Friday, 15 November 2013

Anting


Waktu aku masih SD, aku merasa berbeda dengan anak-anak perempuan lainnya, aku melihat teman-teman perempuan memakai benda kecil di kedua telinganya. Ya, anting.
Suatu hari, Aku bertanya pada ibuku, "Bu, kenapa aku tidak punya anting?"
"Karena kau tidak mempunyai lubang kecil di telinga."
Aku bercermin dan memegang telingaku. Iya, tidak berlubang. Lalu kenapa teman-teman yang lain memiliki lubang?
"Kebanyakan anak perempuan ditindik saat mereka masih bayi, tapi kamu tidak ditindik."
"Ditindik itu apa?" Tanyaku.
"Ditindik itu dilubangi telinganya supaya bisa pasang anting,"
"Jadi, punya lubang di telinga itu bukan tanda kalau dia itu anak perempuan asli ya, Ma?"
"Kamu ini bicara apa? Tentu saja. Lubang di telinga itu ada karena dilubangi. Bukan bawaan dari lahir." Ibu tertawa kecil sambil mengusap kepalaku.
Aku merasa lega karena ternyata aku sama dengan anak perempuan yang lain. Hanya saja aku tidak ditindik. hiii:D
Tapi, lama kelamaan aku merasa teman-temanku yang memakai anting terlihat lebih cantik.  Apalagi ada anting yang bentuknya mickey mouse, donal bebek, dan tokoh-tokoh kartun lucu lainnya. Aku.. juga ingin punya anting. Aku ingin pakai anting.


   ---FLASHBACK---
Satu persatu anak-anak mau ke depan sambil membawa kertas ke depan. Aku masih berkutat dengan gambarku sambil sesekali melihat teman-teman yang sudah keluar kelas.  
“Ayo, yang sudah selesai boleh istirahat.” Kata Bu Ika.
Tanganku semakin cepat mewarnai gambar laut. Krayon biruku sudah pendek. Ini karena aku terlalu sering menggambar laut dan gunung.
“Kenapa tidak di PR-kan saja, sih?” Gumamku.  
Bel istirahat memang belum berbunyi, tapi anak-anak diperbolehkan untuk istirahat lebih dulu kalau gambar mereka sudah selesai. Lumayan ,kan, jadi bisa istirahat lebih lama!
Aku melihat keluar jendela, ke arah ayunan. Dua ayunan itu sudah dinaiki oleh teman-teman. Banyak teman yang lain berdiri didekat tiang ayunan mengantri untuk bermain ayunan. Ayunan itu memang menjadi wahana permainan favorit anak-anak seusiaku.  
“Siapa lagi yang sudah selesai?” Suara Ibu Ika membuatku kembali fokus mewarnai.
“sedikit lagi. Sedikit lagi.” Aku berbicara pada diri sendiri.
Aku merapikan krayon dan menyerahkan gambarku. Tanpa basa-basi aku berlari ke luar kelas menyusul teman-teman yang lain.
Aku sudah berdiri ikut mengantri untuk bermain ayunan. Antriannya cukup panjang tapi aku yakin aku bisa bermain. Tunggu saja.
Akhirnya setelah sekitar 10 menit menunggu, tiba giliranku bermain. Dengan cepat aku duduk di ayunan dan mulai berayun. Semakin lama semakin tinggi. Aku senang sekali! Rasanya seperti terbang! Tapi.. kebahagiaanku tidak bertahan lama karena bel masuk berbunyi. Aku sudah tidak berayun lagi tapi masih duduk di ayunan. Sedih.
“Masuuuk! Masuuk!” Bobby, sang ketua kelas, berteriak.
“Ah, kamu sih, Sa. Mainnya kelamaan! Aku jadi nggak bisa main. Tuh udah bel lagi!” Rudi mengomel karena belum sempat bermain.
“Apaan aku juga baru kok mainnya!”
"Ih, sasa kamu kaya anak laki-laki! telinganya tidak pakai anting!" katanya sambil pergi ke kelas. Dia memang menyebalkan, apa saja dikomentari.  Aku diam. Disebut seperti anak laki-laki, rasanya aku ingin menangis. Aku tidak seperti anak laki-laki!
---Flashback berakhir---
“Bu, kenapa aku tidak pakai anting? Kenapa telingaku tidak dilubangi waktu aku kecil?” Tanyaku.
“Nggak boleh sama Ayah.” jawab ibu.
Nggak boleh? Kenapa ayah tidak mengizinkan aku pakai anting? Padahal kalau aku pakai anting kan aku bisa terlihat lebih cantik kaya teman-teman lain. Ayah jahat!
“Bu! Aku mau pakai anting!”
“Ya boleh saja. Nanti telinga kamu ditusuk pakai jarum. Kamu tahan sakitnya?”
“Itu sakit ya, bu?”
“Yaa.. sedikit. Tapi sekarang kan sudah ada yang tinggal ditembak.”
Aku membayangkan pistol ditembakkan ke telingaku. Lalu telingaku bolong dan aku bisa pakai anting. Tapi.. pakai pistol? Itu pasti sakit sekali!
“Ah, nanti saja, deh, Bu.”
Sejak saat itu, aku agak kesal pada ayah. kenapa telingaku tidak dilubangi waktu aku masih bayi seperti anak perempuan yang lain? Kan kalau waktu masih bayi, aku tidak akan merasakan sakit. Coba kalau sekarang, pasti rasanya sakit! Kenapa ayah tega banget sama aku? *lebay*
Untuk beberapa hari aku sudah lupa tentang masalah anting. Sampai suatu hari aku teringat lagi dan aku kesal lagi sama ayah.
“Ayah, kenapa aku nggak pakai anting waktu bayi?”
“Buat apa?” Tanya ayah.
“Huh!” Aku tidak menjawab pertanyaan ayah. aku kesal! Aku tidak mau dicium ayah. aku tidak mau memeluk ayah. ini semua karena anting.
“Sasa kok cemberu terus? Jadi jelek.” Kata ibu suatu hari.
“Kesal. Kenapa waktu aku bayi aku nggak dikasih anting! Kenapa nggak boleh sama ayah!”
“Soalnya waktu itu ayah nggak mau lihat kamu menangis. Kalau telingamu dilubangi, kamu pasti akan menangis. Saking sayangnya sama kamu, Ayah nggak mau lihat sasa kecil menangis kesakitan, meskipun itu hanya sebentar.”
Cerita ibu seketika langsung menghapus kekesalan nggak jelasku pada ayah. aku membayangkan masa bayiku yang aku sendiri tidak ingat. Ternyata ayah punya alasan lain yangtidak pernah terpikir olehku. Alasan yang membuatku ingin menangis. Bukan karena aku sedih, tapi karena aku terharu mendengar cerita ibu. Aku bahagia memiliki ayah yang sayang padaku dengan caranya sendiri.

-Sasa-

Thursday, 14 November 2013

Miracle in cell no.7


Kemarin aku baca-baca katanya kemarin itu hari ayah nasional. Aku nggak tahu sejak kapan ada hari-hari yang kaya gitu. Hari air sedunia, hari jomblo sedunia, hari buah, hari apa sedunia. Pokokya banyak, deh! Bagus, sih, setiap hari seakan-akan adalah hari penting yang dikhususkan untuk sesuatu di hari itu.  Intinya sih hari apapun itu. Semuanya itu penting. Tanpa harus diberi nama hari ini hari itu atau apalah itu. Tapi dengan adanya nama-nama hari baru jadi terlihat lebih beragam. Hihi. Coba aja kalau setiap hari spesial itu berpengaruh pada kalender. Hari ayah jadi hari libur nasional, hari ibu jadi libur nasional, hari anak jadi libur nasional, hari ulang tahun jadi hari libur nasional juga. Whoaaa! Asik? Nggak. Sesuatu yang berlebihan itu tidak menyenangkan. Termasuk kalau kebanyakan tanggal merah.
Bicara tentang hari ayah, pasti kita langsung teringat ayah kita, kan?
Ayah. Kali ini aku mau cerita tentang ayah. Oh iya, ada yang sudah pernah nonton Miracle in Cell no.7 ? kalau belum, nonton deh. Kalau udah.. yaudah aja, aku cuma nanya. Hehe. Skip it!

Bukan karena kemarin adalah hari ayah nasional, tapi karena aku tiba-tiba teringat ayah saat mengetahui kemarin adalah hari ayah nasional, aku jadi ingin bercerita tentang ayah.  (apa bedanya?)
Aku akan mengajakmu menembus lorong waktu duniaku. Dunia yang masih aku ingat, bersama ayah .. mau ikut?  
Flashback …
~ Waktuku kecil hidupku amatlah senang. Senang dipangku dipangku dipeluknya. Serta dicium-dicium dimanjakan. Namanya kesayangan ~
Sepertinya aku belum sekolah saat itu. Entahlah, aku tidak begitu ingat. Yang aku ingat.. ayah pernah membawaku pergi ke Jakarta dengan menggunakan motor. Motor yang ayah pinjam dari tukang ojeg langganan tante. Sejak awal, aku tidak mau pergi ke Jakarta kalau tanpa ibu. Tapi ayah bilang kita hanya jalan-jalan. Aku pun duduk di depan ayah. Ayah mengikatkan ikat pinggang dan tali di perutku dan tersambung pada perut ayah. ikatannya sangat kuat. “Biar tidak jatuh,” kata ayah. ibu memakaikanku jaket jaketnya berlapis-lapis. “Biar tidak masuk angin,” kata ibu.
Dari awal aku sudah menahan tangis karena ibu tidak ikut bersamaku. Tapi ayahku bilang kita tidak akan pergi ke Jakarta, hanya jalan-jalan. Awalnya aku senang sekali naik motor bersama ayah. duduk di depan lagi! Tapi ketika motor melaju terus sampai puncak, aku sadar kalau ini memang jalan-jalan. Ya, jalan-jalan ke Jakarta.  
Aku mulai menangis. Meminta ayah untuk putar balik. “Pengen pulang! Pengen pulang!” aku berteriak sambil menangis, mencoba memutar stang motor yang tidak bisa kugerakkan. Aku memukul-mukul tangan ayah agar ayah memutar balik motornya pulang. “Iya, sebentar di depan sana kita putar balik.” Kata ayah.  aku percaya dan tidak menangis lagi. Tapi, ayah tak juga memutar balik motornya. Aku kembali menangis sejadi-jadinya sambil berteriak “Puter balik. Balikin motornyaaa.” (motor dibalikin rek kumaha bisa balik geura? Wkwk)
aku menangis sejadi-jadinya sambil memukul, mencubit, bahkan mencakar tangan ayah. menggoyang-goyangkan tangan beliau supaya memutar arah. Tapi sekuat apapun aku menangis, ayah hanya berkata “iya sebentar tuh sebentar lagi di depan.”
Entah di mana ‘depan’ yang ayah maksud sampai  akhirnya aku tertidur dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di Jakarta. Di rumah nenek. Ayah bohong padaku. Katanya kita nggak akan ke Jakarta, tapi kenapa kita ke Jakarta? Entah apa yang membuatku tak ingin pergi ke Jakarta tanpa ibu. Setelah itu, aku tidak ingat lagi.  Mungkin saat itu  aku tidak bisa apa-apa dan akhirnya aku asik bermain di rumah nenek.  Yang aku ingat, hari itu aku lelah sekali karena aku menangis sejadi-jadinya sampai akhirnya tertidur.
Beberapa tahun kemudian, ayah pernah bertanya padaku apakah aku masih ingat dengan kejadian itu atau tidak. Tentu sajaa aku ingat! Aku hanya lupa kejadian setelah itu. Lupa total. Tak ada bayangan apapun setelah kejadian aku menangis saat itu.
Aku rasa setiap orang tua memang pernah berbohong kepada anaknya. Dan sang anak akan sellau percaya.
Ayah bilang, ayah tidak begitu suka melihatku suka diajak naik ojeg sama tante. “Makanya waktu itu ayah menyewa motor dan mengajak jalan-jalan, biar sasa puas. nggak naik-naik ojeg lagi.” Cerita ayah padaku.  “Ayah takut sasa jatuh. Soalnya sasa tidur pulas sekali, meskipun ayah sudah mengikat ikat pinggang berlapis-lapis. Nggak lagi-lagi,deh.”
Aku tersenyum mendengar alasan ayah. aku pikir waktu itu ayah jahat. Aku pikir waktu itu ayah mau memisahkan aku dari ibu (masih kecil pikirannya udah lebay ya. wkwk). Tapi sekarang aku mengerti.
Seorang ayah emamng punya cara tersendiri untuk menunjukkan rasa sayang kepada anak-anaknya.
Huaa! Mataku jadi berkaca-kaca :’(
Padahal baru flashback pertama. Tunggu flashback2 selanjutnya yaa.. 

Wednesday, 13 November 2013

semacam quotes



                                         aku dapet ini dari tumblr-nya kak @odetrahma ..


Tuesday, 12 November 2013

Petualangan Sherina


Petualangan Sherina
“Bandung? Bukan …  di Jakarta?”  
Cuplikan film Petualangan Sherina yang masih aku ingat sampai sekarang.  Aku bahkan hapal setiap adegan, alur cerita, dialog, juga lagu-lagunya. Bayangkan saja, aku mungkin sudah tiga puluh kali menonton film itu. Terakhir aku menontonnya bersama adik sepupu sekitar bulan Maret 2013.
“Bandung? Bukan di Jakarta?” banyak orang, baik itu teman atau saudara yang melontarkan pertanyaan itu padaku. Senyum adalah jawaban pertama yang aku berikan kepada siapapun yang bertanya. Aku sendiri kadang tidak tahu apa arti senyum itu.  Senyum yang bisa berarti aku bahagia dengan aku yang sekarang. Tapi juga bisa berarti ada sesuatu yang aku tidak ingin ceritakan kepada kalian yang bertanya.  –seandainya kalian tahu-
Bandung.  
Di sana ada satu perguruan tinggi negeri yang sempat menjadi impianku ketika aku masih SMA.  Ya, Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Bahasa Inggris. Tapi pada kenyataannya aku tidak memilih universitas itu ketika aku ikut SNMPTN 2011 dan 2012.
Di sana ada satu rumah sakit swasta di daerah Dago yang menjadi saksi perjuangan hidup almarhum nenekku yang setiap dua minggu sekali harus menjalani cuci darah. Aku masih SD dan aku sering ikut menemani nenek pergi ke sana. Sambil menunggu proses cuci darah yang tidak sebentar, aku pernah  makan dan shalat di kampus ITB dan sampai saat ini, masjid ITB adalah masjid yang nyaman.  Mukenanya harum.  Udaranya juga sejuk. Selain itu aku dan ibuku pernah makan di kantin ITB. Makanannya enak-enak dan harganya terjangkau. (kok jadi kaya promosi, ya! Hehe)
Bandung. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku begitu tertarik dengan kota ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang membuatku merasa nyaman berada di sini, setelah rumah. Padahal aku bisa dibilang jarang mengunjungi bandung. Entahlah.
Sampai saat ini aku masih tidak menyangka pada akhirnya aku –bisa dibilang- tinggal di sini, di Bandung, meskipun bukan sebagai mahasiswa yang dulu aku impikan. Ya, aku kini bukan lagi seorang mahasiswa. Bukan karena aku sudah menyandang gelar sarjana, tapi karena aku sudah memutuskan untuk grad (mulai deh so so jadi idol. wkwk) dari salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta.
Keputusanku sudah jelas membuat kecewa, kaget bahkan sedih semua orang yang peduli padaku. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana agar mereka yang telah aku kecewakan mau memaafkan aku.  Tolong jangan mengira aku senang dengan ini. Akupun sedih dan sakit saat itu. Maaf.. maaf.. maaf.. Tapi sekali lagi, ini keputusanku. Dan aku harus siap menerima apapun hasil dari keputusan itu.  Keputusan yang menurut orang-orang yang tidak tahu dan tidak mengerti diku adalah kepputusan yang  ‘gila’ . aku tahu itu.
Tak heran berbagai pertanyaan, opini, atau apapun bermunculan. Pada awalnya aku benci dengan pertanyaan itu. Rasanya aku tidak ingin menjawabnya. Rasanya aku tidak ingin mendengar pertanyaan itu. Rasanya…..
Aku tahu, aku tidak bisa seperti itu terus-menerus. Mencoba menghindar dari pertanyaan itu dan menghindar dari mereka yang bertanya. Waktu dan orang-orang sekitar yang membuatku belajar dan mengerti. Mengerti agar aku bisa berdamai dengan masa lalu.  
Bagaimanapun.. ini keputusanku dan di sinilah aku sekarang. Di Bandung, bukan di Jakarta.  Dan aku akan terus berjuang untuk mimpiku, untuk inginku, untuk ibu, ayah, dan adikku. Untuk orang-orang yang aku sayangi.  Walau apapun yang harus aku hadapi nanti, aku akan hadapi.  Teman-temanku percaya aku bisa. Dan aku harus yakin itu. Semangaaat! Ayo kita semangaaat:)

Sunday, 10 November 2013

BBBM (Bulan, bintang-bintang, matahari)

Apa kau tahu?
aku memiliki matahari, bintang-bintang dan bulan.
tentu saja benda alam yang aku sebutkan tadi bukanlah matahari, bintang, dan bulan yang sesungguhnya.
mereka adalah keluargaku, teman-temanku, dan sahabat-sahabatku.
kali ini aku akan fokus membahas keluarga, teman, dan sahabat (maunya apasih gue)

kenapa aku sebut mereka matahari, bintang-bintang, dan bulan? karena ..
meskipun matahari tidak selalu hadir di setiap waktu, tapi pada saatnya aku bisa merasakan sinar dan hangatnya baik itu ketika aku sedang senang atau sedang sedih.

meskipun aku tidak melihat bintang-bintang setiap hari, tapi aku tahu mereka selalu ada di sana. dengan cahaya kecilnya yang membuatku seakan mendengar suara "tring tring" saat melihat mereka berkelap-kelip.
Begitu juga dengan bulan. Meskipun dia tidak selalu hadir karena kadang-kadang suka tertutup awan, tapi sinar lembutnya masih bisa menembus awan gelap yang menghalang.
Aku memang tidak setiap malam melihat bulan. namun, ketika suatu waktu melihat langit malam, bulan itu muncul dengan saaangat indah! Cahayanya terang, seakan mengucapkan 'selamat malam' padaku dan juga pada setiap orang yang melihatnya.

Sebenarnya di langit itu kan bukan hanya ada matahari, bintang2, dan bulan aja, ya? di sana juga ada awan, ada ... ada... apa lagi? hehe

Ketika aku merasa senang, aku suka melihat langit sambil tersenyum. kadang, aku melihat matahari senja yang seakan ikut senang melihat senyumku. matahari itu seperti mengucapkan 'selamat istirahat!' dan kemudian menghilang untuk menyinari tempat yang lain.
Aku juga suak melihat bulan yang sepertinya sudah tahu alasan dibalik senyumku tanpa perlu aku ceritakan apa saja yang sudah terjadi di hari itu.
Melihat langit adalah kebiasaanku khususnya, ketika aku sedang merasa bahagia. Tapi, kalau aku lagi sedih, aku lebih sering menunduk dan mengabaikan apapun yang ada di langit. aku membiarkan keseihanku menguasai semuanya .masayaa aku galau? kkk
di saat seperti itu, aku tidak melihat matahari, bintang2, atau bulsn. tapi aku bisa merasakan kehadiran dan kepedulian mereka.
kadang, kalau aku lagi sedih, lagi kehilangan semangat, mereka tetap ada. padahal aku nggak cerita apa-apa. melihat mereka pun nggak. jadi sedih sendiri aja gitu.
banyak hal yang suka aku anggap biasa saja bahkan mungkin aku abaikan. dan aku (aku rasa bukan hanya aku, tapi hampir semua orang) baru tersadar hal apapun itu berharga ketika mereka menghilang.

Aku akan merindukan matahari yang memberikan sinar semangat ketika langit mulai gelap. Tapi aku sendiri tidak selalu menyambut matahari pagi dengan senyuman.
Aku akan merindukan bulan yang setia memperhatikan dan mendengar ceritaku -cerita yang mungkin membosankan dan tidak menarik- ketika bulan itu tertutup awan. 
dan aku akan merindukan bintang-bintang yang berkelip ketika aku merasa kesepian.
Egois, bukan?
Aku matahari, bintang2, dan bulan. tapi aku sendiri tidak tahu apakah aku sudah bisa menjadi benda2 langit itu untuk mereka atau tidak.
tapi satu hal, aku sangat bersyukur bisa mengenal meraka. memiliki keluarga , teman-teman, dan sahabat yang tulus:)
aku tahu, ucapan terima kasih dan sayangku ini tidak akan mengubah apa-apa. karena aku juga tidak ingin mereka berubah. aku ingin mereka terus menemaniku. apapaun yang terjadi, kapanpun, dimanapun seperti benda langit itu.
aku sangat bersyukur.. sangat bersyukur. berada di antara orang2 yang menyayangiku. berada di antara orang2 yang memberikanku semangat meskipun mereka jauh. meskipun kita jarang berkomunikasi.
Terima kasih, ya Allah.. aku mencintai-Mu.
Aku mencintai keluargaku. dan aku menyayangi teman-temanku.

Sasa






Thursday, 7 November 2013

unrequited love

"Sebenarnya  PHP (Pemberi Harapan Palsu) itu nggak ada. Kitanya aja yang (terlalu) berharap." entah itu kata-kata dari siapa, tapi aku sering dengar kalimat itu. dan memang tidak bisa dipungkiri, kalimat itu benar adanya.
sebenarnya nggak ada tuh istilah "Ih, dia mah PHP." helooow, yang berharap siapa dan yang memberikan harapan siapa?
kalau pertanyaan itu muncul, mungkin kebanyakan dari kita akan menjawab sekenanya : "yang beharap adalah aku dan yang memberikan harapan adalah dia. tapi harapan yang dia berikan itu palsu alias PHP !" - are you sure ?
mari kita lebih teliti lagi sebelum menjawab atau mengatakan tentang 'harapan' itu sendiri.
katakanlah yang berharap adalah kita. berharap apa? sebenarnya itu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. di sini kita bicara entang mengharapkan seseorang dan sesuatu yang berhubungan dengan seseorang tersebut.
tapi benarkah seseorang yang kita harapkan itu memberikan harapan? kenapa kita men-cap dia sebagai pemberi harapan palsu ketika harapan kita tentangnya tidak mejadi kenyataan?

jujur saja, aku pun pernah (mungkin sedang) merasakan di PHP-in. bukan karena dia yang memberikan harapan palsu, tapi karena anganku yang berharap tentangnya. - azegg
aku sama sekali tidak menyalahkan dia yang aku harapkan. aku hanya merasa sedikit bodoh. kenapa harapanku bisa membuat -hampir- seluruh pikiranku terfokus padanya. kepada dia yang (aku kira) menyukaiku.

aku sendiri tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. kami memang sudah saling mengenal sejak lama. tapi baru beberapa kali bertemu, terhitung sejak kita saling mengenal.
mungkin kalau kau sempat membaca postingan lamaku, kau akan tahu.
moment saat bersamanya itu membuatku jump jump jump! entah aku yang drama atau apa. tapi aku mulai merasakan aneh dengan perasaanku. aku senang ketika dia menghubungiku meskipun hanya sekadar memanggil namaku. sederhana bukan? apa perasaanku saja yang berlebihan?
aku merasa punya teman baru karena kita memang jarang berkomunikasi sebelumnya. aku pikir hal itu akan terus berlanjut. tapi ternyata aku salah. terhitung sejak aku makan malam dengannya, dia menghilang.
handphone-ku tidak lagi berbunyi pada saat pagi atau malam.
pernah suatu hari akhirnya yang aku harapkan menjadi kenyataan. dia menghubungiku! dia bahkan menanyakan aku "kemana ajaa" . apa itu tandanya dia merinndukanku? atau hanya sekedar basa-basi yang tidak mempunyai maksud dan tujuan?
sayang... percakapan saat itu tida berlangsung lama. tiba-tiba saja tidak ada balasan lagi sampai keseokan harinya, keesokannya lagi.. dan esoknya ...esoknya.. esoknya.. *kaset rusak*
pada awalnya, aku pikir dia sibuk. aku mencoba untuk tidak memikirkan hal itu. berusaha untuk tidak memandangi handphone-ku sambil berharap tanda pesan masuk darinya berbunyi.
pada kenyataannya, aku memandangi handphone-ku setiap malam, aku membuka recent chat dan membaca ulang percakapan kami beberapa hari yang lalu .. dan lama-lama menjadi beberapa minggu yang lalu.
ke mana dia? tanyaku pada diri sendiri. aku juga bertanya kepada beberapa sahabatku yang sudah pasti tidak tahu jawabannya. aku pikir aku ... merindukannya.
sial ! kenapa aku jadi merindukannya seperti ini?
aku sangat merasa canggung jika harus memulai percakapan duluan. karena reaksinya terbayang di benakku ~ yeeiyeiyeyy
setelah beberapa hari, akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai percakapan duluan. aku takut.. takut nggak dibalas. ahaha.. eh, tapi dibalas! tapi... balasannya adalah balasan yang tidak bisa aku balas lagi :(
you know, AWKWARD !

aku memutuskan untuk tidak menghubunginya duluan -lagi. tapi aku melanggar keputusanku ketika aku memiliki alasan yang masuk akal untuk mengirim chat padanya. sebut saja modus.
dan LAGI, percakapannya tidak bisa memanjang. jujur aku sedih. tapi aku pikir, dia terlalu sibuk untuk menanggapi chat yang tidak terlalu penting, seperti chat dariku.
aku mulai belajar untuk tidak lagi mengharapkan sesuatu yang aku harapkan tentangnya terjadi. meskipun setiap hari mungkkin ada saja aku mengingatnya. entah sekadar melihat kontanya, atau melihat profilnya.
aku sadar, aku sedang mengharapkan dia -yang 'menghilang' entah kemana- menghubungiku.
bodoh, bukan?

dia PHP ? aku rasa tidak. aku lah yang terlalu berharap. aku terlalu berkhayal jauh tentangnya. padahal, mungkin bisa saja dia tidak memberikan atau mengharapkan apa-apa padaku.
aku sdah terlalu jauh men-drama. karena dia yang membuat dramaku menjadi kenyataan.. beuhh ~

PHP adalah pemberi harapan palsu. pemberi harapan? bagaimana caranya kau tahu dIa sedang membErikan harapan padamu?
pemberi harapan? apakah dia hanya sekedar memberikan harapan saja tanpa berharap? pertanyaan yang belum aku temukan jawabannya.
sama seperti pertanyaanku tentangnya...
kenapa dia 'menghilang' begitu saja? pertanyaan yang bisa membuat pikiranku berpikir yg macam-macam.
jelas kan, tidak ada yang namanya PHP.. yang ada hanya kita yang terlalu berharap.

life must go on! *tepuk tagan*









Monday, 28 October 2013

ulang tahun FDNR

ini adalah foto anak-anak fdnr waktu merayakan ulang tahun. flashback ke tahun lalu, 2012, di waktu yang mungkin hampir sama. pada waktu itu aku mengangkat tanganku untuk menjadi ketua angkatan FDNR. entah angin apa yang membuatku mengajukan diri sebagai ketua ketika aku bahkan belum mengenal mereka semua.
aku tahu, menjadi ketua angatan tidaklah mudah. tapi aku yakin kalau kita semua bekerja sama, semua akan bejalan sesuai harapan. pada awalnya, aku memang merasa lelah. mengatur jadwal, mencari dosen, memberikan pengumumna di depan kelas, jarkom, dan lainlain. tapi aku senang. hal itu membuatku menjadi lebih dekat dan lebih mengenal kalian:) aku tidak menyesal pernah menjadi ketua angkatan fdnr. meskipun aku tahu, aku tidak bisa menjadi ketua yang baik. aku masih jauh dari harapan kalian mungkin. hehehe. gomenasai:)


yang membatku merasa sangat beruntung adalah mereka masih mengingatku meskipun aku sudah memutuskan untuk grad. :')
semua pertemuan memang diawali dari saling tidak mengenal. waktu dan senyuman yang membuat kita saling mengenal dan menjadi seperti sekarang. aku memang tidak mengenal mereka lama. tapi bagiku, mereka adalah harta yanng sangat indah yang membuatku merasa kaya memiliki mereka. membuatku merasa beruntung mengenal mereka.  terima kasih, FDNR...

sincerely, me

Wednesday, 16 October 2013

tokyo banana

tadi siang, waktu aku mau makan siang (yaiyalahya masa makan malam), Pak Andri tiba-tiba ngabibita yaa pokoknya gayanya ngga bisa dideskripsikan >,< lucu dann hmmmm bikin pengen ..makan makanan semacam pisang tapi lucu dan kayaknya enaaaak.
tapi aku nggak mungkin ngambil soalnya itu ada di meja makan dan di meja makan ada bapak lagi ngobrol sama pak narto ada pak dian juga. aaamauu. aku cuma mupeng aja jadinya. liat pak Andri makan enak banget kayaknya. kaya roti gitu lucu.

tiap papasan sama pak andri, pak andri dengan ekpresinya masih aja ngabibita "hmmmm.. hmm" aku jadi makin mupeng donngg T^T

Beberapa saat setelah makan, waktu aku mau lanjutin kegiatan, eh pak andri ngeluarin makanan itu dari tasnya terus diraro di meja. yaa aku makan aja. kayaknya itu asalnya mau dimakan sama pak andri lagi deh soalnya bungkusnya udah dibuka. tapi malah ditaro di meja aku. hiii yaa aku makan ajaaa. dan whoaaa enaaak. namanya tokyo banana. ih enak banget. ini yang aku makan itu yang original.nya. wah kapan yaa akuke Tokyo? hihi.. enak bangeeet ngga bohong dehh.   *maklum baru pertama kali makan*
makasih lohh:)

tokyo banana oishii :Db

Sunday, 29 September 2013

INSIDIOUS 2



[Backsound : Maudy Ayunda – Cinta Datang Terlambat ]
Tak ku mengerti mengapa begini .. waktu dulu ku tak pernah merindu  ~
Bioskop mulai terang, tanda film sudah berakhir. Dan itu berarti gue semakin bisa melihat dengan jelas pemandangan couples yang masih betah duduk nonton credit filmnya. Gue nggak habis pikir apa sih asiknya nonton credit film? Apa mereka nggak lihat pegawai bioskop yang daritadi berdiri di dekat pintu EXIT yang secara nggak langsung berharap kita segera keluar karena bioskopnya mau diberesin buat film selanjutnya?
Entahlah, yang jelas nggak sampai satu menit setelah tulisan THE END muncul, gue langsung pergi keluar. What else? Pulang pulang pulaaang.
[Backsound : JKT48 – Yuuhi wo Miteiruka ]
Seperti apa hari ini yang telah dilewati, pasti terpikir saat di jalan pulang.
Yap! Seperti apa hari ini? lebih tepatnya, seperti apa malam ini yang telah dilewati?
Jawab : sepertinya gue envy sama couples yang masih betah nonton credit film tadi. -_-\\
Gue jadi mengkhayal suatu saat bakal ke bioskop sama seseorang berdua aja, dengan status yang agak so sweet gitu. wakakak. Kaya couples yang sering gue lihat. Atau .. kaya di film-film romantis yang ada di drama-drama gitu. Nggak ada wajah siapapun yang terlintas di benak gue.
Beberapa hari kemudian gue lupa dan nggak mikirin kejadian di bioskop kemarin-kemarin. Kehidupan gue kembali berjalan normal. So far sooo good …
Sampai suatu hari lamunan asal-asalan gue tentang nonton film di bioskop menjadi kenyataan. Teman gue, sebut saja X, ngajak gue nonton film Insidious 2. Tamat.

Hehehe
Jadi ceritanya berawal dari …. mana ya?
Nggak kaya ceritanya Niki sama Nata (tokoh utama di Refrain) yang berteman sejak kecil dan sama-sama terus dari kecil sampai sekolah. Gue sama dia berteman sejak kapan ya?
 Pokoknya gue baru kenal dia waktu gue SMA.  Kita nggak pernah satu kelas APALAGI satu sekolah.  Bahkan ngobrol  juga –hampir- nggak pernah.  Paling chatting di socmed. Itu pun JARANG. Banget.
Jangan tanya kenapa kita akhirnya bisa saling kenal karena gue juga lupa. *peace sign*
X ngajak gue nonton Insidious 2. Insidious. Gue familiar banget sama kata itu. Seinget gue, dulu gue pernah nonton film yang judulnya Insidious di tempat les bahasa Inggris. Itu film horror yang percaya atau nggak film itu bikin gue parno selama satu minggu lamanya.
X bilang, insidious 2 itu film kartun. Dan gue percaya aja -_-  Gue kira insidious 2 beda sama Insidious yang pernah gue tonton.  Setelah gue berkunjung ke google, ternyata yaa Insidious 2 itu kelanjutan dari Insidious. Waa parah gue kemana ajaa -_- . Hahahh.
Jujur gue termasuk orang yang nggak terlalu berani nonton film horror kecuali terpaksa. Contoh : waktu nonton Coming Soon bareng FDNR di ruang 201, nonton film Thailand yang judulnya gue lupa, terus nonton film yang judulnya gue lupa waktu di rumah Princess (baca: Ririn) . See, gue nggak pernah nonton film horror kecuali bareng anak FDNR (Fashion Design NonReguler) dan sama waktu di tempat les. Kali ini, gue bakal nonton  film horror, di bioskop,  sama X -aja. Sama sekali nggak pernah gue sangka sebelumnya.
Hari itu, hari Kamis. Jam lima sore waktu Bandung.  Sesuai perjanjian, kita ketemu di IP walaupun akhirnya bukan benar-benar di IP (IP: Istana Plaza , salah satu mall di Bandung). When I turned back I saw him, wearing red jacket. Awkward. That was bit awkward since we never chat directly before and I ride on his motorcycle. Such a drama.
The drama begin!
Hari itu, langit sudah berubah menjadi gelap. Aku bisa merasakan tetes air hujan yang jatuh dari langit membasahi pipiku. Hujan?  Gumamku.
Kau tahu? Hujan bisa membuat –hampir- segalanya menjadi romantis. Udah itu aja.
Kurang dari sepuluh menit akhirnya kita sampai di salah satu fashion mall di Bandung. Yap! BTC (Bandung Trade Center) :D BTC didominasi oleh toko-toko baju, aksesoris, tas, sepatu, especially for woman.  Tapi, tujuan kita ke sini tentu saja bukan untuk window shopping apalagi beli baju XD
Sesuai dengan tujuan awal, kita akan nonton Insidious 2.
“Takut nggak? Apa mau nonton yang lain?” Tanya X setelah kita masuk XXI dan berjalan menuju loket.
“Emang ada film yang lain gitu? nggak apa-apalah itu aja.” Jawabku sok kalemm.
Sebenarnya aku takut. Aku belum pernah nonton film horror di bioskop. Whoaaa! >,<
“Gwenchana, gwenchana” aku bicara pada diriku sendiri.
Sekarang aku menggenggam dua tiket Insidious 2 yang akan tayang kurang dari 45 menit dari sekarang (18:45).
Kita shalat magrib dulu di basement. Dari lantai atas ke lantai paling bawah terasa lama banget. (catatan ga penting: ini pertama kalinya aku naik lift sama seorang cowo). Agak awkward waktu habis shalat pas kita mau naik lift ke atas. Ketika kira-kira sampai di lantai dua atau satu, orang-orang pada keluar lift dan tinggal kita berdua –aja. I stand next to him without saying anything, just waiting the lift door open then walk out. So did him.
Tinggal beberapa menit menuju film, kita duduk di kursi yang ada di dekat theater 2. Sambil menunggu suara “Pintu theater 2 telah dibuka … bla bla bla”
Menunggu waktu, kita ngobrol apa aja yang bisa diobrolin sampai akhirnya dia bilang “Aku ke toilet dulu, ya.”
Mungkin di saat seperti ini anak perempuan yang lain akan berpikir sama seperti apa yang sedang aku pikirkan saat itu. “Is he really go to the toilet or buying something (read: popcorn or anything) for us?” HA > HA > HA
Guess what? He didn’t. XD
Here We go! INSIDIOUS 2. Dia duduk di sebelah kanan aku. Dan di sebelah kiri aku kosong.
“Di sebelah kosong ya?” Katanya.
“Hm.”
“Nanti ada yang ngisi loh”
“Apaan,” aku masih bisa soo kalem disaat seperti ini. itu hebat kalau kata aku. Haha.
Lampu bioskop mulai gelap. Tanda film dimulai. Selama film berlangsung aku nggak pernah ngelepasin tas aku. Aku terus pegang erat-erat kaya balonku ada lima. Sambil sesekali nutup mulut sama muka buat antisipasi kalau aku kaget. Nggak lucu kan kalau tiba-tiba aku teriak. Pokoknya aku harus bisa menonton Insidious 2 setenang dan setegar mungkin. Chaayo! :)
Rasa apa ini? Aku jadi teringat khayalanku tentang menonton film di bioskop. Dan malam ini, khayalanku menjadi kenyataan. Aku duduk di theater dan disampingku adalah seorang (laki-laki) dan sudah itu aja.
Dua jam kemudian film berakhir. Aku merasa berhasil! Berhasil bersikap tenang selama film berlangsung. Yeaaay! Cukhae!
Sama seperti ketika aku menonton film Refrain. Selalu ada pemandangan couple. Tapi kali ini aku nggak envy sama mereka XD. Nggak usah tanya kenapa.
Keluar dari bioskop. Aku merasakan lapar yang lumayan lapar -_-
“Kamu udah makan belum?” Tanyaku. Jujur ini bukan kode atau apa karena aku emang lapar T^T
“Belum sih. Mau makan? Di mana?”
“….” Aku paling speechless kalau ditanya kaya gitu.
“Emang kamu nggak laper?”
“Ng.. biasa aja sih.”
Bagus! Cuma aku doang yang laper. Akhirnya kita pulang. Wkwk. That’s okay anyway.
Dia nganterin aku pulang.
Sesampainya di rumah sekitar jam Sembilan kurang, aku langsung ambil piring dan nasi. Hahaha! Laper coyy XD
However, thanks! Thanks for made my wondering came true, accidentally.
kalau kalian pikir aku mulai suka atau jatuh cinta, aku nggak tau. Aku sendiri lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Jadi kalau kalian bertanya apakah aku sedang jatuh cinta, aku tidak tahu.
The End.

Dua Puluh Tahun

Tenang, kali ini kita tidak akan bertemu aku 20 tahun lalu. Haha. Dua puluh tahun adalah alasanku 'menolak' orang yang pertama kali ...