Monday, 19 June 2023

Dua Puluh Tahun

Tenang, kali ini kita tidak akan bertemu aku 20 tahun lalu. Haha.

Dua puluh tahun adalah alasanku 'menolak' orang yang pertama kali mengungkapkan perasaannya secara harfiah. Kalau zaman sekarang istilahnya literally. Mungkin kalau dia masih ingat.. dia akan menertawakannya. Aku pun. 😂

Suatu hari sepulang sekolah, seperti biasa aku mengeluarkan buku-buku yang ada di tas untuk diganti dengan buku pelajaran yang akan dibawa besok. 

'Srek'
Sebuah amplop berwarna merah dan putih muncul di antara buku-buku yang dikeluarkan. Aku membuka amplop itu dan membaca suratnya. Ini... surat cinta? Ya, dia menyatakan perasaannya lewat tulisannya. 

Aku gemetar memegang surat itu. Membacanya berulang kali lalu cepat-cepat memasukannya kembali ke tasku. Pikiranku campur aduk dan berdebar-debar.
"Bagaimana ini? Aku harus apa?"
Sebenarnya aku lebih ke takut. Takut dimarahi orang tuaku. wkwkwk. Entahlah, padahal orang tuaku nggak pernah bahas dan larang apapun soal suka-sukaan. Tapi aku tetap takut. Apalagi.. aku masih... SD.

Keesokan paginya, ketika tidak ada orang di kelas, aku diam-diam merobek surat itu menjadi kecil-kecil dan membuangnya ke tempat sampah. Maaf, bukan karena aku membencinya, sudahku bilang aku takut. 😂 Lalu aku menjalani hari seperti biasa. Aku melihatnya dan temannya senyum-senyum menggodanya sambil melihatku. Aku tetap diam seakan surat itu tidak pernah ada. 

Saat sedang asik main ayunan, temannya menghampiriku. Dia juga ada, sih, tapi berdiri agak jauh.
"Sa, udah baca belum?"
"Apa?"
"Aaah.. Pura-pura nggak tahu.. Surat itu loh.."
"He?" Kayaknya kalau lagi keadaan gini aku emang jadi auto bodoh, ya.
'Hah he hoh' mulu. wkwk.
"Jadi gimana jawabannya? Diterima nggak? Terima dong~" Kata temannya lagi. 

Ah! Sayang ingatanku hanya sampai sini. Aku lupa bagaimana setelah itu. Apakah aku lanjut main ayunan atau kabur atau langsung menolaknya? Aku juga lupa bagaimana aku menolaknya. Setelah itu aku masih tetap berteman seperti biasa. Waktu perpisahan, dia juga sempat memberikanku sebuah file (binder) yang lucu. Dia memberikan itu untuk kenang-kenangan, katanya. Arigato ne. 

Tahun berganti dan kebetulan aku satu sekolah lagi sama dia. Kita berteman seperti biasa sampai suatu hari dia menanyakan alasan aku menolaknya. Mungkin penasaran, ya?

"Aku nggak mau pacaran sampai umur aku 20 tahun." 

Ya, kalian boleh tertawa tapi itu alasanku. Setidaknya itu prinsipku, waktu SD. Hahahaha. Jadi meskipun aku suka seseorang, aku tetap tidak akan pacaran sampai umurku 20 tahun. Begitu. Aku nggak tahu kenapa harus 20 tahun? Karena aku masih kecil kali, ya? Entahlah. 

Tahun berganti lagi dan.. boom! Aku punya pacar! 😂 
Mungkin ini definisi makan omongan sendiri, ya. Malu juga sih, ternyata aku nggak bisa pegang omongan aku. Sampai waktu itu dia bilang, "Katanya nggak mau pacaran sampai 20 tahuuunn.." sambil tertawa.
Haish..  

Kalau memang nggak suka, tinggal bilang aja sih, Sa? Nggak usah so so-an pakai alasan mau pacaran kalau sudah umur 20 tahun. Mungkin itu yang ada di pikiran kalian setelah membaca cerita ini. Tapi percayalah, aku benar-benar niatnya mau begitu, tadinya. HEHE. ✌

Sunday, 18 June 2023

Mari Bertemu

Mari bertemu dengan diriku 16 tahun lalu.
Dia baru beranjak remaja, masih belum tahu banyak hal. Belum sadar kalau cukup banyak yang menyukainya. Beberapa ada yang mengungkapkan, ada juga yang menyukainya dalam diam. 
Hal itu tidak membuatnya merasa cantik, superior, atau punya banyak 'fans'. Malah seringnya dia jadi takut. Tapi.. terima kasih sudah menjadi bagian dari ceritanya. 

Mereka mengungkapkan perasaannya dengan cara yang berbeda. Ada yang lewat surat, temannya, SMS, atau sekedar memberikan hadiah.  

Friday, 16 June 2023

Tidak Akan Kenal

"Ketika kamu menyukai orang lain, kamu tidak akan kenal dirimu yang sebelumnya."  

Kata-kata itu pernah aku baca di subtitle film yang aku lupa film apa. Hehe. Kalau aku ingat, aku akan edit dan memberikan credit-nya, ok! 

Aku rasa kata-kata itu benar dalam konteks apapun. First love, first sight, move on, bahkan jika kita sudah punya pasangan sekalipun. Semuanya akan berubah saat kita mulai menyukai seseorang. 
Iya, kan? 

Setiap hari tersenyum karena bertemu atau sekedar mengingatnya. Hal biasa menjadi istimewa. Hati berdebar-debar, selalu ingin di dekatnya, dan semua terasa lebih indah.
Sebelumnya kamu tidak begitu, kan?
Jadi, sudah berapa kali kamu tidak mengenal dirimu yang sebelumnya?

Aku pernah bilang, aku menyesal tidak menulis banyak karena ternyata hal yang tidak ditulis akan terlupakan lebih cepat. Banyak hal yang aku hanya ingat kalau diingatkan atau ya kalau aku coba mengingatnya sambil bergumam, "That was.. me?" gitu. 

Kalau kalian stalker pembaca setia tulisanku dari 10 tahun lalu, pasti tahu bagaimana aku menjadi 'aku yang lain'. Kagum sama ini, suka sama itu, berharap sama ini, nge-halu sama itu. Sampai akhirnya menikah. Lalu melupakan blog ini cukup lama. Gomenasai ne.. 

Aku sengaja tidak menghapus tulisan-tulisan lama untuk aku baca-baca lagi kalau aku lagi ingin bertemu aku yang polos itu. Beberapa aku draft karena memang sudah waktunya. Hehe.
Kalau dibaca saat ini jadi cukup menghibur, loh.
Padahal dulu nulisnya galau setengah mampus. wkwk.
Kasihan :(

Ya, aku masih ingat beberapa moment itu karena aku menulisnya. Setidaknya, aku jadi punya cerita sedih sekaligus komedi (bagiku). 
Nggak tahu kalau bagi kalian pembaca setia blog ini gimana?
Komen di bawah, yaa! 

Aku masih kaku, nih.. ngetik-ngetik gini. 
Ngetik, baca, hapus lagi. Ngetik, baca, hapus lagi. Ngetik, baca, suami minta buatin kopi. Ngetik, baca, anak manggil. wkwk. #SiEtaCurhat
Sudah beda, memang.

Tapi ya, menurut ke-sotoy-anku, sebenarnya kita tidak sepenuhnya berubah. Kita ya tetap kita, yang berubah itu hanya fokusnya. Apalagi kalau ada 'seseorang' yang mengalihkan. Entah karena dia tiba-tiba datang seperti Maudy Ayunda atau karena kita memilihnya. 

Sebenarnya bukan masalah kalau masih suka-sukaan, mencari jodoh(?), atau mau move on gitu. Malah sepertinya memang harus menjadi kita 'yang lain' untuk bisa lupa menerima dan tetap melangkah.

To be noted, akan jadi masalah jika kamu sudah punya pasangan lalu menyukai orang lain. Karena sekali kamu suka orang lain, kamu ga akan kenal sama kamu yang sebelumnya. You know what I mean? 
Kamu menjadi orang baru yang mungkin akan lupa kalau kamu sudah menyayangi seseorang. Itu.. menyeramkan.
Mungkin aku akan bahas itu di tulisan yang lain, kapan-kapan? Jaa!

Monday, 24 October 2022

Where Have I been?

Biar ada nadanya, pas mulai baca ini kalau bisa sambil dengerin lagu PSY-That That. ok!

Hi! 
/Long time no 'see', huh?
oraeganmaniji, huh? 😎/

Yak, cukup. wkwk 
Kalau dilihat dari terakhir aku nulis di sini.. Udah 5 tahun, ya?
Lima tahun aku nggak nulis2 random lagi.…
Waktu yang cukup untuk come back setelah hiatus. wkwk mulai, so so idol :)

Selama 5 tahun ini ada banyaaaak banget hal yang sudah terjadi.
Banyak yang berubah, banyak juga yang masih tetap sama. 
Soo, where have I been?
Here I am, I'm living my life. Sibuk menjalankan peran-peran baru. 
Aku yakin kalian pun begitu, bukan?

Sebenarnya aku ga benar-benar menghilang. Kadang kalau aku mau 'ketemu' sama aku yang dulu, aku suka ketik nama blog-ku di browser dan baca lagi semua postinganku.
Ya, selama ini aku jadi silent reader di blog sendiri. Ahahaha
Nggak jarang aku menyesal kenapa waktu itu aku berhenti menulis? 
Kenapa aku ga menulis yang banyak? 

Ada beberapa draft yang belum aku post karena draft-nya gak ada satu pun yang jelas apalagi selesai :) 

Ya…intinya entah sejak kapan… kalau ada waktu luang, aku memilih untuk leyeh2, tidur, tidur dan tidur. Bukannya nulis.
Jadi, mari kita tidur.  Zzzzz 

Wednesday, 10 May 2017

Dan Bandung Bagiku

"Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" - Pidi Baiq

Memang benar, Bandung lebih dari itu. 
Karena Bandung menjadi tempat di mana aku bertemu dengan dia yang saat ini berada ratusan kilometer jauhnya. Jika Bandung tidak pernah ada, mungkin aku juga nggak akan pernah bertemu dengannya. Jadi... 
Terima kasih, Bandung. :)

Bagiku Bandung memang punya masalah geografis.
Kenapa butuh waktu lebih dari 3 jam untuk sampai ke Bandung? Kenapa Bandung ada di Jawa Barat? Dan kenapa-kenapa lain yang intinya kenapa dia jauh dari Bandung?  
Rasanya sudah lebih dari cukup aku merasakan rindu, perjuangan, dan menunggu.
Tapi aku nggak akan menyerah!
Sering aku menolak untuk kembali ke Bandung. Menahan kakiku untuk tidak melangkah pulang karena aku masih ingin bersamanya.

Aku takut akan merindukan Kota Kembang ini ketika aku benar-benar nggak akan kembali lagi ke Bandung dalam waktu yang lama. Karena rasa takut itu mungkin cepat atau lambat akan menjadi kenyataan. Jika iya, aku pasti akan sangat merindukan kota ini. Kota yang selama ini menjadi bagian dari cerita cinta dan perjuanganku.
Sudah banyak tempat di Bandung yang menjadi cerita bersambung setiap minggunya. 
Tidak selalu cerita bahagia, tapi semuanya berharga. 

Monday, 24 April 2017

Selamat Hari Kartini

Do-re-mi-fa-sol-mi-do        laaa-do-si-la-sol ..
Faa-la-sol-fa-mi-re .. re-fa-mi-re-do

Bisa tebak dong itu lagu apa?
Selamat Hari Kartini untuk semua perempuan Indonesia!

Pernah kepikiran nggak, kenapa R.A Kartini lebih dikenal dari sekian banyak pahlawan perempuan Indonesia? Karena Kartini menulis. 
Kumpulan tulisan (surat) yang ditulis oleh Kartini kemudian dibuat buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Sampai sekarang aku belum pernah baca buku itu. Jadi pengen baca. 

Setiap orang memperingati hari ini dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang update status ngucapin 'Selamat Hari Kartini', ada yang upload foto ala Kartini, janjian pake kebaya ke kantor, ada juga yang bercerita tentang sosok Kartini di hidup mereka.  #KartiniMilenial sempat jadi trending topik di twitter. Isinya ya tentang wanita-wanita hebat yang berkarya, menginspirasi di zaman milenial ini. Bahkan mungkin kamu juga termasuk salah satu #KartiniMilenial.  

Awal aku tahu Kartini dari lagu Ibu Kita Kartini yang suka dinyanyikan sama tim paduan suara. Bahkan lagu itu menjadi lagu andalanku setiap aku main piano dan pianika.

Do-re-mi-fa-sol-mi-do        laaa-do-si-la-sol ..
Faa-la-sol-fa-mi-re .. re-fa-mi-re-do

Sampai akhirnya aku dapat pelajaran sejarah yang menuliskan bahwa Kartini adalah pahlawan emansipasi wanita. Beliau berusaha agar perempuan mendapat hak yang sama dengan laki-laki. Perjuangannya nggak sia-sia. Kita (perempuan) saat ini sudah mendapat hak dan kebebasan untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Dengan catatan, kita nggak lupa dengan kodrat kita sebagai perempuan. 

Sekarang perempuan bisa ikut ekskul yang biasanya kebanyakan anggotanya laki-laki, perempuan bisa kerja, jadi pilot, jadi direktur, bisa angkat galon, sampai jadi super hero.
Ya.. pokoknya sekarang perempuan bisa melakukan hal-hal yang dulu kayaknya cuma laki-laki aja yang bisa boleh. 
Bagaimanapun, perempuan tetap perempuan. Ada batasan dan hal-hal yang tetap harus dijaga karena kita perempuan. Ucapan misalnya. Menurutku, emansipasi wanita bukan alasan seorang wanita bisa melakukan semua yang diinginkan tanpa peduli dengan norma yang ada. Atau lebih parahnya sampai meremehkan atau sampai merasa nggak butuh bantuan laki-laki karena kita merasa bisa melakukan SEMUANYA. No.

Selain ngucapin selamat, aku juga mau ngucapin terima kasih buat laki-laki yang bisa memperlakukan perempuan dengan baik. Terima kasih buat laki-laki yang memilih untuk memberikan support dan mendukung perempuan untuk maju dan berkembang.
Karena yang aku tahu, nggak semua laki-laki bisa menghargai perempuan. Banyak yang melecehkan, kasar, melukai, bahkan sampai membunuh perempuan.
Semoga kejadian yang seperti itu nggak ada lagi. Ya, jadi jangan cuma ngucapin "Selamat Hari Kartini." tapi ke perempuan kasar. Gitu.

In Brief..
Happy Kartini's Day!

and for all Men who know how to treat women well, I thank you. 

Thursday, 23 March 2017

Tell Me I'm a Wreck


Tell Me I'm A Wreck - Every Avenue


I never hear this song before. I even don't know that song does exist, at all.
And tonight is the first time I hear it. Some people might wonder like, "then how could you find that song?"
Because I miss him.
I find this song in his 'last playing' on spotify. 2 hours ago.
Our favorite music is extremely different. I don't really like his playlist, so does he.
But when I listen to his playlist, it feels like I find a part of him.
Hey, this song is not bad. Then I just listen to his playlist again and again.
I miss him that much.

Have you ever feel like you just meet someone by listen to their favorite song?

Tuesday, 28 February 2017

Halo, 2017

Rasanya memang sudah terlambat untuk menyapanya lewat kata-kata. read: 2017.
Tahun ini aku nggak meluangkan waktu buat bikin resolusi atau hal-hal yang menyambut tahun baru. Bikin sambutan di blog ini aja nggak. Aku bahkan nggak melihat kembang api. 
Target dan resolusi pasti ada. Kali ini aku membiarkan 2017 memberikan kejutan.

Bukan karena aku tidak punya rencana. Aku punya banyak sekali rencana dan impian yang aku harap bisa tercapai tahun ini. Tapi mungkin tidak akan aku sebutkan satu per satu di sini.
Katanya kalau mau mimpimu jadi kenyataan, kamu harus menuliskannya. Meskipun nggak aku tulis di sini...
Aku mendoakan mimpi-mimpi yang tidak belum aku tulis bisa jadi kenyataan

Thursday, 19 January 2017

Saachan in Stardew Valley 1



Saachan in Stardew Valley adalah cerita tentang kehidupan Saachan di Lembah Stardew. Saachan mendapat warisan dari sang kakek sebuah rumah dengan halaman yang saaaaangat luas.
Mendapat warisan bukan berarti kita jadi kaya mendadak dan hidup bahagia selamanya.
Rumah Saachan tahun pertama
Tetap saja warisan itu harus bisa kita manfaatkan sebaik mungkin untuk melanjutkan hidup dan rencana jangka panjang. 
Awalnya Stardew Valley adalah tempat yang asing. Saachan nggak kenal siapa-siapa. Jadi, di hari-hari pertama tinggal, Saachan bersosialisasi dulu sama penduduk Stardew Valley yang lain. Yaa, sekalian nyari kecengan siapa tau ada yang ganteng gitu kannn. #tetep


Saachan mulai berkebun, bersihin halaman yang banyak banget pohon liar yang bikin berantakan. Jadi hampir setiap hari Saachan nebang pohon, menata halaman. Dan belanja bibit tanaman ke toko Pierre. Toko Pierre buka setiap hari dari jam 9 pagi sampai 5 sore kecuali hari Rabu. Toko Pierre menjual macam-macam bibit tanaman yang bisa aku tanam. Hasil panen bisa aku jual dan aku dapat uang deh. 

Saachan dan Chizu cat

Stardew Valley punya 4 musim. Dan tanaman yang bisa ditanam juga sesuai dengan musimnya. Aku lupa tapi suatu hari ada yang datang ke rumah dan ngasih kucing buat aku adopsi. Lucu bangettt. Nama kucingku Chizu. Dia suka bermalas-malasan, tidur, jalan-jalan, malas-malasan lagi. Gitu aja hidupnya.

Setiap hari aku bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengembangkan usahaku. Aku bisa dapetin uang dari bantuin penduduk sekitar (menyelesaikan quest). Quest-nya menarik. Sejauh ini quest yang paling menarik quest dari Mayor Lewis. Kalau di kita mungkin istilahnya tuh Ketua RT. Beliau minta tolong aku buat cariin celana dia. Itu perjuangan sih nyarinya dan ngakakn aja gitu.wkwk.

Selain itu aku juga selalu menanam dan memancing, sampai akhirnya aku bisa punya peternakan setelah punya uang dan bahan baku yang cukup buat membangun kandang ayam. Punya peternakan sedikit merepotkan. Makanannya setiap hari pasti habis. Kalau nggak pake pagar, ayam-ayam bisa kabur. Nakal banget. Sampai pernah karena susah banget buat bikin si ayam balik lagi ke kandang, akhirnya aku jual ayamnya :(
Tapi aku senang karena ayam-ayamku sekarang sudah ada 4. Wihii.


Saachan dan ayam 
Renovasi rumah jadi lebih luas
Stardew Valley adalah desa yang menyenangkan. Ada banyak event setiap bulan. Dan acaranya seru-seru. Di sana kita bisa ngobrol-ngobrol, jalan-jalan, main, belanja, lomba, banyak deh! :D
Stardew Valley Fair
Kehidupan Saachan gitu-gitu aja sampai dia ketemu sama Sebastian waktu musim dingin. Sebastian ini tipe-tipe cowo yang songong sih. Pernah suatu event waktu itu disuruh cari partner buat dansa. Saachan ngajak dia dan ditolak mentah-mentah. hahahaha. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha buat bisa berteman sama dia. Ya.. berteman dulu lah yaaa... wkwk


Saachan first sight

Menurut kalian gimana? 

Friday, 2 December 2016

Find Me on Path

Inget nggak? Waktu awal-awal Path jadi pendatang? Banyak banget update-an (entah itu di facebook, twitter) yang isinya "find me on path". Seketika Path menjadi dunia  baru di kalangan pengguna sosial media.

Katanya lebih seru, lebih private, bisa tahu kalau orang lihat profil kita. Katanya begitu. Katanya.
Eh, ada yang setuju. Hehe

Tweet itu mungkin adalah ungkapan rasa kesalku karena muncul "Find me on path" di mana-mana. Geez...
Aku termasuk yang anti dan nggak niat bikin akun path karena aku pikir "Apanya yang private kalau orang-orang bisa tahu aku lagi di mana, lagi sama siapa?"
I
Just
don't
get
it. 
Where is the private side??

Mungkin karena aku nggak pake gadget yang mendukung aplikasi itu. Secara kan Path cuma bisa diakses di gadget yang spec-nya agak tinggi. Sedangkan gadget yang aku pake adalah Blackberry. So yeah. Hehe.
Suatu hari aku penasaran dan AKHIRNYA coba bikin akun Path pake android adik sepupu aku.
.
.
.
*scroll scroll*
Kesan pertama aku saat masuk ke dunia Path adalah aku seperti menemukan hal yang selama ini 'hilang'. (read: update-an teman-teman di facebook dan twitter). 
Sekarang aku mengerti maksud dari "Find Me on Path."
I find you guys. 

Dan sepertinya basa-basi atau pertanyaan "apa kabar?" itu nggak terlalu diperlukan lagi, deh. 
Ya. 
Aku rasa. 
Begitu.
Toh tanpa kita tanya pun kita bisa tahu dia lagi di mana, sama siapa, nonton apa, lagu apa yang dia dengar. Sedetail itu.

"Eh, si A gimana kabarnya, ya? Udah lama nggak ketemu."
"Ooh, dia sekarang gemuk loh, jalan-jalan terus. Minggu lalu kalau nggak salah dia baru pulang dari Bali."
"Waaah, kapan lo ketemu dia?"
"Nggak ketemu, sih. Cuma lihat di Path aja."

Pernah ngalamin percakapan kaya gitu atau semacamnya?
That's it! Seolah  hanya dengan lihat update-an seseorang kita sudah bisa menyimpulkan sendiri kabar orang itu. Nggak usah nanya lagi.

Dan aku juga termasuk yang suka update, berbagi cerita meskipun nggak ada yang nanya dan mau tahu. Tapi tetap aku share. Mau nggak mau orang yang berteman sama aku di sosial media pasti baca dan lihat itu. Begitu juga sebaliknya. Bisa nggak sengaja pas scroll timeline atau emang sengaja buka profil aku. 

Find me on Path. 
Mungkin juga bisa mengatasi rasa rindu dengan teman atau siapapun yang susah buat ketemu jadi "Setidaknya aku ketemu kamu, di Path." 
Kadang ada rasa sakit hati atau sedih waktu kita tahu 'cerita penting' tapi dari orang lain atau lebih parahnya lagi cuma dari update-an. 
Pikiran sama gumaman kaya gini pasti bakal ada:
"Oh, dia ke sana."
"Oh, jadi dia nonton sama si X."
"Dia ketemu sama si Z kok ga ngabarin, ya?"

Jawabannya nggak akan jauh dari:

"Emang kamu nggak lihat update aku?" atau "Emang kamu nggak lihat status aku?"  

Yap!
Aku sendiri sadar aku jadi...hmm.. istilahnya tuh ketergantungan sama sosial media. Kaya nggak mungkin nggak buka sosial media dalam sehari. Nggak mungkin. Tapi aku berusaha buat kurang-kurangin itu. 

Sampai suatu hari keadaan maksa aku buat uninstall beberapa aplikasi. Aku pilih uninstall Path karena aku merasa banyak waktu yang kebuang cuma buat scroll, bla-bla-bla. Baca dan lihat update-an orang terus udah. Ngapain banget, kan, kalau dipikir-pikir?

Baru beberapa hari aku uninstall aplikasi itu dan mungkin bakal masih ada yang mencoba buat cari aku di Path(?) 
"Si Sasa ke mana, ya? Kok nggak update2." MISALNYA. Haha.

Semenjak uninstall Path aku merasa hidup aku lebih sedikit 'ringan' karena aku jadi nggak banyak baca dan tahu update-an kehidupan orang lain. Ya. 

Pada dasarnya Path itu kan buat berbagi kehidupan aktivitas sehari-hari kan. Dan waktu Path ini masih ada di handphone, hampir setiap hari aku pasti buka Path dan menghabiskan waktu sekitar beberapa menit buat scroll, scroll, love moment, scroll, padahal nggak ada notif atau apa yang penting gitu. Jadi kaya #ngapainSihSa?
Bukan karena aku nggak peduli sama teman-teman aku di path atau apa tapi akan lebih baik kalau waktu buat scroll-scroll itu aku ganti sama aktivitas yang lebih bermanfaat misalnya scroll timeline twitter, instagram.
#LAH #BedanyaApa(?)

No, seriously twitter sama instagram lebih bermanfaat karena ada ilmu pengetahuannya, berita, dan banyak hal yang nggak ada di Path. Nggak menutup kemungkinan suatu hari nanti aku install aplikasi ini lagi. Entah itu karena mau update, mau tahu kabar teman-teman, lihat notifikasi, atau sekedar ingin bertemu kamu di Path.  

Saturday, 12 November 2016

Sakit

Ini mimpi. Ya, kan?

Waktu sakit gigi, aku pikir kayaknya lebih baik sakit hati. Dan saat sakit hati datang, aku rasa lebih baik sakit gigi aja. Ya, begitulah aku manusia. Sakit apapun sebenarnya nggak bisa dibandingkan dengan sakit yang menurut kita lebih baik. Nggak ada sakit yang 'mendingan'. Sakit apapun itu rasanya pasti sakit.

Aku bukan lagi anak kecil yang nggak harus berpikir dua kali untuk membiarkan orang-orang di sekitarnya tahu kalau dia sedang sakit atau sedih, bisa menangis di mana saja, atau mengadu pada  ibu dan ayah. 
Aku juga bukan lagi anak alay yang dengan mudah membiarkan orang lain tahu kalau dia lagi sedih. ....... is listening to ..... [lagu yang mendukung suasana hati], update status sedih yang kalau ditanya orang bilangnya "nggak apa-apa." atau bikin video nangis-nangis. Meskipun kenyataannya aku nangis, misalnya.  Ya, aku nangis. Bohong kalau aku bilang aku biasa-biasa saja saat sakit.


Apa kita masih memandang langit yang sama?

Kalau mau aku bisa seharian mengurung diri di kamar, menangis sampai sembab, nggak makan. Tapi... buat apa? Hari ini entah sudah berapa kali aku tidur dan saat terbangun aku bertanya pada diri sendiri "Ini mimpi. Ya, kan?"
Bagaimanapun, sesedih apapun, aku harus tetap tersenyum. Senyum yang kalau diperhatikan memang bukan senyum yang tulus. Hampa. Senyum yang terkesan  memang dipaksakan. Tapi tolong hargai sedikit usahaku untuk itu. Aku tidak sedang pura-pura bahagia. Hanya berusaha untuk tetap kuat saat aku sakit. Dan kau tahu rasanya? 
Sakit.



Thursday, 27 October 2016

Harga Teman


Alih-alih ngerjain tugas atau melanjutkan nulis Bab 1 KKN, aku malah mau cerita.
Sebentaaar aja.
Jadi, sekarang aku jualan kaos polos dengan kualitas premium. (Penasaran kaosnya kaya apa? Nanti ya). Barang dagangan aku ini aku tawarkan ke hampir semua teman dan saudara aku dan orang-orang asing yang nggak aku kenal. Nggak cuma itu, aku juga promosi jualan aku di semua sosial media yang aku punya.
Ya, namanya juga usaha. Kenapa aku bold? Biar yang baca ngeh kalau itu usaha.

Aku senang kalau ada orang yang tertarik buat nanya-nanya barang yang aku jual apalagi kalau sampai beli. Wiihii.
Singkat cerita, suatu malam waktu aku lagi ngampus ada line dari seorang (sebut saja) teman yang nanya harga. Setelah aku kasih tahu, dia mulai nawar dan bersikeras untuk mendapat harga seperti yang dia mau. Sampai akhirnya keluarlah kalimat, "Yaudah sih, Sa, harga teman."
((Yaudah sih))
((Harga teman))
((Yaudah sih))
((Harga teman))
and I was like.. huh?

Bukan nggak mau 'bantu' teman dengan mengiyakan harga tawarannya. Hanya saja... Lu ga kira-kira apa ya? Itu harga udah murah (banget) dan lu masih minta "harga teman"?

Menurut kamus aku, harga teman adalah harga spesial yang diberikan kepada penjual untuk pembeli kalau pembeli itu adalah temannya(?)

Aku jualan kaos bukan buat impress teman-teman.
So please stop asking for "harga teman".
Lagi pula aku juga udah bilang kalau beli lebih dari satu dapat harga spesial. Tolonglah hargai usaha orang. Jangan mentang-mentang 'teman' jadi boleh maksa buat beli barang dengan harga yang dimau. memang "harga teman" itu ya ada aja. Meskipun tanpa kalian tahu si pedagang bisa nggak dapet untung atau bahkan nombokin demi membahagiakan kalian.

Tapi buat kejadian malam ini, aku benar-benar kesal bukan main.
Lu bikin aja toko sendiri atau beli aja ke tempat lain kalau emang menurut lu harga kaos yang aku jual itu mahal atau apalah apalah.
Tapi satu hal yang harus diinget, nawar boleh tapi yang sopan dan jangan maksa.


Dalam teori ilmu ekonomi sekalipun nggak ada yang namanya harga teman. Adanya harga jual.
Sekian.
Terima kasih.

Wednesday, 12 October 2016

Pengalaman Bikin Paspor

Singapore adalah negara kedua yang aku kunjungi setelah Indonesia. wkwk. #SerahLuSa
April 2016 ini banyak banget hal pertama yang aku lakukan seperti pertama kali naik pesawat, pertama kali lihat awan dekat banget, pertama kali naik MRT, pertama kali naik skytrain, pertama kali pake vending machine, pertama kali lihat banyak orang ngomong bahasa asing, pertama kali nggak bisa tidur waktu tahu besok mau ke Singapore, intinya itu adalah pertama kali aku ke luar negeri. 
Senang? Banget.
Ada cita-cita dan khayalan aku yang jadi kenyataan: naik pesawat sama orang yang aku sayang. 
Naik pesawat adalah cita-cita aku dari kecil dan bisa satu pesawat sama orang yang aku sayang adalah khayalan aku dari beberapa tahun yang lalu. It was like "If I have a boyfriend.." wondering.
Dan semuanya terwujud hari itu. Rasa syukur nggak berhenti aku ucap dari sejak awal aku tahu mimpi aku bakal jadi kenyataan. 


Waktu tahu aku harus stay di sana selama kurang lebih 6 hari, meskipun nggak melarang, orang tua aku sepertinya khawatir banget. Terus aku bilang dengan santainya kalau aku bakal baik-baik aja ya pokoknya tenang ajalah.Santai aja.
((Santai aja))
((Santai aja))
Rasa khawatir mereka berkurang setelah akhirnya kak Aldi, pacar aku, mau nganterin aku. Arigatou!
Asalnya kak Aldi mau nemenin sampai aku selesai acara, tapi karena kak Aldi harus kerja jadi dia bakal pulang duluan. :(

Nah, kali ini aku mau berbagi tips pengalaman aku dari mulai persiapan dan bagaimana cara bertahan hidup di sana. Sedekat apapun jaraknya dengan Indonesia, Singapore tetap saja negara orang. Punya kebiasaan dan aturan yang beda dari Indonesia. #catet
Karena kayaknya bakal panjang banget, kali ini aku bakal berbagi pegalaman aku sebelum berangkat. 

#1. Paspor

Hal pertama dan paling utama yang harus disiapkan sebelum berangkat ke luar negeri. Tanpa buku kecil yang mirip buku nikah ini, kamu nggak akan bisa menginjak negara lain. Kecuali kalau kamu mau jadi turis ilegal(?)

Siapkan dokumen persyaratan untuk membuat paspor seperti Akte kelahiran, Kartu Keluarga, KTP, Materai. Apa lagi, ya? Kok aku lupa. 
Ada 2 cara bikin paspor yaitu dengan jalur online atau jalur manual.
Kalau online, 
kamu isi data di website-nya, habis itu nanti ditentuin tanggal kamu bisa datang ke kantor imigrasi pilihan kamu. Awas! jangan sampai kamu typo. Beda satu huruf dari nama yang ada di KTP bisa ribet urusannya.  Sebelumnya kamu bakal disuruh pilih mau bikin paspor biasa apa paspor elektronik. Kalau kamu punya budget lebih sekitar 600k-an, mending bikin paspor elektrik deh.
Wait. Kok jadi elektrik? emangnya pulsa? -___- #skip

Jadi kalau kamu mau ke Jepang dan negara-negara yang harus pake visa, nggak perlu bikin visa lagi. 
Kalau yang manual, siapin aja budget 400k. Nggak akan lebih dari segitu kok, masih ada kembaliannya. Hehe. Terus nanti ada pilihan lagi mau bikin paspor yang berapa halaman. Pilih yang halamannya paling banyak aja, 34 kalau nggak salah. Kalau yang cuma 24 halaman katanya itu buat mereka yang mau kerja di luar negeri. Dari yang aku baca-baca sih gitu. 
Setelah isi data, tinggal lakukan pembayaran di Bank yang dituju. Habis itu kamu nanti dapat semacam kode buat konfirmasi di website. Print dokumen-dokumen yang perlu.

Satu hal kalau mau bikin paspor lewat jalur online, jangan mepet-mepet ke waktu kamu mau berangkat ya. Karena jarak kamu isi data ke tanggal kamu bisa dateng ke kantor imigrasi itu sekitar 1 bulan. Jadi misalnya kamu isi data hari ini, kemungkinan kamu dijadwalin datengnya tuh bulan depan. Gitu.   

Sedangkan kalau jalur manual kamu ya isi datanya manual juga. Kamu bebas mau datang kapan aja. TAPI harus siap dengan antrian yang super panjang. Siang sedikit aja bisa-bisa cuma wasting time dan harus balik lagi besok saking panjang dan lamanya antrian. 

Baik jalur online atau manual, saat datang ke kantor imigrasi, kamu harus bawa kopian persyaratan dan berkas asli (buat jaga-jaga) dan simpan dalam map terpisah. 
Antrian jalur online dan manual juga dipisah. Tentu saja, jalur online antriannya lebih sedikit dan lebih cepat. Tinggal pilih. Aku saranin datangnya  pagi-pagi banget deh biar nggak buang-buang waktu. Jangan pake baju warna putih ya karena kita bakal difoto buat paspor langsung.

Kalau kamu beruntung, petugasnya bakal bolehin kamu ulang fotonya kalau merasa kurang pas. Tapi kalau kebagian petugasnya yang jutek, ga peduli itu ekspresi kamu lagi beler atau gimana, udah ga akan diulang lagi. Jadi, pas difoto jangan lupa siapkan ekspresi terbaikmu. Hehe.

Setelah itu, sekitar 3 hari kerja kamu harus balik lagi buat ambil paspor kamu. #asik
2 hari kerja juga biasanya udah jadi, sih. Di sini kita antri lagi nih. Makanya datangnya pagi-pagi. 

Dari pengalaman aku bikin paspor, hal-hal yang harus disiapkan dan diperhatikan adalah

> Siapkan uang. 
Uang buat bayar paspor, ongkos ke kantor imigrasi, dan logistik buat kita sendiri. Hehe.
> Teliti isi data. 
Kalau perlu baca ulang dan cek satu-satu ejaannya. Mulai dari nama, alamat, dan semuanya.
SEMUANYA!
> Siapkan berkas asli dan fotokopinya lengkap. 
Untuk fotokopi KTP, siapin aja fotokopi bolak-balik dan fotokopi yang bagian depan sama belakangnya ada di muka kertas yang sama karena nggak ada keterangan jelas buat format fotokopi KTP. 
Waktu aku sih, jadi dalam satu muka kertas itu bagian depan sama bagian belakang gitu jadi ga bolak-balik. Tapi karena aku cuma punya kopian yang bolak-balik, akhirnya si petugas minta 2 rangkap terus ditempel di satu kertas hvs gitu.
> Bawa map dari rumah.
 Biar ga ribet aja sih pas di kantor imigrasi. Umumnya mapnya warna hijau. Tapi nanti juga kita bakal dikasih map gitu tapi bawa aja deh. #GimanaSih wkwk.
> Bawa materai dan lem.
Ini juga biar nggak ribet pas di lokasi. Masalahnya waktu. Bawa lem juga ya, kamu mau nempel materai pake apa kalau nggak ada lem?
Bisa sih pake air liur minum. Terserah deh.
> Simpan paspor baik-baik. 
Jangan ilang atau kamu nggak bisa pulang.

Gimana? Ribet-ribet simple kan?
Sebenarnya punya paspor itu bisa jadi motivasi loh. Meskipun misalnya kita belum ada rencana buat ke luar negeri misalnya, bikin aja dulu. Kalau udah punya paspor kamu pasti bakal mikir, "sayang nih kalau nggak dipake. Ke mana, ya?"
Akhirnya? Kamu jadi semangat kerja dan berusaha buat bisa gunain paspor itu. Iya kan?
Terus nanti kalau udah ke luar negeri, motivasinya bakal beda lagi waktu lihat paspor.
"Wah, masih banyak halaman yang belum dicap, nih. Kemana lagi, ya?" :D
Hayo, mau ke manaaa?

Ice Skating

Skate with me! Be my arm to hold on to and even fall on.

Seperti anak yang baru bisa berjalan. Aku mengencangkan tali sepatuku dan mencoba berdiri. Ini pertama kalinya aku memakai sepatu dengan 'pisau' di bawahnya.
"Whoaa.." refleks aku memegang lengan laki-laki yang dari tadi sudah berdiri di dekatku.
"Bodoh."  katanya. 
"A..apa!?"
"Udah ayo cepetan."
Sulit sekali berdiri dengan sepatu model begini. Agak berat pada awalnya. Tapi akhirnya aku bisa berdiri dan berjalan menuju ice ring atas bantuan dia yang menemaniku membuat mimpi ini jadi kenyataan. 
Sebenarnya mimpi aku adalah bermain salju. Tapi berhubung di Inonesia nggak ada salju, (ada sih tapi jauh di puncak gunung Wijaya) jadi aku pikir main skating sepertinya ide yang bagus buat simulasi.
Dinginnnn!
"Dingin banget yaampun." Aku menggosok kedua tangan dan meniupnya. Ini ampuh untuk menghangatkan tanganku yang mudah ikut-ikutan dingin. 
"Payah. Gimana kalau ke Jepang, di sini aja udah kedinginan."
Huh. Dia itu.
Baiklah aku akan tunjukan kalau aku kuat dan nggak kedinginan! Tapi gimana dong ini dingin bangett >.<
Lalu sekarang gimana? Aku belum bisa berdiri tanpa memegang handle besi di sepanjang sisi ice ring ini. Aku takut jatuh.

Kecuali kalau jatuh di ice ring rasanya sama kaya lagi jatuh cinta ya nggak apa-apa.
"Kamu mau sampai kapan kaya gitu terus? Belajar ke tengah dong, ayo!" Katanya setelah sekitar setengah jam aku hanya berjalan di pinggir-pinggir ice ring. Aku heran, kenapa dia bisa begitu mudahnya berdiri tanpa pegangan?
Pelan-pelan aku melepas genggamanku dari pegangan besi dan memegang tangannya.
"Hwaaaa!" Aku berusaha menyeimbangkan tubuhku. Ini susah banget, asli.
"Jangan manja! Siapa yang semangat ngajak main skating? Sekarang udah ada di ice ring malah ga berani ke tengah." Dengan nada setengah marah dia melepaskan genggamanku.
"Iya tapi kan..."
"Udahlah, pulang aja kalau gitu ya. Buang-buang waktu banget." Katanya lagi.
"Jangan!"
Jahat!
Aku nggak mau pulang. Aku belum bisa. Aku mau main!
Setelah memberanikan diri, aku bisa berdiri tanpa pegangan dan sedikit-sedikit jalan ke tengah.
"Ahahaha. Bisa! Bisa aku bisaaa!" Aku kegirangan. "Daaaah!" Saking girangnya aku main meluncur ke mana pun aku mau.
Saat aku mulai merasa seperti princess Elsa, entah kenapa aku kehilangan keseimbangan dan kepeleset. Mungkin karena aku terlalu senang. Memang segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Termasuk kalau kita terlalu senang. Aku mencoba berdiri. Tapi susah juga. Daripada malu karena susah berdiri, aku berlaga benerin tali sepatu. Duh gimana nih, masa harus minta tolong mas-masnya?
Dia yang daritadi cuma mengawasi aku dari jauh akhirnya datang, tersenyum. Tentu saja bantu aku berdiri.
"Tuh kan bisa. Mana ada yang sakit nggak?"
Aku menggeleng. "Eh, balap yuk sampai sana!"
"Ayo."
"Yeeee!" Aku meluncur duluan. Sekarang aku bisa meluncur dengan gaya.
"Hati-hati!" 

Tuesday, 11 October 2016

Rindu (lagi)

Dia nggak suka fairy tale. Dia nggak begitu tertarik dengan hal-hal yang berbau dongeng, kisah klasik putri dan pangeran, apalagi DRAMA. Satu lagi, dia nggak begitu suka makanan manis.
Dan dia (sebutlah) jatuh cinta pada perempuan yang menyukai itu semua.
***
Aku nggak suka film action, science fiction dan film mikir lainnya. Aku juga nggak begitu suka acara WWE Smack down dan hal-hal yang berbau kekerasan meskipun itu hanya sebuah film yang intinya ga ada yang beneran.
Dan aku merindukan laki-laki yang menyukai itu semua. 


Bahkan saat menulis ini aku sedang merindukannya. Andai boleh kuucap rindu setiap hari, mungkin aku akan melakukannya. Nggak ada yang larang juga. Aku bebas bilang rindu kapan saja. Sebenarnya tanpa aku bilang pun dia pasti tahu. Tapi kadang aku nggak peduli  dan tetap mengirim pesan singkat 'Aku kangen'.
Dua kata yang nggak akan mengubah apa-apa selain rasa ingin bertemu yang semakin kuat. Bodo amat. Pokoknya aku kangen.

Mungkin kalian (bahkan dia sekalipun) nggak tahu kalau aku pernah nangis hanya karena aku kangen sama dia. Dan sekarang kalian tahu.
Pernah heran kenapa aku bisa selalu kangen sama dia? Aku sendiri nggak tahu. Perasaan ini nggak berubah dan selalu ada setiap aku atau dia harus pulang. Sampai sekarang. Aku percaya, akan ada saatnya aku bisa ketemu dia setiap hari. Akan ada saatnya aku bisa dengar suara dan ceritanya setiap hari.

Aku bukan tipe orang yang suka mengungkapkan isi hati lewat status. Sekali-kali mungkin iya. Tapi kalau urusan perasaan, aku selalu berusaha menahannya. Menurutku orang lain nggak perlu tahu. Kalaupun mereka tahu, lalu apa? 

Dan sekarang aku membiarkan siapa saja yang membaca tulisan ini tahu bahwa aku merindukannya.

Rindu

 

Bukan aku membenci hujan. Hanya saja aku merindukan matahari.
Aku rindu melihat kucing guling-guling di rumput bermandikan sinar matahari.
Aku rindu merasakan hangat sinarnya saat menunggu lampu merah yang lamanya seabad itu. Membuat sebagian tanganku yang tidak tertutup kain lebih hitam. Saat pagi tak secerah biasanya, jangan pernah pikir matahari mengingkari janjinya untuk datang setiap pagi.

Tunggu.
Memangnya matahari pernah berjanji?
Meskipun langit seharian kelabu, matahari tetap bersinar. Di balik awan gelap itu.
Tidak peduli apakah panas dan sinarnya sampai ke bumi, matahari tetap berada di sana.

Sekarang aku bilang rindu, nanti mengeluh kepanasan.

Bukanku tak inginkan hujan. Hanya saja aku merindukan matahari.


Tuesday, 27 September 2016

Jera-WHAT?

KATANYA munculnya jerawat adalah salah satu ciri-ciri seseorang yang sedang mengalami pubertas. Bukan katanya sih itu ada di buku pelajaran biologi. Wkwk. 
Jadi kaya perubahan hormon gitu kan, muncul deh jerawat. Meskipun nggak semua mengalaminya. Kayaknya jerawat juga tergantung dari jenis kulit kita juga dan bagaimana kita menjaga kebersihan muka. 

"Jerawat itu tandanya orang hidup." Setidaknya itu yang Papi bilang waktu tahu anaknya sedih karena jerawatan banyak banget. Ya.
Aku nggak ingat kapan dan di mana jerawat pertama aku muncul. Ya.. nggak penting juga, sih.
TAPI yang jelas pas masuk SMP aku mulai jerawatan. Waktu SD kelas 6 kayaknya belum deh. Apa udah, ya? Aku nggak inget. Kayaknya waktu SD  aku nggak pernah ribet mikirin muka aku gimana. Ga pernah ngaca lama-lama. Ga pernah bawa sisir, parfum, dan kaca ke sekolah kaya temen-temen yang lain. Like literally bodo amat. wkwk. #siSasa

OH IYAA! Aku ingat!
Jadi, waktu baru masuk SMP tuh aku beli pelembab yang kata iklannya bisa mencerahkan wajah. Ya aku pake lah. Siapa sih yang nggak mau wajahnya cerah? 
Eh, tapi malah jadi jerawatan banyakkk banget. Banyaknya tuh parah. P-A-R-A-H. Aku ada tuh foto waktu aku lagi jerawatan yang udah kaya helm full face. Aku nggak tahu harus gimana soalnya kalau ke dokter kan mahal. 

Banyaknya jerawat yang ada nggak membuat aku kehilangan percaya diri. Ya aku biasa aja kaya yaudahlah, gitu. Nggak ada yang namanya skin care, apalagi perawatan.
Paling cuma beli sabun cuci muka aja. Itu pun ganti-ganti karena merasa nggak ada yang cocok. Baru pas SMA aku mulai sedih. Kata orang, kalau ada jerawat biarin aja nanti juga ilang sendiri. MANA!? Ga ilang-ilang. T^T

Meskipun selama itu aku terlihat cuek, di lubuk hati yang paling dalam aku sedih. Aku juga pengen punya muka mulus kaya artis Korea. Mulailah aku maskeran, bersihin muka hampir tiap malam sebelum tidur. Tapi hilang satu muncul satu (untung nggak seribu).
Gitu aja terus sampai berapa kali ganti sabun cuci muka nyari yang cocok. Beli pelembab yang katanya bisa menyamarkan bekas jerawat, segala macem. "Kalau jerawatan jangan pake poni. Rambut kan kotor kena debu juga." Oke, aku cobain panjangin poni tapi nggak ngaruh juga. 

Punya wajah bersih itu penting. Banget.

Apalagi (dulu) aku pengen jadi pramugari. Ya, pramugari adalah cita-cita aku yang nggak kesampaian. Aku gagal ke tahap selanjutnya karena aku jerawatan. Waktu itu aku disuruh perawatan sama yang nilainya. Serius. Beliau bilang gini, "Coba poninya ke atasin. Kamu jerawatnya lumayan banyak ya. Coba perawatan dulu deh." Katanya sambil senyum. 
Beberapa hari kemudian pas lihat pengumuman kandidat yang lolos, nama aku nggak ada dong.
Kebayang nggak rasanya gimana kalau jadi aku waktu itu? 
Aku sempat berandai-andai, coba aku diobatin dari dulu. Coba aku rawat muka yang bener dari dulu.
Tapi terlepas dari itu semua mungkin emang harus ga lolos aja.

Jadi sebenarnya buat dede dede yang lagi puber dan mulai jerawatan, jangan berpikir "Ah, nanti juga ilang sendiri." gitu. Iya, sih, mungkin nanti kalau kalian sudah beranjak dewasa jerawatnya ilang. Tapi gimana kalau nggak? Hayoo.
Selama masih bisa diobatin, obatin aja. Harus rajin rawat muka apalagi masih muda. Hehehehe. Lagian, kalau punya muka bersih yang seneng kan kita-kita juga. #selfreminder
Tapi jangan sampai galau-galau amat cuma karena jerawat, ya.

Waktu awal kuliah aku bisa dibilang nggak merawat wajah aku dengan baik. Bahkan nggak peduli mau aku ke kampus kucel, kusam, mengkilap atau berminyak gitu muka karena seharian habis kerja. Tiba-tiba ada temen cowo aku dia bilang gini, "Sa, kamu suka cuci muka, nggak?"
"Nggak. Kenapa?" Jawabku.
"Cobain deh sebelum ke kampus cuci muka gitu pake sabun. Biar lebih cerah."
Cowo loh yang ngomong. Kebayang nggak sih muka aku se-kucel apa sampai ada cowo yang bilang gitu? Yap. Dia bilang dia aja suka cuci muka dulu pake sabun muka dan sabunnya selalu dibawa-bawa. Lah aku? 
Kok lo kalah sama cowo, sih, Sa?

-kemudian hening-

"Gimana orang mau tertarik sama lo kalau lo sendiri nggak ngerawat diri?"
"Ah, kalau dia tulus dia ga akan liat kita dari penampilan kok, tapi hati kita."
You know what? GAK MUNGKIN!
Mau kaya apapun, hal pertama yang terlihat dan pasti dilihat adalah penampilan. 
"Tapi orang yang baik itu pasti akan sayang sama kita gimanapun keadaan kita. Mau kita jerawatan kek apa kek, kalau dia baik dia pasti bakal tetap sayang sama kita dan nerima kita apa adanya."
Hm. Terus kalau dia cinta apa danya, lo mau gitu-gitu aja gitu? Nggak, kan? :)
Komentar "Sasa ih kamu jerawatnya makin banyak.", "Sasa itu jerawat yaampun." yang mungkin mereka yang lihat tuh kaya jijik gitu ya liat muka aku(?)
ya komentar kaya gitu mau nggak mau aku dapet dari orang-orang di sekitar aku. BT ga kalau ada yang komentar gitu? Iya. Tapi emang kenyataannya gitu mau gimana.

Dalam hal ini aku juga pernah gagal berkali-kali (sekarang juga belum berhasil banget tapi much better lah). Aku pernah beli obat di apotek, beli sabun muka mahal yang katanya bagus, beli apalah segala macem buat muka tapi kaya nggak ada hasilnya gitu. Seiring berjalannya waktu dan berkat dukungan pacar #ehem aku terus berusaha dan semangat buat lebih merawat diri aku. Kalau lihat foto tahun lalu, jerawat aku banyaaaak banget. Ya, kelihatan beda lah sama sekarang. Alhamdulillah. 

Sekarang, teman-teman komentarnya kaya gini, "Sa, kamu sekarang jadi beda, ya, semenjak punya pacar. Jadi lebih cerah." wahahaha. Seneng ga dengernya? Seneng.
Terima kasih selalu semangatin aku dengan caramu sendiri. Saat banyak perempuan yang lebih 'terawat' mukanya di luar sana, tapi dia masih tetap sama aku. Berusaha ngasih semangat dan bantu aku biar bisa punya muka yang bersih. I think that's a true love is.  #AkhirnyaBaper :)

Saturday, 24 September 2016

My O-cooking-tober List

Hulaaa!
Siapa nih yang diam-diam masih suka mengunjungi blog aku?
Kangen sama tulisan aku, yaaa? Hehe.
Ada banyak draft yang belum aku publish karena emang tulisannya ga belum ada yang beres. Huft.
Dan malah tulisan ini yang di post karena tadi kepikiran ini gitu aja.

Waktu aku lagi iris-iris bawang buat masak sarden, tiba-tiba aku sadar selama jadi anak kost aku bisa dibilang nggak rajin-rajin banget masak. Nggak rajin-rajin banget = Malas.
Lihat aku. Kemampuan masak aku masih jauh diatas standard istri idaman.
Padahal di tempat aku itu ada dapur, kulkas, dan semuanya.
Kenapa nggak aku manfaatkan fasilitas ini buat KONSISTEN masak?

Kalau mau cari alasan, aku pasti bakal bilang "Boro-boro masak. Pulang kerja aku harus kuliah. Pulang kuliah itu malem aku udah cape banget." :( #Payah
Tapi asli emang cape, sih.
'Cape' sering kali banget menjadi excuse aku buat nggak masak.
Terus aku pikir, gimana nanti kalau suatu saat aku jadi ibu rumah tangga?
Masih mau pake alasan 'cape'?

Kebayang nggak, sih, misalnya pas suami kamu pulang kerja terus nanya:
"Sayang, aku lapar, nih. Hari ini kamu masak apa?"
"Hmm.. Maaf, hari ini aku nggak masak soalnya aku cape."
Your husband must be like, "What The Hehh!!!?"
Nggak. Nggak. Nggak. Aku  nggak boleh kaya gitu. Aku harus jadi istri yang profesional. #Hazeg #intermezo

So, kalau biasanya aku cuma masak telur dadar, mi kornet, omelet mi, sarden, goreng ayam, nasi goreng, dan menu sederhana lainnya. Sekarang aku harus bisa bikin sayur dan menu makanan yang levelnya lebih tinggi. Selain hemat, skill masak aku jelas akan terasah.

Aku suka nonton tutorial masak, video-video resep gitu tapi nonton doang, udah. Jarang banget ada yang langsung aku coba bikin. Nah, nanti sepertinya aku akan update masakan apa aja yang udah aku buat lengkap dengan review dan resepnya. Biar aku rajin dan jadi pinter masak terus masuk kriteria calon istri goals deh. wkwkwk. #ApaanLagi

Minggu depan aku mau coba olah buncis. Cukup menantang karena kan harus potong miring-miring gitu kan. Masih bingung nih antara bikin sayur buncis yang pake kuah apa ditumis yaaa?

Stay Tune! 

Monday, 19 September 2016

My Qualovety Time: Train to Busan

It was raining on saturday night and it has been a very loooong time no hang out in saturday night with him. Yeah, as I remember.
I don't mind.
We don't have to do window shopping -even true shopping-, watching movies in theater, have a fancy dinner like EVERY saturday night. Since (for me) the most important thing is being with him. Sounds cheesy but that's it.
After had dinner at warteg, actually the place is not like warteg at all so let's say that is mini restaurant, he offered me to hang out but I refuse it.

"Do you want to watch this?" He showed me his Macbook, Train to Busan movie poster.
"Busan? It is Korean movies, isn't it?"
Kinda don't believe it since he doesn't like both Korean movies and drama. I was like 'What's happen with you? Wowowoo, seems like 8th miracle in the world is happen tonight!!' 
"Don't get me wrong, it's horror." He said.
"........"
((It's horror))
Okay.
Forget about 8th miracle in the world. It's not gonna happen anyway. wkwk.


So, what's the first thing that pop up on your head when you hear Busan?
Bussan with double S
Some people might imagine it.
Hey, where's the train? Why there are only motorcycles??
#Intermezo

Okay back to our topic.
You know what? I don't really like horror and action movies.
Caution! I have unexpected scream whenever I watch it. And just like what I always said, I can watch it as long as I'm with him. And my FDNR friends. Only. So, let's watch ittt!!
Btw, I watched it with him and his sister. It was very fun. XDb

Anyeong Haseyoo ^^, 

Train to Busan Auto Finance

Don't worry, I will not write any spoiler here but if only I didn't know it is horror maybe I would not close my eyes from the very first time and hide behind his back for almost 2 hours. :P
The opening is quite scary for me. I mean, this movies is TOTALLY scary from the beginning. wkwkwk. Cool.
There are many things we can learn from this movie.
But I was so tired watching this kind of movie. It feels like you've had -never ending- run. I even couldn't take my breath and I cried for some scenes. 
Actually, I don't want him to see me cry just because the movie but I couldn't hold my tears down. T^T  #ngeDramaDetected

Trust me, Cooling Down is Needed
 
Just like ride a roller coaster, I need a cooling down after watch this movie. I really need it.
So I asked him to watch anything in order to make me relax. *Take a deep breath*
"How about We Bare Bears baby?" that's my favorite one. x)
"Have you watch it?"
"Ya."
"Hmm, let's find film that neither of us never watch before." He kept scrolling.
"Hagemaru! Let's watch Hagemaruuu!"

Hagemaruuu. Haaaai!

We watched it on youtube and it made me laugh after all and I feel much better. :)
That was my qualovety time with him last saturday night.
Busan Gwangandaegyo Bridge
and If someday I visit South Korea with you, I dare us to go to Busan - by train!

Wednesday, 3 August 2016

Campus Life

Campus Life. 
Judulnya kaya cover buku tulis ukuran Big Boss gitu nggak sih? Hmm..
Hmm.. 
Kalau ada yang nanya, "Sasa, sekarang semester berapa?"
dan aku jawab, "Semester tujuh enam."
Pasti tanggapan selanjutnya adalah, "Wah, nggak kerasa, ya, sebentar lagi."
.
(( Nggak kerasa ))
Nggak kerasa katanya!? Yaiya orang yang ngerasain aku. wkwk. 
Nggak tahu sih tapi buat aku perkuliahan ini terasa banget lamanya. Kata orang, kalau kamu merasa waktu berjalan lambat, itu berarti kamu nggak enjoy sama apa yang kamu jalani. Benarkah begitu?
Bertanyalah aku pada diriku sendiri, "Emang kamu kuliah nggak enjoy, Sa?"
Aku pun menjawab, "Enjoy, kok. Malah aku senang dan bersyukur masih bisa kuliah. Meskipun iya, kadang aku suka malas dan merasa lelah. Habis kerja tuh rasanya ingin langsung pulang aja."
Trust me, being an employee and student in the same time is sooo tired.
Buat kalian yang punya kesempatan untuk fokus kuliah dan menjadi mahasiswa seutuhnya, bersyukurlah. :D
Sibuk karena banyak tugas, ini itu dan bla bla bla? Semangat!
Betapa beruntungnya kalian yang punya waktu khusus dan fokus buat kuliah aja. Waktu belajar -dan bermain- kalian lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang kuliah sambil kerja. Terkadang itu yang aku iri-kan. ((iri-kan)). Ya intinya kadang aku iri sama mereka.
So, let's get shit  this done!

Percaya atau tidak, ini adalah foto lengkap pertama setelah sekian tahun kita bersama.
Cool!
Kalimatnya berirama sekali. ma-ma-ma.
Dari semester satu sampai sekarang, 8 orang memutuskan untuk resign dengan alasannya masing-masing. Ada yang menikah, ingin fokus dengan usahanya, pindah kampus, mendapat pekerjaan yang lebih baik, dan lain-lain.
Banyak yang berpikir bahwa kerja sambil kuliah itu adalah sesuatu yang keren dan enak(?). Enak ya masih kuliah tapi udah kerja. Keren karena udah kerja tapi masih kuliah.
Iya.

"Kamu udah kerja, ngapain kuliah lagi?"

Apa lagi sih yang dicari? Toh kamu udah punya penghasilan sendiri.
When you already have 'steady job'  it doesn't mean  everything is done.
Awal aku masuk kuliah, aku salut sama mereka yang udah punya anak tapi masih semangat buat kuliah. Tujuan
Aku iseng nanya ke beberapa temanku, "Kamu kuliah buat apa, sih?"
dan mereka yang kebanyakan laki-laki itu menjawab, "Buat masa depan, lah. Kalau aku nggak kuliah, nanti anak istri aku gimana?"
Great.
Kalau hanya sekedar setelah lulus langsung kerja, semua orang juga bisa. Pada kenyataannya, beberapa perusahaan membedakan salary pegawai dilihat dari education background. Gaji seorang lulusan SMA akan berbeda dengan orang yang lulusan D3 atau S1. Tentu saja mereka yang lulusan D3 atau S1 akan mendapat gaji yang lebih besar walaupun misalnya yang lulusan SMA itu kerjaannya lebih banyak.
Sebenarnya itu tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan, sih. Ada perusahaan yang melihat kualitas karyawannya dari education background-nya, ada juga perusahaan yang tidak mempermasalahkan gelar tetapi lebih mementingkan skill yang dimiliki pegawainya.

Aku pernah bekerja di perusahaan yang tidak mementingkan gelar. Aku (lulusan SMA) mendapat gaji yang sama dengan mereka yang lulusan S1. Enak banget #siSasa. Jadi di kantor, aku sering dapat sindiran sinis dari mereka yang merasa superior hanya karena mereka 'bergelar'. Disindir-sindir itu nggak enak, guys. Sekuat apapun kamu mengabaikannya, tetap aja kedengaran. Kaya kata-kata "Lo yang cuma lulusan SMA tuh nggak pantes dapet gaji sekian." terngiang-ngiang terus gitu. Ganggu banget.
Dari situ aku janji sama diri aku kalau nanti aku bisa kuliah lagi dan aku punya gelar, aku nggak akan kaya gitu. Nggak akan. Ini mungkin bisa jadi pelajaran juga, kalau sekiranya kamu merasa kebijakan perusahaan soal salary itu nggak adil, bicarakanlah sama manajer atau si pembuat kebijakan. Bukan malah menyalahkan orang lain atas ketidakadilan yang kamu rasakan.

Aku juga pernah bekerja di perusahaan yang mempertimbangkan salary berdasarkan education background pegawainya. Jadi, waktu ditanya soal salary, aku sebutin nominal yang aku mau kan, terus dijawabnya, "Karena kamu lulusan SMA, jadi salary-nya sekian."
and I was like, "......."
((Karena kamu lulusan SMA))
Aku sedih banget kaya sertifikat dan pengalaman kerja aku yang sebelumnya ternyata nggak bisa jadi bahan pertimbangan. Kasarnya mau selama apapun pengalaman kerja kamu, kalau kamu lulusan SMA, then you deserve what High School graduate deserve. Aku nggak bisa protes apa-apa karena meskipun sekarang aku lagi kuliah, tetap aja aku itu lulusan SMA.

Lagi, pesan buat kalian yang setelah lulus SMA punya kesempatan buat melanjutkan pendidikannya, take it! :)



"Ngapain kuliah lagi? ujung-ujungnya juga kerja." 
Pertanyaan ini lucu, ya?
Seakan ada yang salah kalau pada akhirnya lulusan sarjana itu kerja. Meskipun aku sendiri nggak mau selamanya kerja sama orang. Tapi nggak ada yang salah kok kalau udah lulus terus kerja. Apalagi dapat kerjaan yang sesuai dengan passion kita terus salary-nya juga sesuai. Why not?
Seperti yang dosen aku pernah bilang, ada dua tipe orang:
Pertama, orang yang nggak bisa kerja sama orang lain. Dia pasti pengen punya usaha sendiri.
Kedua, orang yang bisanya kerja di perusahaan. Jadi dia emang suka kerja sama orang. Gitu.

Aku?
Ngapain kuliah lagi?
Karena aku pengen mengubah hidup aku juga keluarga aku.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri  mereka." QS 13:11
Aku nggak bisa terus-terusan kerja, nungguin tanggal gajian, bayar keperluan bulanan, ngirit buat 'bertahan hidup' (read: makan), kehabisan uang di akhir bulan, dan kembali nunggu tanggal gajian.  Gitu aja terus.
Aku juga pengen beli ini, beli itu. Makan yang enak dan lucu-lucu, jalan-jalan ke sana, ke sini. Beliin keluarga aku itu, ini. Ingin ini ingin itu banyak sekali kaya Nobita.
So, yeah. Ada banyak cara buat bikin itu jadi kenyataan salah satunya dengan kuliah.
Kita nggak menampik selain menuntut ilmu, tujuan kita kuliah lagi ya untuk dapat gelar sarjana, wisuda. Dengan begitu kita bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dengan salary yang lebih tinggi.
Gelar aja nggak cukup buat mengubah hidup. Kita butuh skill apapun itu yang sekarang semuanya bisa kita pelajari kapan aja, di mana aja.
Aku dan teman-teman lagi berjuang buat mencapai itu semua. Di foto ini, jarak umur kita beda-beda, tapi kita bisa kompak dan jadi satu. Ada yang udah punya anak, lagi hamil, dan masih jomblo(?).wkwk. Pokoknya semua bersatu. saling ngasih support,

Semangat!

Dua Puluh Tahun

Tenang, kali ini kita tidak akan bertemu aku 20 tahun lalu. Haha. Dua puluh tahun adalah alasanku 'menolak' orang yang pertama kali ...