nenek.  Yang aku ingat, hari itu aku lelah sekali karena aku menangis sejadi-jadinya sampai akhirnya tertidur.
Beberapa tahun kemudian, ayah pernah bertanya padaku apakah aku masih ingat dengan kejadian itu atau tidak. Tentu sajaa aku ingat! Aku hanya lupa kejadian setelah itu. Lupa total. Tak ada bayangan apapun setelah kejadian aku menangis saat itu.
Aku rasa setiap orang tua memang pernah berbohong kepada anaknya. Dan sang anak akan sellau percaya.
Ayah bilang, ayah tidak begitu suka melihatku suka diajak naik ojeg sama tante. “Makanya waktu itu ayah menyewa motor dan mengajak jalan-jalan, biar sasa puas. nggak naik-naik ojeg lagi.” Cerita ayah padaku.  “Ayah takut sasa jatuh. Soalnya sasa tidur pulas sekali, meskipun ayah sudah mengikat ikat pinggang berlapis-lapis. Nggak lagi-lagi,deh.”
Aku tersenyum mendengar alasan ayah. aku pikir waktu itu ayah jahat. Aku pikir waktu itu ayah mau memisahkan aku dari ibu (masih kecil pikirannya udah lebay ya. wkwk). Tapi sekarang aku mengerti.
Seorang ayah emamng punya cara tersendiri untuk menunjukkan rasa sayang kepada anak-anaknya.
Huaa! Mataku jadi berkaca-kaca :’(
Padahal baru flashback pertama. Tunggu flashback2 selanjutnya yaa.. 

Dua Puluh Tahun

Tenang, kali ini kita tidak akan bertemu aku 20 tahun lalu. Haha. Dua puluh tahun adalah alasanku 'menolak' orang yang pertama kali ...